Oleh: Dahlan Iskan
“Perang” asap dan gas akan selesai oleh waktu. “Perang” jalur internet agak ruwet: bisa merugikan Indonesia—termasuk di mata dunia.
Kabel fiber optic antara Australia–Singapura memang melewati Indonesia. Tepatnya lewat Selat Sunda. Kabel itu bermula di pantai barat Australia, Perth, digelar ke arah barat. Pendaratan pertamanya di pulau kecil di selatan Cianjur: Pulau Christmas, milik Australia. Dari situ belok ke utara ke arah Ujung Kulon, Banten. Kabelnya mampir landing di situ. Dari titik itulah Indonesia bisa mengaksesnya. Lalu bisa tersambung ke Australia, Singapura, Hong Kong, Jepang, dan Amerika—juga ke belahan mana pun di dunia. Tersambung juga ke jaringan fiber optic ke seluruh Indonesia.
Setelah mampir Banten, kabel itu lanjut ke Singapura, tersambung ke mana-mana. Jaringan Australia–Singapura itu disebut jalur ASC (Australia Singapore Cable). Sudah direncanakan sejak tahun 2010-an, tetapi baru mulai dikerjakan tahun 2013-an. Dalam lima tahun, proyek sepanjang 4.600 km itu selesai: mulai beroperasi 2018. Biayanya tidak semahal yang kita bayangkan: hanya 170 juta dolar. Itu berkat berkembangnya penggunaan fiber optic di seluruh dunia—membuat harganya kian murah, pun untuk ukuran penilaian Disway.
Di bidang teknologi, penggelaran kabel bawah laut juga terus maju. Ada kapal khusus yang spesialisasinya memang memasang kabel bawah laut. Bahkan, untuk pemasangan kabel listrik bawah laut antara Ternate–Tidore atau Batam–Bintan tidak perlu kapal besar.

Apakah Indonesia bisa “mengganggu” jaringan ASC itu?
Teoretis bisa. Bisa secara fisik—merusak kabelnya—bisa juga secara operasional. Tinggal kirim pasukan khusus ke pantai Banten.
Namun, itu berbahaya. Indonesia memang tidak takut siapa pun. Juga tidak bisa diancam-ancam. Tidak bisa ditekan.
Kalau Singapura serius akan mengganggu akses internet ke Indonesia, sebenarnya kita cukup mengelus dada: peradaban Singapura ternyata hanya serendah itu. Mungkin karena kayanya belum lama sehingga peradabannya masih primitif.
Tentu sebaiknya kita tidak membalas lewat cara yang sama—hanya akan memperlihatkan bahwa peradaban kita masih sama.
Perusuh Disway di Denmark, Bung Liang, sudah mengingatkan konsekuensi internasionalnya. Memang untuk kesengajaan mengganggu secara operasional, hukum internasionalnya belum sejelas kalau melakukan perusakan secara fisik. Namun, hasil dari tindakan membalas sikap Singapura itu tidak sepadan dengan rusaknya reputasi Indonesia di mata internasional.
Lebih baik Indonesia “membalas” dengan cara elegan: bagaimana bisa melakukan perdagangan dengan negara lain tanpa lewat jasa broker Singapura.

Kelihatannya pemerintah Presiden Prabowo sudah mengarah ke sana. Jangan sampai dikotori oleh langkah-langkah emosional.
Berdagang tanpa lewat broker Singapura pun tidak usah diniatkan untuk menghajar Singapura. Untuk apa. Hanya bikin sakit hati orang lain. Cukuplah niatnya suci: murni mencari nilai tambah sebanyak-banyaknya untuk kepentingan diri sendiri.
Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) bulan Mei lalu—tepat di Hari Kebangkitan Nasional—rasanya untuk itu: agar pemilik kebun kelapa sawit tidak bisa menjual minyak sawitnya ke perusahaan mereka sendiri di Singapura, lalu menjual ke negara lain dengan harga lebih mahal. Pun para pemilik tambang batu bara dan tambang lainnya.
Harusnya tinggal dua bulan lagi masa transisi PT DSI berakhir. Tanggal 1 Januari 2027 seluruh ekspor hasil bumi harus lewat DSI—kalau jadi.
Mungkin Singapura tidak hanya perlu bergegas membangun nuklir, tetapi juga membangun kabel bawah laut baru dari Singapura ke Australia lewat Filipina dan Papua Nugini. Semoga tidak ada konflik masa depan dengan Filipina. Atau dari Singapura, Sri Lanka, Australia. Jauh sekali, tetapi lebih aman—asal tidak ada konflik masa depan dengan Sri Lanka.
Jepang tidak punya persoalan itu. Antara Jepang–Amerika digelar banyak sekali kabel bawah laut—melewati Samudra Pasifik—mampir di Hawaii. Pun antara Korea Selatan–Amerika. Juga antara Australia–Amerika.
Bagi Singapura, ada gangguan di Banten pun sebenarnya bukan persoalan besar: Singapura–Australia bisa dialihkan lewat Hong Kong–Jepang–Hawaii–Australia. Atau kalau mau lebih dekat: Singapura, Filipina, Hawaii, Australia.
Jarak, bagi kabel optik sama sekali bukan masalah.
Rukun ternyata lebih murah daripada tidak rukun. (Dahlan Iskan)




