MALANG POST – Gelandang senior Arema FC, Hanif Abdurrauf Sjahbandi, mengekspresikan rasa haru dan kebahagiaan mendalam, usai menandai momen comeback pascacidera sembilan bulan, lewat sumbangan satu gol saat Singo Edan melumat RANS Nusantara FC 4-0, pada laga pembuka Grup L i-League Cup 2026/2027 di Stadion Kanjuruhan, Selasa (03/11/2026) sore.
Petang di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, pada Selasa (3/11/2026), menjadi saksi bisu kembalinya sang jenderal lapangan tengah.
Bagi publik Arema FC, kemenangan telak 4-0 atas RANS Nusantara FC di laga pembuka Grup L i-League Cup 2026/2027, tidak hanya menghasilkan tiga poin murni di papan klasemen.
Laga tersebut menjadi panggung emosional pembuktian kebangkitan karier gelandang senior, Hanif Abdurrauf Sjahbandi.
Masuk pada menit ke-63 menggantikan gelandang muda Arkhan Fikri, Hanif tak butuh waktu lama untuk menguncang jala lawan.
Hanya tiga menit berada di dalam lapangan—tepatnya pada menit ke-66—pemain bernomor punggung 17 tersebut, sukses melepaskan tandukan terukur, yang merobek gawang RANS Nusantara.
Gol tersebut melengkapi hattrick spektakuler Samuel Otusanya (26′, 35′, 52′) sekaligus mengukuhkan posisi Singo Edan, di puncak klasemen sementara Grup L dengan koleksi 3 poin.
Usai peluit panjang berbunyi, Hanif tidak mampu menyembunyikan rasa harunya, dalam sesi jumpa pers bersama awak media.
Bagi Hanif, menginjakkan kaki dan mencetak gol di rumput Kanjuruhan, membawa sensasi kebahagiaan yang sangat masif.
“Perjalanan saya sembilan bulan terakhir tidak mudah. Sembilan bulan saya harus menghadapi situasi tidak bermain sepak bola sebelum mendapat kepastian. Saya terima kasih sekali kepada Coach dan Arema yang memberi kesempatan,” ujar Hanif Sjahbandi penuh emosi, Selasa (3/11/2026) malam.
Berjuang dari Nol di Tengah Skuad Mewah
Meski sukses menandai laga comeback lewat gol manis, Hanif menolak berbesar kepala.
Pemain yang kerap menjadi panutan juniornya ini, secara jujur mengakui bahwa tingkat kebugaran fisik dan performanya di lapangan, belum menyentuh level maksimal 100 persen.
Ia merasa harus memulai kembali perjuangannya dari titik nol.
Sebab, kedalaman materi pemain Arema FC musim ini, diisi oleh deretan nama-nama besar berkualitas tinggi; baik pemain asing jempolan, maupun pilar lokal berlabel Tim Nasional.
Persaingan ketat di lini tengah, direspons Hanif sebagai pemicu positif, untuk terus menggembleng kapasitas diri di sesi latihan harian.
Ia tidak persoalkan, apakah harus memulai laga dari bangku cadangan atau tim utama.
Bagi Hanif, kepentingan kolektif dan kemenangan tim berada di atas ego pribadi.
“Saya seperti kembali lagi dari awal. Di posisi saya banyak pemain sangat bagus, berlabel timnas dan asing. Saya di sini bukan untuk menonjolkan individu, tetapi ingin belajar dan membantu membesarkan Arema,” tegasnya.
Filosofi Living In The Present dan Ambisi Juara
Di balik kemenangan besar tersebut, Hanif membeberkan filosofi bertanding yang kini dipegangnya erat-erat: we’re living in the present (kita hidup pada masa saat ini).
Sebagai klub besar dengan basis pendukung raksasa, target Arema FC tentu bukan sekadar berpartisipasi atau penggembira di ajang i-League Cup.
Arema dipatok untuk selalu bersaing merebut trofi juara di setiap ajang kompetisi yang diikuti.
Namun, Hanif memilih untuk mengajak rekan-rekannya tetap membumi dan menyelesaikannya secara bertahap (step-by-step).
Usai merampungkan tugas manis di panggung piala, fokus tim harus langsung dialihkan 100 persen menuju persaingan di kompetisi Super League (Liga 1).
Rasa penasaran dan dahaga kemenangan usai hasil minus di kompetisi liga pekan lalu, harus dijadikan bahan bakar pendorong untuk tampil lebih perkasa.
“Saya tipe orang yang fokus pada apa yang ada di depan mata. Hari ini piala selesai, besok kita fokus ke Super League. Jika kita memenangi setiap pertandingan di depan mata, jalannya menuju juara akan terbuka,” lanjutnya.
Hanif meyakini performa Arema FC di awal musim ini, masih bisa terus meningkat pesat jika seluruh elemen tim menyatu dan bekerja keras.
Hasil manis di Kanjuruhan diharapkan menjadi titik balik kebangkitan mentalitas Arema untuk kembali ke habitat aslinya di papan atas sepak bola Indonesia.
“Posisi Arema yang sebenarnya adalah di atas. Saya yakin kita bisa bangkit dan saya siap memberikan yang terbaik untuk Arema,” pungkas Hanif optimistis. (Ra Indrata)




