PANEN IKAN: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat disaksikan beberapa Kepala OPD, saat beri makan ikan nila hasil budidaya ikan di kolam terpal. milik warga RT 4 RW 6 Kelurahan Arjowinangun, dari program RT Berkelas. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, meninjau langsung keberhasilan pelaksanaan program inovasi RT Berkelas berbasis pemberdayaan SDM non-fisik di RW 6 Perumahan Puri Cempaka Putih (PCP) 1, Kelurahan Arjowinangun, Kedungkandang, sekaligus mendorong percepatan penyerahan aset prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) dari pihak pengembang, Kamis (8/10/2026).
Inovasi pembangunan dari tingkatan paling bawah, terus membuahkan hasil nyata bagi pergerakan ekonomi warga di Kota Malang.
Kehadiran Program RT Berkelas, terbukti menjadi jalan pintas yang efektif, dalam merealisasikan aspirasi masyarakat tanpa perlu menunggu birokrasi panjang.
Hal itu terlihat jelas saat Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, turun langsung meninjau pelaksanaan program tersebut di RW 6 Perumahan Puri Cempaka Putih (PCP) 1, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang, pada Kamis (8/10/2026).
Satu per satu potensi lokal hasil kreativitas warga diperiksa oleh Wali Kota.
Namun di balik geliat pemberdayaan tersebut, pembangunan infrastruktur fisik seperti pengaspalan jalan perumahan di RW 5 dan RW 6 PCP 1, masih belum bisa menyerap anggaran APBD Kota Malang.
Penyebab utamanya adalah persoalan ketaatan pengembang.
Fasilitas prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) di perumahan tersebut, hingga kini belum diserahkan secara resmi oleh pihak pengembang kepada Pemerintah Kota Malang.
“Pengembang PCP 1 belum menyerahkan PSU ke Pemkot. Proses administrasinya terus kami dorong agar segera rampung. Kami targetkan tahun 2026 ini PSU sudah bisa diserahkan,” jelas Wahyu Hidayat.
Gara-gara status tanah yang belum beralih menjadi aset daerah, intervensi APBD untuk pembangunan perbaikan jalan belum legal dilaksanakan.
Kendati demikian, Pemkot Malang tidak tinggal diam.
Dukungan APBD dialihkan secara optimal pada pilar non-fisik melalui Program RT Berkelas.

HIDROPONIK: Didampingi Ketua RW 6, Agus Hari P dan Ketua RT 4, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, panen budidaya tanaman hidroponik, di program RT Berkelas RW 6 Kelurahan Arjowinangun, Kedungkandang, Kamis (8/10/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Bantuan difokuskan pada pengadaan sarana penunjang seperti meja, kursi, hingga ragam pelatihan serta pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM).
Di RW 6 PCP 1, pelaksanaan program non-fisik ini terbukti sukses berjalan 100 persen.
Warga setempat berhasil mengembangkannya menjadi ladang ekonomi produktif.
Mulai dari budidaya tanaman sistem hidroponik, budidaya ikan lele dan nila, pembuatan pupuk pencacah kompos, hingga pelatihan pemasaran bagi UMKM lokal.
Bahkan untuk budidaya ikan lele, warga RW 6 sudah mencatatkan panen perdana seberat 50 kilogram.
“Program RT Berkelas di RW 6 ini sangat kompak. Empat RT di sini bisa duduk bersama menyatukan aspirasi, tanpa harus menunggu giliran Musrenbang atau Pokir yang memakan waktu lima sampai enam tahun,” puji Wahyu.
Politisi Partai Gerindra ini membeberkan, secara keseluruhan, progres penyerapan Program RT Berkelas di tingkat kelurahan se-Kota Malang sudah menyentuh angka 70 persen.
Pemkot Malang optimistis sisa waktu dua bulan ke depan, dapat dimaksimalkan hingga terserap 100 persen seiring penyesuaian Perubahan Anggaran Keuangan (PAK).
Sementara itu, Ketua RW 6 Kelurahan Arjowinangun, Agus Hari P, menjelaskan, dana RT Berkelas sengaja diarahkan untuk menggenjot dua sasaran utama: kualitas SDM dan pendapatan warga.
Hasil panen hidroponik dan budidaya ikan sebagian dijual ke warga sekitar serta pasar luar.
Keuntungannya diputar kembali secara berkelanjutan untuk modal operasional, pembelian bibit baru, serta kas lingkungan.
Jauh sebelum program pemerintah ini masuk, warga RW 6 sejatinya sudah memiliki fondasi kebersamaan yang kuat melalui penanaman kebun jahe dan lidah buaya.
Olahan tanaman herbal tersebut diproduksi menjadi minuman kesehatan bernilai jual tinggi.
“Kami menyebut kawasan ini sebagai Kampung Bejo. Artinya benar-benar ‘koyo’ atau sejahtera dari hasil budidaya tanaman herbal jahe dan lidah buaya,” aku Agus.
Agus mengakui, infrastruktur jalan lingkungan memang memprihatinkan dan menjadi kebutuhan mendesak warga.
Namun untuk urusan sistem saluran air atau drainase di lingkungan RW 6, dipastikan sudah tertata rapi dan bebas dari ancaman banjir.
Senada dengan sang Ketua RW, Ketua RT 4 RW 6, Abdul Khoiri, menambahkan bahwa tiap RT di bawah naungan RW 6, memiliki pemetaan potensi yang berbeda-beda namun saling melengkapi.
RT 4 fokus pada kolam budidaya ikan karena ketersediaan lahan yang luas.
RT lain ada yang menguatkan sektor pemasaran produk UMKM, serta ada yang memperbanyak tanaman peneduh lingkungan.
“Kami solid menyerap 100 persen pekerjaan non-fisik ini. Kami tinggal menunggu penyerahan PSU selesai agar pembenahan total jalan RW 6 bisa segera direalisasikan,” pangkas Abdul Khoiri. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




