MALANG POST – Dinas Pariwisata Kota Batu mencatat kunjungan wisatawan mencapai 9,17 juta orang per 7 November 2026, Minggu (8/11/2026), atau 87 persen dari target 10,53 juta, serta mengandalkan inovasi tiket bundling guna menyiasati tekanan ekonomi dan ancaman bencana hidrometeorologi.
Kunjungan wisatawan ke Kota Batu terus bergerak mendekati target tahunan. Hingga 7 November 2026, jumlah kunjungan tercatat mencapai 9.173.984 orang. Meski sudah menembus angka 9 juta, Pemkot Batu masih mengejar sekitar 1,36 juta kunjungan untuk memenuhi target tahun ini.
Berdasarkan data sementara Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, capaian tersebut setara dengan sekitar 87 persen dari target tahunan sebanyak 10.539.105 wisatawan. Namun, data yang masuk baru mencapai 60,83 persen sehingga angka kunjungan masih berpotensi bertambah.
Jika dibandingkan dengan periode Januari hingga Oktober 2025, jumlah kunjungan yang tercatat saat itu mencapai 7.922.025 orang dengan kelengkapan data 98,98 persen. Sementara itu, realisasi kunjungan wisatawan sepanjang 2025 tercatat sebanyak 10.085.268 orang.
Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, menegaskan bahwa capaian sementara tahun ini belum bisa dianggap sebagai angka final. Sebab, laporan kunjungan dari pengelola destinasi wisata yang telah masuk baru mencapai 60,83 persen.
”Artinya, masih ada laporan yang belum terhimpun dan berpotensi memengaruhi angka akhir kunjungan wisatawan. Pemutakhiran data menjadi salah satu pekerjaan penting agar capaian pariwisata dapat terukur secara akurat,” ujar Onny, Minggu (8/11/2026).

RAMAI: Kunjungan wisatawan ke Kota Batu hingga November 2026 sudah tembus 9,17 juta orang. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Di sisi lain, upaya mengejar target kunjungan tahun ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Pemkot Batu menargetkan pertumbuhan wisatawan sebesar 4,5 persen dibandingkan dengan realisasi 2025. Namun, tekanan daya beli masyarakat dan kenaikan biaya perjalanan berpotensi memengaruhi minat masyarakat untuk berlibur.
“Tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya perjalanan berpotensi memengaruhi keputusan wisatawan untuk berlibur, termasuk frekuensi perjalanan dan besaran pengeluaran selama berada di Kota Batu,” ujar Onny.
Selain faktor ekonomi, cuaca ekstrem dan potensi bencana juga menjadi perhatian. Hujan lebat hingga ancaman tanah longsor berisiko mengganggu akses menuju sejumlah destinasi wisata. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kenyamanan perjalanan, melainkan juga berpotensi memicu pembatalan kunjungan.
Persaingan dengan daerah wisata lain turut menjadi tantangan. Munculnya atraksi baru serta penawaran paket wisata yang lebih kompetitif bisa mengalihkan minat wisatawan dari Kota Batu.
Oleh karena itu, pengembangan daya tarik destinasi dan peningkatan kualitas pelayanan dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing pariwisata. Terlebih, wisatawan lokal masih menjadi salah satu segmen pasar yang dominan dan cenderung lebih sensitif terhadap harga.
Di tengah kondisi tersebut, Disparta Kota Batu menyambut positif terobosan program paket bundel (bundling) tiket antardestinasi wisata. Skema pembelian tiket gabungan ini dinilai bisa menjadi alternatif untuk memberikan pengalaman berwisata yang lebih terjangkau sekaligus menarik wisatawan mengunjungi lebih dari satu destinasi.
Program bundling juga dinilai menawarkan nilai lebih bagi wisatawan. Dengan biaya yang lebih efisien, pengunjung berpeluang memperpanjang durasi tinggal (length of stay) dan meningkatkan aktivitas wisata selama berada di Kota Batu.
”Inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu strategi untuk menjaga pergerakan wisatawan di tengah tekanan daya beli masyarakat sepanjang 2026,” imbuhnya.
Dengan sisa waktu hingga akhir tahun, berbagai upaya tersebut akan menentukan capaian pariwisata Kota Batu. Menurut Onny, target 10,53 juta kunjungan masih terbuka untuk dikejar, bergantung pada pergerakan wisatawan sekaligus kelengkapan laporan dari seluruh pengelola destinasi. (Ananto Wibowo)




