CONTOH KASUS: Teknik jatuhan pencak silat yang dilakukan Cinta Asyura, mahasiswa UM ini, bisa mengakibatkan cedera bagi lawannya karena benturan telak di punggung dengan matras. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Perawat Klinik Pratama Universitas Negeri Malang, Imelda Tri Omega, mengingatkan masyarakat di Malang, Selasa (27/10/2026), untuk menerapkan protokol pertolongan pertama PRICE dan memantangi pemijatan area terkilir pada fase akut guna mencegah risiko kerusakan jaringan tubuh yang lebih parah.
Pernahkah kaki Anda terkilir saat berlari atau otot terasa tertarik ketika berolahraga? Apa tindakan pertama yang Anda lakukan: memijat bagian yang sakit, mengoleskan krim penghangat, atau nekat melanjutkan aktivitas karena menganggap tubuh masih kuat?
Respons tersebut mungkin dianggap lumrah karena sudah menjadi kebiasaan awam. Namun, kebiasaan belum tentu menjadi pertolongan medis yang tepat. Saat cedera melanda, pemahaman atas kondisi jaringan tubuh sangat krusial sebelum mengambil tindakan penanganan.
Hasrat untuk segera pulih yang ditangani secara keliru justru berisiko memperburuk cedera. Olahraga memang menyehatkan, tetapi potensi risikonya tetap ada.
Menurut Perawat Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), Imelda Tri Omega, S.Kep., Ns., AIFO, faktor kurangnya pemanasan, kelelahan fisik, beban latihan berlebih, dan kesalahan teknik gerakan menjadi pemicu utama cedera. Oleh karena itu, antusiasme berolahraga wajib diimbangi dengan edukasi keselamatan dan pengetahuan pertolongan pertama (first aid).
“Semangat menjaga kebugaran harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap keselamatan diri. Ketika muncul keluhan pascacedera, jangan memaksakan aktivitas dan segeralah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujar Imelda, Selasa (27/10/2026).
Mengenal Protokol PRICE

Perawat Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), Imelda Tri Omega, S.Kep., Ns., AIFO. (Foto: Istimewa)
Pada dugaan cedera jaringan lunak ringan, seperti keseleo (sprain) atau terkilir otot dan tendon (strain), pendekatan pertolongan awal yang direkomendasikan adalah protokol PRICE (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevation).
Metode ini efektif meredakan gejala awal, meski tidak menggantikan diagnosis medis untuk memastikan tingkat keparahan cedera.
- Protection (Perlindungan): Melindungi area tubuh yang cedera. Hentikan aktivitas pemicu nyeri dan hindari pergerakan yang memperberat kondisi. Memaksakan diri menuntaskan latihan saat tubuh mengirim sinyal bahaya bukanlah langkah yang bijak.
- Rest (Istirahat): Mengistirahatkan bagian terkilir dari pembebanan fisik. Istirahat tidak berarti menghentikan seluruh gerakan dalam jangka panjang. Begitu intensitas nyeri mereda, mobilisasi ringan dapat dimulai secara bertahap agar sendi dan otot tidak kaku.
- Ice (Kompres Dingin): Lapisi es dengan kain atau handuk tipis, lalu tempelkan pada area cedera selama 15–20 menit. Tempelkan kembali setiap 2–3 jam pada fase akut. Hindari menempelkan es secara langsung pada permukaan kulit.
- Compression (Penekanan): Balut bagian cedera menggunakan perban elastis (elastic bandage) untuk menahan pembengkakan. Pastikan balutan terasa pas dan tidak terlalu ketat agar sirkulasi darah tetap lancar.
- Elevation (Peninggian): Posisikan bagian tubuh yang cedera lebih tinggi dari posisi jantung memanfaatkan sanggaan bantal, sejauh tidak memicu nyeri tambahan. Penanganan PRICE efektif diterapkan pada 2–3 hari pertama pascacedera.
Hindari Pantangan HARM
Memahami pertolongan pertama juga berarti mengenali tindakan yang wajib dihindari. Dalam kurun 48–72 jam pertama pascacedera, pantau prinsip HARM (Heat, Alcohol, Running, Massage).
Hindari pemberian sensasi panas (heat) pada area luka baru, konsumsi alkohol, aktivitas berlari (running), serta pemijatan (massage) pada area cedera. Tindakan tersebut justru memicu vasodilatasi pembuluh darah yang memperparah pembengkakan dan kerusakan jaringan.
Kebiasaan langsung mengurut atau memijat bagian yang terkilir harus dikaji ulang. Sebelum diperiksa secara medis, belum tentu dapat dipastikan apakah keluhan tersebut sekadar keseleo ringan atau melibatkan fraktur maupun robekan ligamen.
Kenali Batas Pertolongan Mandiri
Tidak semua jenis cedera dapat ditangani secara mandiri di rumah. Rasa nyeri hebat yang makin memburuk, pembengkakan masif, serta ketidakmampuan menopang beban wajib segera dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Adanya perubahan bentuk fisik (deformitas), sensasi mati rasa (kebas), hingga perubahan warna kulit menjadi kebiruan atau dingin merupakan sinyal darurat yang memerlukan penanganan medis secepatnya.
”Pertolongan pertama adalah respons awal. Jika keluhan menetap atau menunjukkan tanda mengkhawatirkan, pemeriksaan medis mutlak diperlukan agar pasien memperoleh terapi yang presisi,” pukas Imelda. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




