MALANG POST – Pemerintah Kota Batu meluncurkan logo resmi Hari Jadi ke-25 Kota Batu, bertema “Kreatif Sae: Bangkit Bersama Jaga Alam Raya untuk Mbatu Sae Berkelanjutan” di Balai Kota Among Tani, Kamis (17/9/2026) malam, sebagai simbol arah pembangunan lima tahun ke depan.
Seperempat abad usia Kota Batu menjadi momentum untuk menatap masa depan dengan semangat baru. Pemerintah Kota (Pemkot) Batu bersama masyarakat resmi meluncurkan logo Hari Jadi ke-25 Kota Batu di Balai Kota Among Tani, Kamis (17/9/2026) malam.
Mengusung tema “Kreatif Sae: Bangkit Bersama Jaga Alam Raya untuk Mbatu Sae Berkelanjutan”, peluncuran logo tersebut sekaligus membawa pesan pembangunan Kota Batu untuk lima tahun ke depan. Semangat itu juga sejalan dengan langkah Kota Batu menuju pendaftaran UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027.
Wali Kota Batu, Nurochman, mengatakan bahwa usia 25 tahun bukan sekadar penanda bertambahnya umur daerah. Momen tersebut menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan pemerintahan sekaligus mengevaluasi pengabdian kepada masyarakat.
“Perjalanan Kota Batu tentu bukan waktu yang singkat bagi kita untuk berproses, menjalankan pemerintahan, dan terus melakukan evaluasi bagaimana pengabdian Pemerintah Kota Batu kepada masyarakat Kota Batu agar terus kita tingkatkan bersama-sama,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya.
Menurutnya, perayaan hari jadi tidak cukup hanya dimaknai sebagai seremoni atas capaian yang telah diraih. Momentum tersebut justru harus menjadi pijakan untuk menentukan arah pembangunan berikutnya.
Seluruh kebijakan pembangunan, lanjutnya, harus bermuara pada kemakmuran dan kemaslahatan masyarakat. Oleh karena itu, identitas visual HUT ke-25 tidak hanya menjadi simbol perayaan, melainkan juga membawa tiga pesan utama, yakni Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya, dan Kreatif Sae.

LAUNCHING LOGO: Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto dan Sekda Kota Batu Alfi Nurhidayat saat melaunching logo HUT ke 25 Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Pesan pertama, Bangkit Bersama, dimaknai sebagai semangat pemerintah dan masyarakat untuk berjalan berdampingan. Pemerintah tidak selalu harus berada di depan, melainkan ikut mendengarkan persoalan warga dan mencari solusi secara kolektif. “Sebab Kota Batu ini adalah milik seluruh warga yang hidup dan membangun harapan di dalamnya,” imbuhnya.
Pesan kedua, Jaga Alam Raya, berkaitan erat dengan karakter Kota Batu yang bertumpu pada kekayaan alam. Sektor pertanian, pariwisata, hingga ketahanan pangan sangat bergantung pada keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, pesan ketiga, Kreatif Sae, menjadi dorongan agar pemerintah dan masyarakat berani mencari cara-cara baru dalam menghadapi perubahan zaman. Potensi lokal harus terus dikembangkan dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi kreativitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Menyongsong lima tahun ke depan, Cak Nur menargetkan pembangunan Kota Batu tidak berhenti pada hasil fisik yang kasatmata semata. Lebih dari itu, pembangunan harus menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Target tersebut mencakup penguatan ekonomi lokal, menjaga kelestarian lingkungan, serta meningkatkan pelayanan publik agar makin responsif terhadap kebutuhan warga.
“Jadikan logo ini sebagai pengingat atas pekerjaan kita bersama bahwa perjalanan 25 tahun ini belumlah selesai. Mari kita bangkit bersama, jaga alam raya untuk Batu Sae Berkelanjutan,” tegasnya.
Ketua Panitia HUT Kota Batu, Badrut Tamam, mengatakan bahwa usia 25 tahun menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Kota Batu dari sebuah kota administratif hingga kini berkembang menjadi kota wisata yang dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
“Dari kota administratif kecil, sekarang kita menjadi kota wisata yang dikenal secara nasional bahkan internasional,” kata Badrut.
Oleh karena itu, peluncuran logo HUT ke-25 tidak sekadar menjadi perhelatan seremoni. Identitas visual tersebut dirancang untuk membawa pesan tentang kolaborasi, keberlanjutan, kreativitas, sekaligus potensi lokal Kota Batu.
Angka 25 menjadi elemen utama dalam logo. Di dalamnya terdapat simbol ruang negatif (negative space) berbentuk figur manusia yang sedang melangkah dan melompat tinggi. Bentuk tersebut terinspirasi dari pose ikonik Michael Jordan dan dimaknai sebagai aspirasi, keunggulan, ketangguhan, serta langkah bersama untuk terus bangkit.
Angka 5 dibuat lebih tinggi. Elemen tersebut merepresentasikan masa bakti Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu periode 2025–2030 dalam mengawal pembangunan dan mewujudkan mimpi bersama melalui 15 Program Prioritas.
Di antara angka 2 dan 5 terdapat simbol takhingga (infinity) yang menggambarkan hubungan tanpa batas antara pemerintah dan masyarakat. Hubungan tersebut diharapkan terus berjalan secara terbuka dan berkelanjutan.
Unsur alam juga menjadi bagian penting dalam identitas visual tersebut. Pegunungan menggambarkan ikon geografis Kota Batu, yakni Gunung Panderman, Arjuno, dan Welirang. Sementara itu, kesenian bantengan merepresentasikan kearifan budaya dan seni lokal.
Ada pula elemen bintang yang menggambarkan impian dan harapan untuk mewujudkan cita-cita daerah. Bentuk awan menjadi simbol optimisme, kemurnian, konektivitas, sekaligus komitmen menjaga kelestarian alam.
Palet warna logo menggunakan gradasi yang merepresentasikan potensi Kota Batu. Warna jingga menggambarkan semangat, energi, kehangatan, dan kebahagiaan. Hijau dan kuning merepresentasikan kesuburan tanah pegunungan yang menopang sektor pertanian sekaligus harmoni, kedamaian, dan pertumbuhan. Sementara itu, warna biru menggambarkan kesejukan udara Kota Batu, ketenangan, profesionalisme, serta kepercayaan.
Semangat tersebut kemudian diarahkan pada visi pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata. Kota Batu juga tengah mendorong penguatan sektor gastronomi yang berakar dari pertanian pegunungan, tradisi agraris, kekayaan pangan lokal, kreativitas UMKM, serta pengalaman wisata.
Seluruh potensi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi model Hexahelix. Dengan identitas baru HUT ke-25 ini, kekayaan lokal Kota Batu diharapkan makin kuat untuk dibawa ke ruang yang lebih luas, termasuk dalam perjalanan menuju UCCN 2027. (Ananto Wibowo)




