KECEWA: Gustavo Franca yang baru turun di babak kedua, tidak mampu berbuat banyak, untuk menyelamatkan Arema FC dari kekalahan. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Arema FC dipaksa menyerah 0-3 dari tuan rumah Madura United, akibat kelengahan barisan pertahanan di masa injury time, pada laga pekan kesembilan Super League 2026/2027, di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, Jumat (06/11/2026) malam.
Ketahanan barisan pertahanan Arema FC runtuh secara mengenaskan, di markas Laskar Sape Kerrab.
Mengarungi laga pekan kesembilan Super League 2026/2027 pada Jumat (6/11/2026) malam, skuat Singo Edan mengusung target minimal membawa pulang satu poin dari Pamekasan.
Pelatih interim Arema FC, Andre Caldas, bahkan merombak total pendekatan taktisnya, ketimbang laga-laga sebelumnya.
Caldas mematenkan skema ekstrem, dengan menumpuk lima pemain bertahan sekaligus di tembok belakang.
Strategi parkir armada ini, sejatinya berjalan sangat sukses sepanjang 44 menit awal babak pertama.
Madura United yang menguasai jalannya laga, dibuat frustrasi dan kesulitan membongkar kerapatan benteng pertahanan Singo Edan.
Namun, skenario aman yang disusun Caldas, hancur berantakan saat laga memasuki waktu tambahan (injury time) babak pertama.
Tandukan mematikan Jorge Ambrosio Mendonca memanfaatkan umpan sepak pojok di menit ke-45, sukses membobol gawang Adi Satryo.
Belum sempat para pemain Arema FC memulihkan fokus usai kebobolan, petaka susulan langsung datang dua menit kemudian.
Pada menit ke-45+2, penyerang Madura United Dimitar Georgiev Mitkov, melepaskan sepakan memutar cepat tanpa terkawal ketat dan lansung berhadapan dengan kiper.
Dalam tempo dua menit saja, papan skor berubah mencolok menjadi 2-0 untuk keunggulan tuan rumah sebelum jeda minum.
Lalai Pressing dan Skenario Terbuka
Memasuki babak kedua, Andre Caldas merespons ketertinggalan, dengan menginstruksikan anak asuhnya untuk tampil lebih keluar dan menyerang.
Perubahan gaya main tersebut, sempat memberikan angin segar bagi penyerangan Singo Edan.
Tekanan demi tekanan mulai merepotkan barisan belakang Madura United, yang dikawal Angga Saputro.
Arema FC bahkan mengantongi dua peluang emas, yang hampir memperkecil kedudukan.
Sayang, dua peluang matang tembakan pemain Arema FC, justru hanya membentur tiang dan mistar gawang.
Keasyikan melancarkan serangan di menit-menit akhir, membuat koordinasi pertahanan Arema FC kembali melonggar.
Para pemain belakang terjebak penyakit lama: ball watching alias sekadar menyaksikan pergerakan bola, tanpa mengawal pergerakan lawan (pressing).
Situasi ini dimanfaatkan secara dingin oleh penyerang sayap Madura United, Paulo Gali da Freitas.
Memanfaatkan bola muntah dari hasil tandungan Mitkov yang duel dengan Adi Satryo di area penalti pada menit ke-90+2, Gali Freitas yang berdiri bebas tanpa kawalan, tinggal menjebloskan bola ke gawang yang sudah kosong. Sekaligus mengunci kemenangan Madura United menjadi 3-0.
Tiga gol yang bersarang ke gawang Adi Satryo, seluruhnya lahir dari momen injury time akibat penurunan konsentrasi pemain.
Pencarian Solusi dan Catatan Evaluasi
Kekalahan telak ini menjadi hasil minus kedua secara beruntun bagi Arema FC di kompetisi Super League.
Sebelumnya, pada Sabtu (31/10/2026), Singo Edan juga dipukul kekalahan 1-3 oleh Bali United saat berlaga di Stadion Kanjuruhan.
Artinya, dalam dua pertandingan terakhir di kompetisi liga, gawang Arema FC telah kebobolan total enam gol dan hanya mampu mencetak satu gol balasan.
Dalam sesi konferensi pers usai pertandingan, Andre Caldas enggan bersembunyi di balik alasan mepetnya persiapan.
Caldas mengakui, keputusan memasang lima bek di awal laga, ditujukan untuk menjaga kerapatan tim agar tidak kembali kebobolan.
Ia secara terbuka mengambil tanggung jawab penuh, atas hasil buruk yang menimpa Arema FC di Pamekasan.
“Kami tahu laga ini akan berat. Rencananya adalah bertahan hingga menit 45 dan menahan imbang lawan. Tapi kebobolan dua gol dalam waktu dua menit di penghujung babak adalah hal yang tidak bisa diterima,” ujar Andre Caldas, Jumat (6/11/2026).
Caldas membeberkan, timnya kerap mengalami penyakit mental bertanding yang serupa.
Begitu gawang kebobolan satu gol, konsentrasi para pemain langsung runtuh dan memicu kebobolan gol kedua, dalam tempo sangat cepat.
Ia berjanji akan terus bekerja keras mengevaluasi komposisi serta sistem permainan selama jeda kompetisi dua pekan ke depan.
“Saya yang memilih pemain dan menentukan sistem, jadi saya bertanggung jawab penuh. Namun para pemain juga harus sadar, ketika kebobolan kita tidak boleh panik dan langsung terputus dari permainan,” pungkas pelatih 39 tahun ini. (Ra Indrata)




