Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Rinikso Kartono, M.Si. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., menyoroti pergeseran pola transmisi HIV/AIDS di Kota Malang, Selasa (27/10/2026), yang kini mendominasi populasi kunci kelompok LSL, serta mendesak pendekatan pencegahan berbasis ketahanan keluarga tanpa stigmasi sosial.
Dinamika aktivitas komunitas Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) di Kota Malang tengah menyita perhatian jajaran pemerintah daerah dan masyarakat. Isu ini mencuat menyusul temuan peningkatan kasus transmisi HIV/AIDS di sejumlah ruang publik.
Di tengah sorotan tersebut, Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Rinikso Kartono, M.Si., menyoroti pergeseran epidemiologi HIV di Kota Malang. Menurutnya, kelompok LSL kini menempati porsi terbesar dalam temuan kasus HIV baru.
“Dulu penularan di Kota Malang didominasi oleh Pengguna Napza Suntik (penasun). Namun, sekarang polanya telah bergeser karena penggunaan jarum suntik makin langka. Fenomena gunung es yang mencuat saat ini adalah populasi LSL,” ujar Rinikso, Selasa (27/10/2026).
Rinikso mengungkapkan, tren perubahan pola penularan ini berulang kali didiskusikan dalam pelbagai forum akademik. Berdasarkan pengamatannya, sebagian populasi LSL yang terdeteksi di Kota Malang teridentifikasi berasal dari kalangan mahasiswa.
Menyikapi kondisi tersebut, Rinikso mendorong terbitnya regulasi penanggulangan HIV yang holistik. Ia mengkritik pola penanganan HIV di Indonesia yang cenderung berorientasi medis (medical-centric), padahal aspek perilaku sosial memegang peranan krusial.
“Penanganan HIV selalu saya kritik karena terlalu medical-centric. Padahal ini bukan sekadar urusan medis semata, melainkan menyangkut ranah perilaku sosial,” tegasnya.
Ia pun menggarisbawahi pentingnya revitalisasi pengasuhan keluarga dan benteng budaya lokal guna membendung transmisi HIV. Meski demikian, Rinikso mewanti-wanti agar edukasi pencegahan tidak memicu stigma maupun diskriminasi terhadap kelompok rentan.
“Stigmasi terhadap kelompok tertentu justru membuat mereka enggan melakukan screening atau terbuka atas kondisi kesehatannya. Akibatnya, deteksi dini dan tindakan medis malah terhambat,” tambahnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, hingga pertengahan tahun ini tercatat 186 orang terkonfirmasi positif HIV dari total 10.873 warga yang mengakses uji saring (screening) kesehatan. Dari akumulasi kasus tersebut, sekitar 52 hingga 53 persen (setara 100 orang) mendominasi kelompok populasi kunci LSL.
Rinikso menyimpulkan bahwa penguatan edukasi, perluasan jangkauan faskes, serta eliminasi stigma merupakan pilar utama dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kota Malang. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




