MALANG POST – PERUMDA Air Minum Tugu Tirta Kota Malang, di bawah kepemimpinan Direktur Utama Priyo Sudibyo, memperkuat transformasi pelayanan publik melalui peluncuran layanan AI TANIA, pemantauan 400 titik SCADA, serta target penyelesaian aduan maksimal 1×24 jam, Rabu (2/9/2026).
Pelayanan publik era digital menuntut kecepatan dan keterbukaan tanpa jeda. Kebutuhan air bersih warga kota tidak bisa ditawar dengan penanganan lambat.
Langkah taktis itulah yang terus dipoles PERUMDA Air Minum Tugu Tirta Kota Malang.
Direktur Utama Tugu Tirta sekaligus Ketua PD Perpamsi Jawa Timur, Priyo Sudibyo, menegaskan pelbagai inovasi diarahkan untuk memperkuat kepuasan pelanggan. Hal itu dibeberkannya dalam Talkshow Idjen Talk Radio City Guide FM, Rabu (2/9/2026).
Proses penanganan pengaduan kini dipantau ketat melalui sistem digital, mulai laporan masuk, eksekusi lapangan, hingga penyelesaian.
“Inovasi harus menghasilkan pelayanan lebih cepat dan memberikan kepastian kepada pelanggan,” tegas Priyo.
Kabid Software, Database, dan SCADA Tugu Tirta, Depri Setiawan, merinci layanan AI TANIA (Tugu Tirta Asisten Informasi dan Aduan) melayani hampir 2.350 percakapan selama Agustus 2026.
Layanan AI 24 jam ini menangani info tagihan hingga aduan kebocoran. Meski berbasis kecerdasan buatan, TANIA tidak menggantikan operator manusia. Jika butuh penjelasan spesifik, percakapan langsung dialihkan ke petugas.
Setiap personel penangan aduan dipatok KPI penyelesaian maksimal 1×24 jam berbasis penilaian sistem customer centric.
Guna mendeteksi dini gangguan pasokan, Tugu Tirta memasang sistem SCADA di 400 titik dari sumber air, reservoir, hingga pipa kritis. Penggunaan IoT dan data logger terus ditambah untuk membaca anomali debit lebih awal.
Cakupan tekanan air Tugu Tirta kini menembus 82 persen wilayah Kota Malang dengan tekanan minimal 0,5 bar hingga lantai satu rumah.
Tak sekadar digital, Tugu Tirta menggelar program “Sapa Pelanggan” dengan turun langsung menjaring kritik warga.
Untuk menjaga lingkungan, Tugu Tirta mengusulkan Raperda Pembatasan Penggunaan Air Tanah khusus sektor komersial seperti hotel dan restoran, bukan rumah tangga.
Akademisi FIA Universitas Brawijaya, Dr. Ike Wanusmawatie, mengingatkan digitalisasi harus memegang tiga prinsip: kemudahan, keterbukaan, dan kepastian penyelesaian.
Ike menekankan pentingnya layanan hybrid bagi warga yang mengalami jurang digital, serta pelembagaan sistem agar inovasi tidak bergantung pada figur pimpinan. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




