MALANG POST – Workshop bukan sekadar tempat mengumpulkan materi baru atau mendapatkan sertifikat. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh guru diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.
Pesan itu disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Budiar Anwar, saat membuka Workshop Peningkatan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Gelombang ke-5 di Gedung PGRI Kabupaten Malang, Jalan Raya Karangpandan Nomor 21, Kecamatan Pakisaji, Senin (26/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 500 guru dan tenaga kependidikan. Budiar mengapresiasi PGRI Kabupaten Malang, panitia, Dinas Pendidikan, serta seluruh pihak yang berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Ia berharap workshop menjadi bagian dari upaya nyata meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Malang. Menurutnya, mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga oleh cara pembelajaran dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi.
Di balik pembelajaran yang berkualitas, kata Budiar, terdapat pendidik yang bersedia terus belajar, mengevaluasi metode mengajarnya, terbuka terhadap perubahan, dan mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan.
Karena itu, ia meminta peserta memanfaatkan workshop untuk memperbarui perspektif, menguji gagasan, berbagi pengalaman, serta mencari solusi atas berbagai persoalan pembelajaran. Diskusi dengan narasumber juga perlu dimanfaatkan untuk menyusun langkah konkret yang dapat diterapkan setelah peserta kembali ke sekolah masing-masing.
Tantangan pendidikan yang terus berkembang menuntut guru meningkatkan kapasitas profesional. Perubahan kurikulum, kemajuan teknologi, keragaman kebutuhan belajar siswa, serta tuntutan penguatan literasi dan numerasi membutuhkan pendekatan pembelajaran yang semakin adaptif.

SEKRETARIS: Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Budiar Anwar (tengah), bersama jajaran pengurus PGRI saat mengawali pembukaan workshop. (Foto : Nino Wiwantara/Malang Post)
Guru, lanjut Budiar, tidak bisa hanya mengandalkan satu metode untuk menghadapi seluruh karakteristik peserta didik. Pendidik perlu mengenali kebutuhan siswa, memilih strategi yang tepat, merancang pembelajaran bermakna, dan melakukan evaluasi secara objektif.
Penguatan kompetensi pedagogik juga harus tercermin dalam perencanaan pembelajaran. Budiar mengingatkan agar dokumen pembelajaran tidak sekadar dipandang sebagai pemenuhan administrasi, melainkan menjadi pedoman untuk mencapai tujuan pendidikan.
Tujuan pembelajaran, materi, kegiatan belajar, dan asesmen harus dirancang secara selaras. Perencanaan yang baik akan membantu proses pembelajaran berjalan lebih efektif sekaligus memberikan gambaran mengenai perkembangan kompetensi peserta didik.
Aspek lain yang menjadi perhatian ialah penguatan literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis. Menurut Budiar, literasi dan numerasi merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan. Penguatannya bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia atau Matematika, tetapi perlu diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran dan kegiatan belajar.
Pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga dinilai membuka peluang untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi, mengembangkan bahan ajar, menyusun variasi kegiatan, hingga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik.
Namun, peningkatan kompetensi tidak boleh berhenti ketika workshop berakhir. Budiar mendorong terbentuknya budaya belajar dan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah. Pengetahuan yang diperoleh peserta perlu ditularkan kepada rekan sejawat melalui diskusi, komunitas belajar, evaluasi bersama, dan pertukaran pengalaman.
Ia juga mengingatkan agar hasil workshop tidak diterapkan secara mekanis. Setiap sekolah memiliki kondisi, karakteristik peserta didik, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, metode yang dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa serta tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Budiar mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan pikiran terbuka, berani menyampaikan persoalan yang dihadapi, dan tidak ragu mendiskusikan pendekatan baru.
Menurutnya, inovasi tidak harus selalu dimulai dari perubahan besar. Perbaikan sederhana dalam menjelaskan materi, memberikan umpan balik, menyusun asesmen, atau membangun komunikasi dengan siswa dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Melalui Workshop Peningkatan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Gelombang ke-5, ia berharap lahir gagasan yang bermanfaat dan langkah perbaikan berkelanjutan. Dengan demikian, peningkatan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan dapat memberikan dampak nyata terhadap mutu pendidikan di Kabupaten Malang. (Nino Wiwantara/Ra Indrata)




