SEMANGAT: Pelatih Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, menyatakan kesiapannya bermain dimanapun. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih Arema FC Marcos Santos menegaskan kesiapan penuh timnya, untuk menghadapi Persebaya Surabaya, pada laga Semifinal Piala Presiden 2026, yang secara mendadak dipindahkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada Selasa (4/8/2026), dengan mengusung optimisme tinggi usai meraih dua kemenangan di fase grup.
Tensi sepak bola nasional mendadak mendidih. Empat raksasa bersiap baku hantam di babak semifinal Piala Presiden 2026. Ada Arema FC, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung.
Membayangkan keempat basis suporter raksasa itu bersinggungan saja, sudah bikin merinding. Karena itulah, panitia penyelenggara mengambil langkah jitu. Laga disterilkan. Digeser ke medan netral.
Palu keputusan diketuk langsung oleh Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, di Balai Kota Surabaya, Minggu (2/8/2026) sore. Hasilnya: seluruh laga semifinal dan final diboyong ke Pulau Dewata, tepatnya di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.
Lantas, apakah perpindahan mendadak dari Bandung ke Bali ini merusak ritme Singo Edan? Sama sekali tidak.
Bagi Arema FC, rumput di Bandung maupun di Gianyar sama hijaunya. Pelatih Kepala Arema FC, Marcos Santos, tak mau anak asuhnya cengeng soal urusan lokasi. Mentalitas Singo Edan sudah kadung terbentuk. Fokus mereka hanya satu: Persebaya Surabaya.
“Di mana pun tempatnya, kami siap! Kami harus memainkan pertandingan semifinal ini karena kami telah berjuang keras merebut tiketnya. Ini bukan sekadar pertandingan biasa, ini derbi terbesar di Indonesia,” tegas Marcos Santos dengan mata menyala.
Bagi nakhoda asal Brasil itu, modal Singo Edan datang ke Bali sangatlah besar. Dua kemenangan meyakinkan di fase grup sebelumnya menjadi suntikan moril yang tak ternilai. Marcos Santos sadar, lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan. Persebaya punya sejarah panjang rivalitas dengan Arema.
“Kami datang ke semifinal dengan kondisi sangat kuat. Tentu kami menaruh hormat kepada Persebaya. Tetapi di lapangan, kami akan memberikan perlawanan maksimal. Kami harus ingat, Arema adalah tim pengoleksi gelar terbanyak di turnamen ini,” lanjutnya mengingatkan status ‘Raja Pramusim’ yang disandang Arema.
Sikap elegan juga ditunjukkan jajaran manajemen Arema FC. Di saat tim harus memutar otak mengatur ulang logistik penerbangan dalam waktu mepet, manajemen memilih patuh pada regulasi.
Head Public Relations & Marketing Communication Arema FC, Munif Wakid, menilai keputusan memindahkan laga Super Big Match (Arema vs Persebaya dan Persib vs Persija) ke Bali sangatlah rasional.
“Pada dasarnya kami patuh. Kami ikuti saja keputusan dan venue yang ditetapkan panitia. Fokus terpenting kami saat ini adalah menyiapkan diri, baik secara fisik maupun mental, untuk tembus ke final,” ujar Munif kalem.
Munif menyadari, menempatkan empat tim dengan rivalitas tingkat tinggi di satu lokasi, membutuhkan perhitungan keamanan yang super ketat. Stadion Kapten I Wayan Dipta dinilai memiliki standar pengamanan, kenyamanan, dan keselamatan yang sangat mumpuni.
Hingga Minggu (2/8/2026), rombongan Dendi Santoso dan kawan-kawan masih berada di Bandung. Mereka menolak bersantai. Sesi latihan tetap digenjot maksimal. Taktik dimatangkan. Kebugaran otot dijaga.
Baru pada Senin (3/8/2026) hari ini, armada Singo Edan mengemasi kopernya. Meninggalkan dinginnya Kota Kembang menuju hangatnya Pulau Dewata.
Di Bali, Selasa (4/8/2026) besok, sebuah pertaruhan harga diri akan digelar. Ini bukan lagi sekadar perebutan tiket final Piala Presiden 2026, tapi juga pembuktian siapa penguasa sejati sepak bola Jawa Timur. (Ra Indrata)




