MALANG POST – Tim PPK Ormawa Himagri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pendampingan terpadu “Desa Wirausaha Craft-Hub” bagi perajin mendong di Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Selasa (2/9/2026). Program ini berfokus pada kalkulasi HPP, diversifikasi produk, hingga digitalisasi pemasaran.
Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar program pendampingan terpadu bagi para perajin mendong di Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.
Program yang merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) ini mengusung tema “Desa Wirausaha Craft-Hub”. Kegiatan ini bertujuan menginkubasi bisnis kerajinan mendong dari hulu ke hilir agar produk lokal mampu berdaya saing di pasar yang lebih luas.
Ketua Pelaksana PPK Ormawa Himagri UMM, Adryan Rizky, mewakili tim yang beranggotakan 14 mahasiswa, menyampaikan bahwa pendampingan ini merupakan pendekatan komprehensif dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
”Kami tidak hanya fokus pada peningkatan keterampilan produksi, tetapi juga pada penguatan fundamental bisnis serta perluasan akses pasar,” ujar Adryan, Selasa (2/9/2026).
Hal senada diungkapkan Dosen Pendamping, Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P.
”Program ini diharapkan bisa menjadi katalis bagi perajin untuk bertransformasi dari usaha tradisional menuju bisnis yang profesional dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Pendampingan juga diawasi langsung oleh Ir. Ary Bakhtiar, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng., selaku Penanggung Jawab PPK Ormawa UMM. Rangkaian program yang bergulir sejak pertengahan Juli 2026 ini menyentuh tiga pilar utama pengembangan usaha:
- Penguatan Fundamental Finansial: Untuk membekali perajin dengan kemampuan perencanaan keuangan yang matang, tim menggelar Pelatihan Manajemen Harga Pokok Produksi (HPP). Para perajin diedukasi untuk menghitung komponen biaya secara rinci—mulai dari bahan baku, tenaga kerja hingga biaya overhead—sehingga mereka mampu menetapkan harga jual yang akurat dan kompetitif tanpa mengorbankan margin keuntungan.
- Akselerasi Inovasi Produk: Untuk menghindari kejenuhan pasar, tim mahasiswa mendorong diversifikasi produk. Mendong tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah atau tikar konvensional. Warga dilatih menyulap mendong menjadi produk bernilai tambah, seperti tas kekinian yang memadukan anyaman lilit dengan kain batik dan kulit, hingga kerajinan estetik modern berupa jam dinding dan hiasan cermin.
- Digitalisasi Pemasaran dan Branding: Sebagai langkah untuk meruntuhkan batas geografis, Tim PPK Ormawa memberikan pelatihan branding dan digitalisasi. Para perajin yang terbiasa bertransaksi dari mulut ke mulut, kini didampingi untuk bermigrasi ke ekosistem digital. Pelatihan mencakup optimalisasi katalog WhatsApp Business, pengenalan pasar pada platform e-commerce besar seperti TikTok Shop, Shopee, dan Tokopedia, serta teknik fotografi produk dasar.
”Kami juga membekali mereka dengan modul yang aplikatif, termasuk cara membuka toko daring hingga teknik menentukan sudut dan pencahayaan yang tepat agar produk tampil memikat di etalase digital,” tambah Festy.
Melalui sinergi antara akademisi dan masyarakat desa ini, diharapkan keterampilan perajin Desa Blayu meningkat signifikan. Dengan pendekatan business incubation dan digital marketing, program ini diyakini mampu menciptakan kemandirian finansial masyarakat sekaligus memperkuat posisi Desa Blayu sebagai sentra wirausaha produk kreatif unggulan di Kabupaten Malang. (M. Abd. Rachman. Rozzi – Januar Triwahyudi)




