MALANG POST – Dokter Gigi Klinik Pratama Universitas Negeri Malang, drg. Hafsah Nurul Ummah, memaparkan risiko kerusakan karies gigi dan langkah pencegahan dini dalam sosialisasi kesehatan mulut di Malang, Kamis (8/10/2026), guna menekan prevalensi gigi berlubang masyarakat yang menembus angka 82,8 persen.
Pernahkah Anda merasakan sensasi ngilu saat menikmati es krim atau menyeruput kopi panas? Atau menemukan bercak kecokelatan pada permukaan gigi yang selama ini tidak terasa sakit?
Kondisi tersebut menjadi sinyal awal adanya masalah kesehatan gigi dan mulut, salah satunya karies atau gigi berlubang. Sayangnya, mayoritas masyarakat baru menyadari krusialnya perawatan gigi sewaktu rasa nyeri hebat mulai mengganggu aktivitas harian.
Karies gigi bukan sekadar persoalan estetika penampilan atau rasa nyeri sesaat. Masalah kesehatan ini dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari hingga kerusakan jaringan gigi kian parah. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi karies gigi nasional menembus angka 82,8 persen.
Angka yang terbilang tinggi tersebut mengindikasikan bahwa derajat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia memerlukan perhatian serius, baik melalui edukasi masif maupun kesadaran pemeriksaan rutin ke dokter gigi.
Dokter Gigi Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), drg. Hafsah Nurul Ummah, S.KG., menekankan urgensi membangun kebiasaan merawat gigi sebelum timbul keluhan klinis. Menurutnya, kesehatan gigi tidak sepatutnya baru mendapat perhatian ketika seseorang menderita sakit gigi hebat.
“Kesehatan gigi dan mulut wajib dirawat setiap hari, bukan hanya sewaktu gigi terasa sakit. Pemeriksaan berkala sangat penting agar potensi karies dapat dideteksi dini dan ditangani sebelum berkembang parah,” ujar drg. Hafsah, Kamis (8/10/2026).
Mengenal Karies: Kerusakan Berawal dari Kebiasaan Harian
Karies gigi merupakan kerusakan jaringan keras gigi akibat proses demineralisasi yang berlangsung ketika bakteri pada plak menghasilkan cairan asam. Proses ini dipengaruhi oleh pelbagai faktor, antara lain konsumsi makanan bergula tinggi, tingkat kebersihan rongga mulut, volume produksi air liur (saliva), serta durasi paparan asam pada permukaan enamel gigi.

Dokter Gigi Klinik Pratama Universitas Negeri Malang, drg. Hafsah Nurul Ummah, S.KG. (Foto: Istimewa)
Di dalam rongga mulut hidup pelbagai jenis mikroorganisme secara alami. Ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman manis, bakteri meragi gula tersebut menjadi cairan asam. Jika paparan ini terjadi berulang kali, kandungan mineral pada lapisan luar gigi (email) akan larut secara bertahap.
Pada fase awal, kerusakan mungkin belum menimbulkan gejala sakit. Namun, tatkala proses demineralisasi berlanjut hingga menembus lapisan dentin dan mencapai pulpa—area yang dipenuhi pembuluh darah dan serabut saraf—keluhan akan berubah menjadi nyeri spontan, ngilu tajam, hingga risiko infeksi bernanah.
Inilah alasan karies kerap dijuluki silent enemy (musuh senyap). Kerusakannya merayap tanpa gejala kasatmata pada tahap awal. Oleh karena itu, menunda kunjungan dokter gigi hingga timbul rasa sakit bukanlah langkah antisipasi yang bijak.
Kebiasaan mengonsumsi penganan manis secara berlebihan, kebiasaan menyeruput minuman berpemanis, serta kelalaian menggosok gigi secara teratur menjadi faktor pemicu utama risiko karies.
Dampak Luas di Luar Sakit Gigi
Anggapan bahwa gigi berlubang sebatas memicu rasa sakit lokal perlu diluruskan. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis, karies dapat menyebabkan pembusukan jaringan gigi, infeksi pulpa, terbentuknya benjolan nanah (abses), hingga pemangkasan atau pencabutan gigi. Kondisi ini mengganggu fungsi pengunyahan (mastikasi), artikulasi bicara, dan kenikmatan menyantap makanan.
Dampaknya juga merembet ke ranah psikososial. Gigi yang rusak, bau mulut (halitosis), serta rasa nyeri berkepanjangan memengaruhi rasa percaya diri saat berinteraksi sosial. Pada anak-anak, gangguan gigi berlubang merusak pola tidur, menurunkan konsentrasi belajar, serta mengganggu tumbuh kembang.
Selain itu, kesehatan rongga mulut berkaitan erat dengan kondisi kesehatan sistemik tubuh. Penyakit kronis seperti diabetes mellitus memiliki hubungan timbal balik (bidireksional) dengan peradangan jaringan pendukung gigi (periodontitis). Sementara itu, infeksi gigi yang tidak terawat dapat menjalar melalui pembuluh darah dan memicu komplikasi organ dalam yang serius.
Pencegahan Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Kabar baiknya, mayoritas kasus karies dapat dicegah melalui higiene mandiri yang tepat serta perawatan profesional berkala. Langkah pencegahan dapat diintegrasikan melalui kebiasaan harian yang konsisten:
- Sikat Gigi Dua Kali Sehari dengan Pasta Gigi Berfluorida: Lakukan pembersihan gigi minimal dua kali sehari—terutama sebelum tidur malam dan setelah sarapan. Gunakan sikat berbulu lembut (soft) dengan teknik melingkar yang menjangkau seluruh permukaan gigi dan garis gusi. Kandungan fluorida terbukti memperkuat email serta memicu proses kembalinya mineral gigi (remineralisasi).
- Batasi Frekuensi Paparan Gula: Selain membatasi porsi gula, kurangi frekuensi mengonsumsi minuman manis secara perlahan (slow sipping). Asupan air putih hendaknya dijadikan pilihan utama penyeimbang kelembapan mulut.
- Gunakan Benang Gigi (Dental Floss): Bersihkan sela-sela gigi menggunakan dental floss atau sikat interdental. Sikat gigi konvensional hanya mampu membersihkan 60 persen permukaan gigi, sedangkan sela antar-gigi memerlukan benang khusus guna mengikis sisa makanan dan plak.
- Pemeriksaan Gigi Berkala: Lakukan kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan gigi minimal enam bulan sekali untuk pembersihan karang gigi (scalling) serta pemantauan kondisi rongga mulut.
Menjaga Gigi Adalah Investasi Kesehatan
Karies gigi menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan yang terkesan sepele dapat bereskalasi buruk sewaktu tindakan pencegahan diabaikan. Merawat gigi bukan sekadar demi memiliki senyum estetis, melainkan investasi untuk mempertahankan fungsi pengunyahan, kenyamanan beraktivitas, serta mutu kualitas hidup hingga usia senja.
Edukasi kesehatan gigi perlu dibangun berkelanjutan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga tempat kerja. Jangan menunggu hingga gigi berlubang parah untuk mulai peduli. Langkah kecil yang disiplin hari ini merupakan kunci menjaga senyum sehat jangka panjang. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




