PERDANA: Marcos Vinicius, pencetak gol pertama Arema, saat ditahan imbang 2-2 Bhayangkara FC. Gol itu lahir dari sebuah serangan balik yang cepat. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih kepala Bhayangkara FC, Oscar Bruzon, melemparkan pujian terbuka atas efektivitas permainan langsung (direct football) dan skema bola mati (set piece) Arema FC, yang sanggup mengonversi sedikit peluang menjadi dua gol penyeimbang kedudukan 2-2 pada laga pekan ke-4 Super League 2026/2027 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Sabtu (10/10/2026) sore.
Penyelesaian akhir yang sangat mematikan dari anak-asuh Marcos Santos, mendadak menjadi bahan evaluasi mendalam bagi tim tamu.
Bhayangkara FC sejatinya sempat berada di atas angin, setelah memimpin dua gol lebih dulu pada babak pertama, melalui aksi Matias Ocampo dan Milan Ristovski.
Namun, efektivitas permainan Singo Edan pada babak kedua, membuyarkan kemenangan The Guardian yang sudah di depan mata.
Ditemui usai laga, pelatih kepala Bhayangkara FC, Oscar Bruzon, membedah secara rinci kualitas permainan Arema FC.
Juru taktik asal Spanyol tersebut menilai, Arema FC merupakan tim yang sangat berbahaya ketika sukses merebut kembali penguasaan bola (ball recovery).
Skema serangan balik cepat lewat permainan langsung (direct football), terbukti ampuh membongkar pertahanan lawan meski dengan jumlah peluang yang minim.
“Arema sangat efisien. Sepanjang 90 menit pertandingan, dari hanya empat atau lima peluang bersih yang mereka miliki, mereka sanggup mengonversinya menjadi dua gol,” puji Oscar Bruzon.
Ujian Taktis Dan Skema Bola Mati
Bruzon membeberkan, pada babak pertama Arema FC sangat merepotkan sektor kiri pertahanan timnya.
Bek sayap Arema FC rajin overlap naik membantu serangan, sementara pemain sayap bergeser meliuk ke dalam untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain (overload).
Kondisi tersebut memaksa pergerakan Moussa Sidibe, turun jauh ke belakang untuk membendung gempuran tuan rumah.
Di samping itu, Bruzon juga menyoroti kegagalan anak asuhnya dalam menghentikan transisi kilat serta mengantisipasi situasi bola mati (set piece) Arema FC.
Gol pertama Arema FC yang dicetak Marcos Vinicius, lahir dari transisi cepat. Sedangkan gol penyeimbang Samuel Otusanya murni memanfaatkan eksekusi bola mati.
“Kami sudah merencanakan untuk menghentikan transisi dan tidak memberikan bola mati kepada Arema. Namun, kami kebobolan dari dua situasi tersebut. Jika ingin bersaing di papan atas, kami harus lebih disiplin dalam bertahan,” urai Bruzon.
Meski gagal mengamankan poin penuh, Bruzon tetap bangga timnya menjaga rekor tak teralahkan dalam empat laga awal melawan tim-tim raksasa seperti Persebaya, Dewa United, hingga Arema FC.
Ia meyakini Arema FC bakal menjadi salah satu kandidat kuat penghuni papan atas klasemen musim ini.
Hasil Imbang Rasa Kekalahan
Nada penyesalan mendalam disuarakan oleh penjaga gawang utama Bhayangkara FC, Awan Setho Raharjo.
Kiper berpengalaman tersebut tak mampu menyembunyikan kekecewaannya usai gawangnya dua kali dibobol pada babak kedua.
Gagal mempertahankan keunggulan dua gol membuat hasil imbang 2-2 di Kanjuruhan terasa menyakitkan bak sebuah kekalahan.
“Hasil yang sangat mengecewakan bagi kami. Sudah memimpin dua gol tetapi akhirnya imbang. Hasil ini terasa seperti kekalahan,” tutur Awan Setho.
Awan Setho mengakui para pilar Arema FC tampil jauh lebih efektif, agresif, dan cerdik memanfaatkan celah sekecil apa pun setelah jeda babak pertama.
Kegagalan mengantisipasi skema bola mati yang sudah dilatih berulang kali dalam sesi latihan menjadi pelajaran berharga bagi Bhayangkara FC menyongsong laga tandang berikutnya melawan Madura United. (Ra Indrata)




