MALANG POST – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama pakar geofisika Universitas Brawijaya menegaskan, aktivitas erupsi gunung api tidak selalu identik dengan alarm darurat bahaya, melainkan dinamika alami berada di jalur ring of fire, Selasa (8/9/2026).
Anggapan bahwa setiap letusan gunung api, selalu berujung bencana mengerikan masih melekat kuat di benak publik. Padahal, bagi wilayah Indonesia yang dikelilingi rantai gunung aktif, aktivitas erupsi harian merupakan hal yang wajar.
Pemahaman mendasar itulah yang diluruskan dalam siaran Talkshow di program Idjen Talk, di Radio City Guide FM, Selasa (8/9/2026).
Kepala PVMBG, Rita Susilawati, membeberkan bahwa Indonesia mengantongi 127 gunung api aktif. Fenomena meletus kecil saban hari, justru menunjukkan dinamika jalur cincin api Pasifik (Pacific Ring of Fire).
Rita mencontohkan Gunung Semeru di Jawa Timur. Sepanjang periode Januari hingga September 2026, Gunung Semeru tercatat telah mengalami lebih dari 20 ribu kali letusan kecil.
“Aktivitas harian ini tidak selalu menjadi alarm merah. Erupsi berkala justru merupakan pelepasan energi secara bertahap,” kata Rita, Selasa (8/9/2026).
Rita menambahkan, tingkat bahaya tidak bisa diukur semata dari status levelnya. Petugas memantau kombinasi data visual, kegempaan, tekanan gas, hingga deformasi tubuh gunung.
Bahkan meski sama-sama berada di status Level II (Waspada), rekomendasi radius aman tiap gunung bisa berbeda.
Erupsi beruntun di pelbagai daerah juga dipastikan tidak saling berkaitan. Setiap gunung memiliki dapur magma dan siklus letusan sendiri.
Pandangan senada disampaikan Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya, Prof. Adi Susilo. According to Prof. Adi, letusan berkala skala kecil justru jauh lebih aman karena mencegah tumpukan energi raksasa.
“Yang berbahaya bukan letusan kecilnya, melainkan material lava lama yang menumpuk di puncak lalu mendadak ambrol mengarah ke permukiman,” terang Prof. Adi.
Prof. Adi menyebut ada berkah di balik musibah. Pasca-erupsi, endapan abu vulkanik menyuburkan tanah pertanian serta menyisakan material pasir bernilai ekonomi tinggi.
Namun, tantangan terbesar terletak pada kesadaran mitigasi. Pemerintah telah menyiapkan lebih dari 1.500 unit hunian tetap (huntap) untuk relokasi warga rawan. Sayangnya, banyak warga memilih kembali ke kawasan bahaya usai erupsi reda.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Satriyo Nurseno, menyebut Jawa Timur memiliki 7 gunung aktif. Dua di antaranya menunjukkan aktivitas sangat signifikan, yakni Kelud dan Semeru.
“Kolaborasi lintas instansi antara Pemerintah Pusat dan Daerah terus dipacu agar mitigasi bencana berjalan optimal di lapangan,” tegas Satriyo. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




