Oleh: Dahlan Iskan
Banyak sejarah dibuat Jokowi—termasuk kemarin: kali pertama ada mantan presiden hadir di persidangan pidana di Indonesia. Yakni di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Jokowi duduk di sidang sebagai saksi-pelapor dengan terdakwa Roy Suryo. Tuduhan untuk ahli telematika dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga itu adalah perbuatan fitnah dan pencemaran nama baik—menuduh ijazah S-1 Jokowi palsu.
Pukul 07.00 WIB kemarin, sudah banyak pendukung Jokowi yang datang ke pengadilan. Sudah mulai pula ada siaran langsung (live streaming) dari lokasi sekitar pengadilan: menggambarkan ramainya jalan menuju pengadilan.
Para pendukung Jokowi terus berdatangan. Terkoordinasi. Ada mobil komando berpengeras suara besar. Banyak poster dukungan untuk Jokowi. Banyak tenda baru dipasang di pinggir jalan. Itulah posko per daerah asal pendukung Jokowi.
Kader-kader PSI datang dari berbagai kabupaten. Terlihat PSI jadi penggeraknya. Atau Projo—Pro Jokowi. Kian siang kian banyak pendukung yang datang—kian banyak juga kanal yang melakukan siaran langsung.
Mobil-mobil polisi juga berdatangan. Sangat banyak. Polisi melakukan pengamanan tiga lapis agar tidak semua pendukung merangsek ke depan. Polisi terlihat berhasil mengendalikan massa. Sejak beberapa hari sebelumnya memang sudah ada kabar: 6.000 kader partai akan datang dari berbagai daerah untuk mendukung Jokowi. Polisi punya waktu untuk menyiapkan pengamanan.
Sambil menunggu kedatangan Jokowi, mobil komando dipakai orasi dan memutar musik. Lagu yang diunggulkan pada masa penantian itu adalah “Ojo Dibanding-bandingke”—suara dari penyanyi aslinya. Itu sekaligus mengingatkan masa kejayaan Jokowi: menjadikan upacara 17 Agustus di Istana sebagai pesta rakyat—termasuk joget-joget dengan lagu semidangdut itu.
Momentum Jokowi hadir di pengadilan ini kelihatannya dipakai sekalian untuk unjuk kekuatan (show of force): Jokowi masih begitu dicintai pendukungnya. Juga untuk konsolidasi PSI—seberapa besar bisa mengerahkan massa.

Jokowi tunjukan ijazah aslinya di dalam persidangan. (Foto: Disway)
Pukul 08.30 WIB, Jokowi tiba di pengadilan. Dielu-elukan. Disanjung-sanjung. Jokowi datang didampingi dua anaknya: Kaesang Pangarep dan anak perempuannya, Kahiyang Ayu.
Jokowi memakai baju batik cokelat muda dan berkopiah. Gaya jalannya, raut wajahnya, dan senyum dinginnya mengesankan seperti gaya saat ia masih menjadi penguasa.
Di sidang itulah, untuk kali pertama Jokowi memperlihatkan ijazah aslinya dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Pendukungnya spontan berhore sampai hakim memberikan peringatan.
Jokowi rupanya lupa bahwa ia sedang di persidangan—tidak boleh mengelukan pengunjung sidang. Setelah menunjukkan ijazah kepada hakim, Jokowi memang balik badan, mengangkat kedua tangannya yang membentangkan ijazah, lalu menunjukkan ijazah itu kepada pengunjung—disambut meriah oleh pengunjung.
Saat Jokowi menunjukkan ijazah, terdakwa Roy Suryo berada di dekat Jokowi. Roy ikut menghadap ke pengunjung. Ia tertawa lebar bernada sinis. Seolah-olah Roy mendapat durian runtuh: ijazah asli yang ditunggu akhirnya dibawa dan ditunjukkan di persidangan. “Palsu,” celetuk Suryo lantas tertawa lagi.
