MALANG POST – Universitas Negeri Malang menggelar pelatihan pembuatan konten moderasi beragama berbasis deep learning bagi siswa dan guru di SMP Darul Faqih Indonesia, Kabupaten Malang, Sabtu (12/9/2026), untuk memperkuat literasi digital serta membentengi generasi muda dari ancaman radikalisme digital.
Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan pelatihan pembuatan konten moderasi beragama berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) bagi siswa multi-agama di Kabupaten Malang.
Kegiatan yang berlangsung di SMP Darul Faqih Indonesia pada Sabtu (12/9/2026) ini bertujuan memperkuat literasi digital, toleransi, serta ketahanan siswa terhadap narasi ekstrem dan informasi yang mengganggu harmoni kebangsaan.

Program ini merupakan respons atas kesenjangan literasi digital, minimnya interaksi lintas agama, serta maraknya intoleransi di ruang digital. Melalui pendekatan pendidikan transformatif, peserta tidak hanya diajak memahami keberagaman, melainkan juga mampu menerjemahkan nilai toleransi menjadi karya positif yang dapat disebarluaskan di media sosial.
Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Yusuf Hanafi, M.Fil.I., bersama timnya mengembangkan program yang mengintegrasikan teknologi digital, deep learning, dan pemberdayaan komunitas.
Saat menyajikan materi bertajuk “Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Bela Negara untuk Mengikis Radikalisme”, Prof. Yusuf menekankan bahwa radikalisme mengancam keutuhan NKRI dengan strategi mengaburkan sejarah, menghancurkan kearifan lokal, serta memicu konflik suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).
”Penguatan moderasi beragama tidak cukup secara konseptual. Siswa dan guru harus mampu mengenali ideologi radikal, mencegah paparan terhadap diri sendiri, dan melindungi lingkungan sekitar,” ujar Prof. Yusuf, Rabu (16/9/2026).
Ia menetapkan empat indikator moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, antiradikalisme, serta sikap akomodatif terhadap kearifan lokal. Guru didorong menjadi garda terdepan dalam membangun daya tahan siswa terhadap berita bohong (hoax) dengan aktif memproduksi konten positif dan menghindari sumber berpaham radikal.
Dr. Tsania Nur Diyana, M.Pd., dari Universitas Negeri Yogyakarta menambahkan pentingnya pendidikan transformatif yang mengubah cara pandang dan kebiasaan peserta didik.
”Pendidikan tidak cukup mentransfer pengetahuan, melainkan harus mengubah ‘tahu’ menjadi ‘sadar’, ‘peduli’, lalu ‘bertindak’. Sains memberi peta, agama memberi kompas, dan pendidikan mengubah keduanya menjadi tindakan nyata,” jelasnya.

Prinsip ini diterjemahkan dalam pelatihan melalui penguatan etika digital, keterampilan produksi konten, serta kemampuan merespons narasi intoleran. Teknologi diposisikan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana pendidikan nilai kebangsaan.
Program pengabdian ini direncanakan berlangsung selama sembilan bulan, mulai dari Maret hingga November 2026, dengan tahapan sebagai berikut:
Tahap Awal: Survei terhadap 200 siswa dan 50 guru, diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD), pemetaan infrastruktur digital, serta penyusunan modul.
Pelaksanaan: Lokakarya (workshop) dasar dan lanjutan, kampanye media sosial, pendampingan, serta evaluasi.
Tim menargetkan pelatihan bagi 100 guru dan 100 siswa terpilih, produksi minimal 100 konten digital moderasi beragama, pembentukan 10 kelompok kerja lintas agama, serta tiga kampanye media sosial berskala regional. Peserta akan dibekali modul, video tutorial, dan templat konten berbasis deep learning yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
Program ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam pengembangan pembelajaran inklusif dan berpikir kritis. UM berharap program ini dapat memutus jalur propaganda ekstrem di lingkungan pendidikan dan membangun ekosistem sekolah yang inklusif.
Pada akhirnya, siswa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, melainkan berkembang menjadi kreator digital yang bertanggung jawab, mampu mengelola perbedaan secara dewasa, serta berkontribusi nyata bagi harmoni masyarakat. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




