Prof. stella christie, ph.d. menjadi narasumber utama dalam Dies Natalis ke-65 FEB UB (Foto: Humas UB for Malang Post)
MALANG POST – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, Ph.D., mengingatkan para mahasiswa di Malang, Senin (19/10/2026), agar tetap memperkuat daya berpikir kritis, empati, serta research mindset saat memanfaatkan instrumen kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam perkuliahan.
Pemanfaatan instrumen kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian karib dalam ekosistem pendidikan tinggi. Namun, kemudahan teknologi ini tidak boleh mengikis kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Generasi muda justru dituntut terampil menguji kebenaran informasi, mengasah kreativitas, serta mempertajam empati di tengah pesatnya disrupsi digital.
Pesan strategis tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Stella Christie, Ph.D., saat menjadi narasumber dalam Peringatan Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), Senin (19/10/2026).
Stella, yang merupakan pakar ilmu kognitif (cognitive scientist), menegaskan bahwa AI bukan sekadar urusan teknologi informasi. Perkembangannya berkaitan erat dengan cabang filsafat, kognisi manusia, pedagogi, hingga dampak sosial-ekonomi yang menyertainya.
Menurutnya, AI memiliki keunggulan komparatif dalam mengeksekusi pekerjaan teknis, seperti mengolah data besar (big data) dan menyusun bahasa pemrograman. Namun, kapasitas tersebut tidak serta-merta sejajar dengan manusia dalam aspek pertimbangan moril (judgment), empati, serta pengambilan keputusan strategis.
Oleh sebab itu, mahasiswa diimbau tidak sebatas berorientasi pada kemahiran mengoperasikan perangkat aplikasi, seperti ChatGPT. Perkembangan teknologi yang begitu masif membuat algoritma perangkat tersebut terus bertransformasi.
Stella menekankan bahwa kualifikasi utama yang wajib dipersiapkan generasi muda bukan sekadar menghafal materi teoretis. Mahasiswa harus memperkuat daya kritis, kecakapan mengevaluasi luaran (output) AI, serta verifikasi fakta secara tuntas.
“Informasi yang diproduksi oleh AI tidak boleh telanjang bulat diterima sebagai kebenaran mutlak, melainkan wajib diuji melalui sumber yang kredibel dan proses pembuktian yang ilmiah,” tegasnya, Senin (19/10/2026).
Di lingkungan akademik, mahasiswa mendesak untuk membangun pola pikir riset (research mindset). Kapasitas ini mencakup keterampilan merumuskan pertanyaan fundamental, menyusun hipotesis, menguji bukti empiris, hingga menarik kesimpulan berbasis data riil.
Dengan research mindset, mahasiswa tidak sekadar menjadi konsumen pasif teknologi, melainkan sanggup menempatkan AI sebagai instrumen pembantu (assistive tool) untuk memperdalam khazanah pengetahuan.
Stella turut membeberkan bahwa Indonesia bertengger di peringkat pertama dalam hal pemanfaatan AI di sektor pendidikan. Kendati demikian, tingginya penetrasi tersebut wajib dibarengi dengan sikap kritis dan batasan etis yang tegas.
Di balik kemudahan yang ditawarkan, Stella menyoroti konsumsi sumber daya industri AI yang sangat masif. Pengoperasian pusat data (data center), misalnya, membutuhkan pasokan daya listrik dan pendingin air dalam skala raksasa yang menantang kelestarian lingkungan.
Namun, di sisi lain, kondisi ini membuka peluang strategis bagi Indonesia. Kekayaan potensi energi hijau nasional, seperti panas bumi (geothermal) dan hidrogen alami, dapat dikembangkan menjadi modal utama pemasok kebutuhan energi industri AI global.
Pesan Prof. Stella Christie dalam Dies Natalis FEB UB ini mempertegas dua tantangan sekaligus: di ruang kelas, mahasiswa harus cakap memanfaatkan AI tanpa kehilangan daya kritis, sedangkan di tingkat nasional, Indonesia harus siap menyediakan infrastruktur dan energi terbarukan untuk menopang industri masa depan. (M. Abd. Rachman Rozzi)