Roy—juga masyarakat luas—sudah lama meminta agar Jokowi mau memperlihatkan ijazah aslinya. Biar heboh ijazah segera selesai. Jokowi tidak pernah mau menunjukkannya. Baru di pengadilan ini ijazah itu ditunjukkan.
Namun, Roy Suryo seperti tidak melihat kebenaran. Ia justru kelihatan seperti menyimpan “granat”—untuk diledakkan pada saatnya. Yakni saat diberi kesempatan bertanya.
Ijazah yang ditunjukkan di pengadilan itu, kata Roy, berbeda dengan yang pernah ditunjukkan polisi. Juga berbeda dengan yang ditunjukkan Jokowi kepada beberapa wartawan di kediamannya. Maka, pengacara Roy meminta agar ijazah itu diperiksa di laboratorium forensik independen. Jokowi keberatan.
Sepanjang pagi kemarin, kesempatan bertanya memang hanya diberikan kepada tim jaksa. Jokowi menjawab sangat lancar dan dingin—meski nadanya Anda sudah tahu: lirih dan pelan.
Jokowi secara rinci menceritakan mulai dari proses mendaftar, kuliah, wisuda, dan seterusnya. Termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama tiga bulan di desa.
“Apakah ketika muda, saksi punya kumis dan pakai kacamata?” tanya jaksa sambil memperlihatkan foto berkumis di ijazahnya.
“Iya. Saya berkumis. Tipis. Dan berkacamata,” jawab Jokowi.
Jaksa lantas menunjukkan foto-foto masa muda Jokowi: semua berkumis dan berkacamata. Jokowi membenarkan bahwa itu foto dirinya.
“Yang ini siapa?” tanya jaksa sambil menunjukkan foto bersama seorang wanita.
“Itu istri saya. Statusnya masih calon istri saat itu,” jawab Jokowi.
Rupanya, setelah istirahat makan siang, siaran langsung dari dalam ruang sidang dilarang. Walhasil, ketika sidang dilanjutkan dan giliran pengacara/terdakwa mengajukan pertanyaan, tidak ada lagi siaran langsung.
Udara bulan November di luar persidangan sangat panas. Cuaca sangat menyiksa untuk seluruh Jawa. Sidang kemarin berlangsung sampai sore. Sepanjang itu pula para pendukung Jokowi kepanasan.
Di bidang politik, cuaca November juga sangat panas di Jakarta. Ribuan personel Marinir didatangkan ke Jakarta. Pertama, ada Jokowi dan ribuan pendukungnya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Kedua, penyadapan telepon Presiden Prabowo berkembang ke tuduhan makar. Artinya: ada upaya untuk melumpuhkan Presiden Prabowo.
Bisa jadi pencarian dalang penyadapan itu akan membawa implikasi sangat luas.
Maka, di tengah heboh berita penyadapan, datangnya ribuan massa pendukung itu seperti dukungan moral yang nyata untuk Jokowi—pun dalam menghadapi kemungkinan perkara penyadapan itu menyenggol namanya.
Sejarah baru—mantan presiden hadir di pengadilan—sudah tertoreh lancar. Pengerahan massa PSI juga sudah selesai. Satu ketegangan sudah lewat. Dengan selamat. Masih ada satu ketegangan lagi di depan: penyadapan dengan motif makar itu.
Kita masih menunggu: rencana makarnya seperti apa. Dilacakkah lokasi presiden dan begitu memungkinkan dibunuh? Atau presiden dibuat tidak bisa menjalankan tugas hingga terpaksa menyerahkan kekuasaan kepada wakil? Atau memaksa presiden turun karena dibongkar hasil sadapan yang menggambarkan telah terjadi pelanggaran sumpah atau pelanggaran konstitusi?
Kata “makar” memang terlalu luas. Bisa saja bukan salah satu dari tiga kemungkinan itu.
Banyaknya penambahan tentara di Jakarta memang pertanda ada yang perlu dihadapi. (Dahlan Iskan)




