MALANG POST – Laju Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada periode September 2026 tercatat tetap terjaga melandai di angka 0,27 persen (mtm) atau 3,19 persen secara tahunan (yoy), berada dalam kisaran sasaran nasional berkat intervensi masif TPID Kota Malang bersama Bank Indonesia.
Stabilitas harga bahan pokok di Kota Malang, kembali menunjukkan daya tahan yang sangat solid.
Di tengah gejolak iklim global dan dinamika harga pangan nasional, laju inflasi daerah ini tetap terkendali secara presisi.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Malang membukukan inflasi sebesar 0,27 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026.
Angka ini memperlihatkan tren melandai, jika dibandingkan dengan catatan inflasi Agustus 2026 yang sempat menyentuh 0,39 persen (mtm).
“Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kota Malang berada di level 3,19 persen.”
“Capaian tersebut jauh lebih rendah bila disandingkan dengan inflasi Provinsi Jawa Timur sebesar 3,33 persen (yoy) maupun rata-rata inflasi nasional sebesar 3,28 persen (yoy),” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspiryadi, dalam rilisnya yang diterima Malang Post.
Angka-angka ini menegaskan, tekanan harga di Kota Malang tetap berada dalam koridor target nasional 2,5±1 persen.
Secara bulanan, penyumbang terbesar inflasi September berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,23 persen (mtm).
Kenaikan harga daging ayam ras dan cabai rawit menjadi pendorong utama dengan sumbangan inflasi masing-masing 0,06 persen (mtm).
Disusul oleh telur ayam ras sebesar 0,05 persen (mtm), beras 0,04 persen (mtm), serta labu siam atau jipang sebesar 0,02 persen (mtm).
Lonjakan harga daging ayam dan telur ayam dipicu oleh lonjakan permintaan pasar.
Dua komoditas protein ini banyak diserap untuk mendukung ketercukupan gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta perayaan syukuran warga pasca-peringatan kemerdekaan.
Sementara kenaikan harga cabai rawit dan labu siam dipengaruhi oleh gangguan cuaca yang menekan volume panen petani.
Adapun kenaikan harga beras terjadi akibat melambungnya harga gabah di tingkat produsen seiring berakhirnya periode panen raya, ditambah dampak fenomena El Nino yang masih bertahan pada intensitas kuat.
Kendati demikian, laju inflasi Kota Malang berhasil ditahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas utama.
Emas perhiasan, tarif angkutan udara, ketimun, cabai merah, dan bawang putih memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm).
Penurunan harga emas perhiasan mengekor koreksi harga emas dunia akibat naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Penurunan tarif tiket pesawat terdorong oleh promosi maskapai penerbangan.
Sedangkan melimpahnya pasokan bawang putih impor dan kiriman luar daerah berhasil menstabilkan harga komoditas bumbu dapur tersebut.
“Kunci sukses terjaganya stabilitas harga ini terletak pada konsistensi sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang.”
“TPID secara konsisten mengeksekusi strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif,” sebut Indra.
Intervensi pasar digelar secara berkala lewat penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Pada 24 September 2026, TPID menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan menyalurkan 3 ton beras dan 500 liter Minyakita.
Inspeksi mendadak juga dilakukan bersama Tim Saber Pangan, Bapanas, dan Satgas Pangan Polresta Malang ke Pasar Blimbing, Pasar Klojen, hingga distributor CV Podo Seneng.
Sinergi kebijakan dikuatkan lewat High Level Meeting (HLM) TPID serta koordinasi rutin bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kemenko Bidang Pangan.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemda akan terus memperkuat Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) demi menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah. (Ra Indrata)




