MALANG POST – Muhammad Rizki Arzi, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, sukses meraih satu medali emas dan dua medali perak pada debutnya di Kejuaraan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2026 cabang para-atletik di Universitas Negeri.
Lintasan atletik menjadi arena pembuktian bagi Muhammad Rizki Arzi. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) ini berhasil membawa pulang satu medali emas dan dua medali perak dari ajang Kejuaraan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur (Keparprov Jatim) 2026.
Mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Informatika angkatan 2025 asal Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut menyabet medali emas pada nomor lari 800 meter. Sementara itu, dua medali perak masing-masing diraihnya pada nomor lari 400 meter dan 200 meter.
Keparprov Jatim 2026 diselenggarakan oleh National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Timur pada 19–20 September 2026 di lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kejuaraan tersebut diikuti ratusan atlet dan ofisial dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Bagi Arzi, pencapaian tersebut terasa sangat istimewa. Pasalnya, Keparprov Jatim 2026 merupakan panggung debutnya di ajang paralimpiade resmi. Ia datang bukan sebagai atlet unggulan, melainkan sebagai penantang yang ingin mengukur kemampuan setelah sebelumnya lebih banyak berlaga di kompetisi atletik umum.
Arzi merupakan penyandang disabilitas daksa dengan keterbatasan fungsi (impairment) pada anggota gerak atas. Dalam klasifikasi para-atletik, ia masuk kategori T45–47. Namun, kondisi tersebut tidak pernah dipandangnya sebagai penghalang.
“Klasifikasi ini bukan batas untuk menentukan apa yang bisa saya lakukan. Justru melalui klasifikasi ini, saya mendapatkan ruang untuk berkompetisi secara adil dengan atlet yang memiliki tingkat dampak impairment yang relatif setara,” ujar Arzi, Selasa (6/10/2026).
Menurut Arzi, faktor terpenting bukanlah keterbatasan fisik, melainkan konsistensi dalam mengembangkan potensi diri, baik sebagai atlet maupun mahasiswa.
Pengalaman perdana di arena para-atletik menuntut Arzi beradaptasi cepat dengan atmosfer perlombaan. Di lokasi pertandingan, ia bersaing langsung dengan atlet-atlet senior yang lebih berpengalaman dan berstatus juara bertahan.
Tantangan makin berat saat ia harus turun di nomor sprint 200 meter dan 400 meter yang membutuhkan kecepatan tinggi, padahal ia lebih terbiasa berlari di nomor jarak menengah (middle distance).
Ujian terberat terjadi ketika ia harus merampungkan nomor 800 meter, lalu hanya berselang sekitar 10 menit kemudian harus kembali masuk lintasan untuk bernomor 400 meter.
Kondisi fisik yang belum pulih sempurna memaksanya mengatur ritme napas, fokus, dan stamina mental dalam tempo sangat singkat.
“Setelah menyelesaikan lari 800 meter, tubuh tentu sangat lelah, sementara waktu pemulihan (recovery) sangat terbatas. Tantangannya bukan hanya kemampuan berlari, melainkan bagaimana memulihkan napas, menenangkan tubuh, serta menata fokus mental dalam waktu singkat,” tuturnya.

Momen krusial tersebut menjadi pengalaman paling berkesan bagi Arzi. Dari tiga nomor yang diikuti, ia berhasil mengamankan satu emas dan dua perak.
Medali emas di nomor 800 meter menjadi capaian paling bermakna baginya. Selain sebagai emas perdana di ajang paralimpiade, kemenangan tersebut diraih pada penampilan pertamanya.
Keparprov Jatim 2026 menjadi titik awal perjalanan Arzi di kancah para-atletik. Berangkat dengan status penantang, torehan ini menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk menatap kejuaraan lanjutan.
Perjalanan Arzi menuju Keparprov Jatim tidak terjadi secara instan. Sebelum bergabung dengan NPCI Kota Malang, ia kerap tampil di berbagai ajang atletik non-disabilitas.
Setibanya di Malang, Arzi berinisiatif mencari informasi mengenai NPCI Kota Malang. Tak disangka, komunikasi awal terjalin melalui pesan langsung (direct message/DM) di media sosial Instagram.
Dari percakapan tersebut, ia mendapat tawaran bergabung. Keparprov Jatim 2026 pun menjadi ajang perdana yang diikutinya bersama kontingen NPCI Kota Malang.
Di luar kesibukan atletik, Arzi aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Atletik Universitas Brawijaya. Bahkan, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum UKM Atletik UB periode 2026/2027.
Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa dan atlet menuntut kedisiplinan tinggi. Rutinitas Arzi dimulai sejak subuh. Sekitar pukul 05.00 WIB, ia sudah berada di lapangan untuk berlatih. Pukul 07.00 WIB, ia beralih ke kampus untuk mengikuti perkuliahan dan praktikum.
Sore hari kembali diisi dengan sesi latihan, sedangkan malam hari dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas akademik. Kunci konsistensinya adalah skala prioritas dan manajemen waktu yang ketat.
Ia selalu menyelesaikan tugas kuliah lebih awal agar tidak terbengkalai saat jadwal kompetisi padat. Selain berolahraga, Arzi juga aktif dalam kegiatan ilmiah, seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), penyusunan business plan, hingga penulisan artikel ilmiah.
Baginya, akademik dan olahraga bukan dua hal yang saling mengorbankan, melainkan dapat berjalan selaras melalui tata kelola waktu yang baik.
Keberhasilan Arzi juga ditopang oleh ekosistem kampus yang suportif. Sebagai mahasiswa FILKOM UB, ia merasakan dukungan penuh dari pihak fakultas dan universitas, terutama terkait dispensasi izin saat jadwal pertandingan bentrok dengan perkuliahan.
“Dukungan fakultas dan universitas sangat membantu saya menjalankan kewajiban akademis sekaligus tanggung jawab sebagai atlet,” ungkapnya.
Bagi Arzi, raihan satu emas dan dua perak bukan sekadar koleksi medali, melainkan bukti bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berprestasi.
Melalui lintasan atletik, ia belajar tentang keberanian, disiplin, dan daya bangkit. Di lingkungan Universitas Brawijaya, rekam jejak Arzi menjadi penanda nyata tumbuhnya semangat inklusivitas melalui karya dan prestasi. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




