MALANG POST – Mbah Suharyono (78), lansia asal Desa Tenaru, Driyorejo, Gresik, kini menjalani masa tuanya dengan perawatan penuh dan gratis di Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, usai diserahkan secara total oleh anak kandung beserta menantunya, Minggu (18/10/2026).
Senyum keikhlasan itu akhirnya kembali terpancar dari wajah Mbah Suharyono. Lansia berusia 78 tahun asal Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, ini kini tampil lebih rapi dan bersih. Rambut, kumis, serta jenggotnya telah dipangkas rapi.
Ia kini menetap di Panti Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, guna menjalani hari-hari senjanya dengan perawatan layak yang selama ini tidak didapatkannya secara utuh.
Di balik penampilan barunya, tersimpan kisah pilu yang mengiris hati. Mbah Suharyono sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah anak kandung beserta menantunya menyerahkan seluruh hak perawatannya secara penuh kepada pihak panti.
Pihak pengelola Griya Lansia menegaskan berkomitmen merawat Mbah Suharyono tanpa memungut biaya sepeser pun hingga akhir hayatnya. Perjalanan hidup pria sepuh ini menjadi cermin bagi publik tentang vitalnya rasa bakti dan kasih sayang kepada orang tua di usia senja.
Dirawat Gratis Sampai Tutup Usia
Melalui keterangan resminya, pengurus Griya Lansia Husnul Khatimah menyatakan komitmennya untuk memberikan pelayanan komprehensif kepada Mbah Suharyono.
“Inilah perawatan Mbah Haryono, lansia 78 tahun yang diserahkan anak kandung dan menantunya. Beliau akan kami layani secara gratis, 100 persen sampai tutup usia, setelah anak kandung dan menantunya menolak untuk merawat,” tulis pengelola panti dalam unggahan resminya.

Sebelumnya, pengasuh Griya Lansia, Arief Camra, mengungkapkan bahwa penyerahan secara total membawa konsekuensi tersendiri. Ia menegaskan Mbah Suharyono akan diurus dengan sangat baik, termasuk proses pemakaman kelak jika ia berpulang. Namun, sesuai kesepakatan penyerahan total, pihak keluarga tidak akan diberi kabar jika peristiwa duka tersebut terjadi.
Arief sempat meminta pihak keluarga untuk mempertimbangkan kembali keputusan berat tersebut. Pasalnya, kondisi fisik Mbah Suharyono terbilang masih cukup sehat dan sanggup beraktivitas mandiri.
Tak Pernah Paham Kesalahannya
Dalam percakapan yang terekam, Mbah Suharyono mengaku bingung atas persoalan yang merenggangkan hubungannya dengan sang anak. Ia mengaku telah berulang kali meminta maaf, meski tidak pernah paham apa letak kesalahannya.
“Saya sendiri tidak pernah tahu salah saya di mana. Bukan saya tidak berintrospeksi, tetapi meskipun saya merasa tidak bersalah, saya sudah berulang kali meminta maaf,” tuturnya lirih.
Ketika ditanya mengenai kesediaannya menjalani keputusan penyerahan total—termasuk kemungkinan keluarga tidak akan dikabari saat ia tutup usia—Mbah Suharyono meresponsnya dengan pasrah.
“Alhamdulillah, boten nopo-nopo (tidak apa-apa). Lillahi ta’ala,” ucapnya tenang.
Mbah Suharyono menceritakan bahwa istrinya telah wafat pada 2018 lalu. Sepeninggal sang istri, ia sempat menumpang tinggal di tempat yang disediakan oleh seorang juru kunci. Selama menumpang, ia tetap rajin menjaga kebersihan dengan menyapu dan mengepel area sekitar.
Perhatian di Masa Senja
Setelah berada di Griya Lansia Husnul Khatimah, Mbah Suharyono mendapatkan tempat tinggal yang bersih serta pemenuhan kebutuhan harian yang terjamin. Penampilannya kini jauh lebih segar dan terawat.
Kisah Mbah Suharyono menjadi pengingat penting bagi masyarakat luas. Bertambahnya usia membuat seseorang kian membutuhkan perhatian, pendampingan, serta rasa aman. Dinamika persoalan keluarga sepatutnya diselesaikan secara bijak tanpa mengabaikan martabat orang tua.
Di usia tuanya, Mbah Suharyono kini memulai babak baru hidupnya. Di balik senyum yang terukir, ada kerinduan seorang ayah akan kasih sayang yang tulus. Pada akhirnya, hal terpenting adalah memastikan setiap orang tua mendapatkan penghormatan, kepedulian, dan perawatan yang layak di akhir hayatnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




