PEDAGANG KECIL: Seorang penjual jamu keliling, yang diborong oleh Pj Sekda Kota Malang, Dandung Djulharjanto. Bagian dari kepedulian pada UMKM (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang menegaskan komitmennya, mengawal keterjangkauan bahan pokok masyarakat dengan terus menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM), yang telah menembus angka 100 kali pelaksanaan dan dipastikan terus berlanjut hingga momen Natal 2026 serta Tahun Baru 2027, Rabu (21/10/2026).
Upaya konkrit Pemerintah Kota Malang dalam menjaga stabilitas harga pangan harian warga terus dikayuh tanpa henti.
Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan), program Gerakan Pangan Murah (GPM) terbukti menjadi penolong utama di tengah himpitan harga kebutuhan pokok yang serba mahal.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, membeberkan bahwa sepanjang perjalanan tahun 2026, operasi pasar murah ini telah dieksekusi lebih dari 100 kali.
Pelaksanaannya digilir secara merata menyasar 57 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan se-Kota Malang.
Pada Rabu (21/10/2026), giliran warga Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, yang diserbu kuota bahan pokok berharga miring.
“GPM terus kita gelar berkesinambungan hingga pelaksanaan Hari Raya Natal 2026 sekaligus Tahun Baru 2027. Kamis (22/10/2026) besok, lokasinya kita geser ke samping Balai Kota Malang bertepatan dengan peringatan Hari Santri,” jelas Slamet Husnan Hariyadi di lokasi acara, Rabu (21/10/2026).
Slamet menjabarkan bahwa frekuensi GPM dalam sepekan dapat digelar sebanyak dua hingga tiga kali, menyesuaikan peta kebutuhan wilayah.
Pemerintah sengaja tidak membatasi kuota belanja warga secara ketat agar masyarakat tidak merasa cemas atau terdorong melakukan aksi borong (panic buying).
Kendati dibebaskan, kesadaran warga yang berbelanja terbukti tetap rasional dan terukur sesuai konsumsi rumah tangga.
Instrumen Penekan Inflasi dan Kolaborasi Lintas Sektor

PASAR MURAH: Pj Sekda Kota Malang, Dandung Djulharjanto saat cek harga disalah satu stand penjualan, pada GPM di Kelurahan Sumbersari, Lowokwaru, Rabu (21/10/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Kualitas komoditas dan selisih harga yang ditawarkan pada arena GPM mendapat apresiasi langsung dari pimpinan daerah.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Malang, Dandung Djulharjanto, turun langsung menyusuri tiap stand penjualan saat meninjau lokasi GPM di Sumbersari.
Dandung menegaskan bahwa antusiasme masyarakat yang selalu membludak menandakan bahwa kehadiran GPM sangat dinantikan dan memberikan kemanfaatan riil.
Selain membantu daya beli warga bawah, keberadaan GPM memegang peranan krusial sebagai rem darurat penekan laju inflasi daerah.
Terutama untuk komoditas sensitif seperti beras dan cabai rawit yang belakangan harganya kerap melambung di pasar tradisional.
“Jika stok pasokan dan harga terkendali, angka inflasi dapat ditekan dan panic buying tidak akan terjadi. Kita siapkan beras, cabai, telur, hingga minyak goreng dengan harga murah tetapi kualitasnya tetap bagus,” sebut Dandung.
Pejabat yang juga menjabat Kepala Dinas PUPRPKP Kota Malang ini menukaskan bahwa GPM merupakan penerjemahan program prioritas pemerintah pusat yang diselaraskan dengan kebijakan pro-rakyat di tingkat lokal.
Guna memastikan rantai pasok tidak pernah putus sampai momen Nataru, Pemkot Malang menjalin kolaborasi erat bersama Perum Bulog, Perumda Tunas, Bank Indonesia, serta produsen swasta.
Kerja sama ini menjamin warga yang datang mengantre tidak akan pulang dengan tangan kosong.
Respon Buka-Bukaan dan Pengakuan Warga

KONSUMEN: Seorang penjual lalapan asal Sumbersari, Diyo (57), menunjukkan belanjaan cabai sebanyak dua kilogram, dengan harga lebih murah. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Manfaat nyata dari selisih harga GPM dirasakan langsung oleh masyarakat yang berbondong-bondong memadati lokasi.
Diyo (57), warga perantauan asal Jawa Tengah yang kini menetap di Sumbersari Gang VI, mengaku sangat terbantu dengan selisih harga barang yang jauh lebih murah dibanding toko kelontong atau pasar induk.
Diyo merincikan, harga cabai rawit di arena GPM dilepas seharga Rp 40 ribu per kilogram, sementara di pasaran umum masih bertahan di atas Rp 50 ribu per kilogram.
Begitu pula dengan komoditas telur ayam yang dibanderol Rp 22 ribu per kilogram, berbanding Rp 25 ribu per kilogram di luar.
Untuk komoditas kemasan minyak goreng dua liter, warga cukup merogoh kocek Rp 31 ribu dibanding harga pasaran yang menyentuh Rp 39 ribu.
Sedangkan beras premium kemasan lima kilogram dijual seharga Rp 74 ribu, jauh lebih murah dari harga toko yang masih bertengger di angka Rp 77 ribu hingga Rp 78 ribu.
“Kualitas barangnya bagus sekali, tidak kalah dengan pasar. Kalau bisa kami berharap program murah seperti ini ada terus setiap hari,” pangkas Diyo gembira. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




