MALANG POST – Dinas Perikanan Kabupaten Malang mencatat realisasi produksi perikanan tangkap hingga triwulan ketiga 2026 telah menembus 23 ribu ton atau 80 persen dari target tahunan sebesar 29 ribu ton, meski nelayan masih dibayangi cuaca ekstrem dan pencemaran sampah laut, Jumat (16/10/2026).
Capaian sektor kelautan di Malang Selatan menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup menjanjikan.
Dalam dialog talkshow di program Idjen Talk di Radio City Guide FM pada Jumat (16/10/2026), Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, membeberkan bahwa komoditas tangkapan tahun ini didominasi ikan tongkol, cakalang, serta tuna.
Namun, komoditas ekspor unggulan seperti ikan layur belum menunjukkan hasil optimal dalam dua tahun terakhir akibat pergeseran jalur migrasi ikan.
Tantangan nelayan kian berat lantaran cuaca ekstrem dan gelombang tinggi membuat durasi melaut terbatas, yakni rata-rata hanya 200 hingga 240 hari dalam setahun.
“Guna mengantisipasi kendala cuaca, kami memfasilitasi informasi BMKG serta mendorong penggunaan GPS, fish finder, dan aplikasi satelit. Kami juga menyiapkan fasilitas rantai dingin (cold chain) agar kualitas ikan tetap terjaga,” terang Victor.
Di samping tantangan iklim, kerusakan ekosistem pesisir akibat sampah plastik dan alat tangkap terbuang turut mengancam keberlanjutan hasil laut.
Dosen Ilmu Kelautan FPIK Universitas Brawijaya, Ade Yamindago, mengungkapkan bahwa penelitian akademis menemukan mikroplastik pada organ biologis ikan tuna, tongkol, hingga cakalang.
Guna menjaga kelestarian perairan, Ade mendorong penerapan riset ilmiah berbasis environmental DNA (eDNA) untuk memantau populasi biota laut secara akurat.
Pemerintah Kabupaten Malang bersama FPIK UB sepakat memperkuat kolaborasi konservasi mangrove, pembersihan pantai, serta pembentukan kelompok masyarakat pengawas agar pemanfaatan hasil laut berjalan seimbang dan berkelanjutan. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




