MALANG POST – Akademisi Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Nungki Marlian Yuliadarwati, SSt.Ft., M.Kes., merancang instrumen skrining digital PANTAS di Malang, Selasa (27/10/2026), guna mendeteksi penurunan fungsi fisik, gangguan keseimbangan, serta risiko jatuh lansia secara praktis dan mandiri.
Akademisi Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Nungki Marlian Yuliadarwati, SSt.Ft., M.Kes., merancang instrumen skrining digital bernama PANTAS (Pemantauan Lansia Aktif, Sehat, dan Mandiri).
Inovasi yang mulai diperkenalkan prototipenya sejak Agustus 2026 di lingkungan UMM ini hadir untuk menjawab persoalan penurunan fungsi fisik lansia, seperti hilangnya keseimbangan dan penurunan kekuatan otot yang kerap tidak disadari sejak dini.
Melalui digitalisasi instrumen penilaian, PANTAS memungkinkan pemantauan kondisi kesehatan lansia dilakukan secara lebih praktis, terstruktur, dan mandiri dari mana saja.
PANTAS dirancang khusus untuk mendeteksi secara dini berbagai penurunan fungsi tubuh lansia, meliputi kemampuan bergerak, keseimbangan tubuh, risiko jatuh, fungsi kognitif, kualitas tidur, hingga tingkat aktivitas fisik.
Instrumen ini dibuat ramah pengguna (user friendly) agar tidak hanya dioperasikan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga oleh mahasiswa, kader posyandu, serta pendamping lansia (caregiver).
Nungki menjelaskan bahwa gagasan pengembangan PANTAS berawal dari pengalamannya di bidang fisioterapi geriatri yang menuntut adanya pemantauan kondisi lansia secara berkala.

Akademisi Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Nungki Marlian Yuliadarwati, SSt.Ft., M.Kes. (Foto: Istimewa)
Menurutnya, pasien lansia yang datang menjalani fisioterapi umumnya hanya menyampaikan keluhan yang sedang dirasakan, seperti nyeri lutut, nyeri bahu, kesulitan berdiri, atau mudah lelah.
Padahal, keluhan tersebut sering kali dipicu oleh persoalan lain yang belum disadari, termasuk penurunan massa otot (sarkopenia) dan gangguan keseimbangan.
“Lansia terkadang belum menyadari bahwa mereka memiliki masalah kesehatan tertentu. Mereka biasanya lebih banyak mengeluhkan nyeri, padahal terdapat indikasi lain di balik keluhan tersebut,” jelas Nungki, Selasa (27/10/2026).
Alur kerja PANTAS terbilang ringkas. Pengguna cukup mengisikan data dan instrumen penilaian sesuai dengan kondisi riil lansia melalui gawai.
Hasil pengisian tersebut kemudian diolah oleh sistem untuk mengidentifikasi aspek kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus, sekaligus menyajikan edukasi serta rekomendasi latihan yang sesuai.
Apabila ditemukan indikasi yang memerlukan penanganan medis lanjutan, pengguna dapat langsung berkonsultasi dengan fisioterapis.
Salah satu rekomendasi latihan yang diintegrasikan Nungki ke dalam sistem ini adalah Simbah Lentur (Senam Imbang, Sinambi Lenggah, Agawi Angler, Benahi Postur).
Program tersebut memadukan latihan kekuatan otot inti, pernapasan dalam, dan perbaikan postur. Kombinasi latihan ini ditujukan bagi lansia yang memiliki risiko jatuh, gangguan keseimbangan, maupun penurunan aktivitas akibat nyeri.
Selain latihan terstruktur, pemantauan rutinitas harian menjadi fitur krusial dalam PANTAS. Kebiasaan gerak lansia, seperti berkebun, berjalan kaki, joging (jogging), maupun senam, turut dicatat sebagai tolok ukur kebugaran.
Keunggulan utama PANTAS terletak pada transformasi dari formulir cetak konvensional ke gawai digital, sehingga proses pengisian dan pembacaan hasil menjadi jauh lebih efisien.
Aplikasi ini diharapkan dapat membantu kader posyandu dan komunitas dalam melakukan skrining awal secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada pemeriksaan langsung oleh fisioterapis.
Ke depan, Nungki berharap PANTAS dapat dimanfaatkan secara luas sebagai media pemantauan kesehatan lansia yang terstruktur, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini.
“Tujuan pemantauan bukan sekadar mengetahui kondisi kesehatan, melainkan membantu meningkatkan kualitas hidup lansia,” pukasnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




