DEKAN FIKES UMM, Hidajah Rachmawati dalam konferensi internasional gabungan Health Science International Conference (HSIC) ke-5 dan International Student Conference (ISCC) ke-7, di UMM, Jumat (28/8/2026). (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
MALANG POST – Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) menggelar konferensi internasional gabungan Health Science International Conference (HSIC) ke-5 dan International Student Conference (ISCC) ke-7 secara hybrid di Auditorium GKB 5 UMM dan Zoom, Jumat (28/8/2026).
Tantangan dunia kesehatan global bergerak kian kompleks. Inovasi riset medis serta kolaborasi antar-peneliti antar-negara menjadi kunci utama menyelamatkan nyawa manusia.
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) mengambil peran aktif di garis depan. Kampus ini kembali menggelar panggung ilmiah berkelas dunia.
FIKES UMM menyelenggarakan dua konferensi internasional sekaligus. Perhelatan Health Science International Conference (HSIC) ke-5 disinergikan bersama International Student Conference (ISCC) ke-7.
Acara mengusung tema “Advancing Healthcare Innovation, Collaboration, and Sustainable Action”. Agenda berlangsung secara hybrid selama dua hari pada 28–29 Agustus 2026 di Auditorium Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM dan via Zoom.
Dekan FIKES UMM, Hidajah Rachmawati, mendampingi Ketua Panitia Nailis Syifa’, membeberkan gambaran besar perhelatan ini.
Forum internasional tersebut mempertemukan ratusan akademisi, peneliti, serta profesional kesehatan lintas negara.
“Kami menghadirkan tiga narasumber dari Jepang, satu dari Malaysia, serta pakar internal dari Departemen Farmasi, Fisioterapi, dan Keperawatan UMM,” kata Hidajah, Jumat (28/8/2026).
Agenda konferensi dibagi menjadi dua sesi utama. Hari pertama diisi seminar internasional yang menghadirkan empat pembicara luar negeri dan tiga pakar dalam negeri.
Hari kedua diisi agenda oral presentation serta presentasi poster ilmiah. Sesi ini memperebutkan penghargaan kategori Best Oral Presentation dan Best Poster.
Acara diikuti sekitar 200 peserta dari jenjang S1 hingga profesi Ners, Apoteker, dan Fisioterapis.
Hadir pula peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perwakilan UGM, UNEJ, UHAMKA, UAD, kampus dari Manado, Banjarmasin, hingga peserta asal Jepang.
Kegiatan ini turut ditopang Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APTFMA).
Penyelenggaraan konferensi rutin dua tahunan ini membawa manfaat nyata. Riset medis diperbarui, khususnya penemuan obat penyakit kronis dan kanker.
Publikasi ilmiah peneliti difasilitasi, sekaligus membuka ruang interaksi mahasiswa dengan pakar dunia. Kerja sama nota kesepahaman (MoU) antar-institusi ikut diperkuat.
Di sela kegiatan, Presiden Indonesian Society Cancer and Chemoprevention (ISCC), Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D., melempar data mengejutkan.
Prevalensi penyakit kanker di Indonesia menjadi penyerap anggaran BPJS Kesehatan terbesar kedua setelah penyakit ginjal.
“Prevalensi kanker di Indonesia naik sekitar 3 persen per tahun. Tingkat kematiannya naik hingga 3,6 persen,” ungkap Prof. Muchtaridi.
Mirisnya, sebanyak 60 hingga 70 persen pasien baru memeriksakan diri saat kanker memasuki stadium 3 dan 4 akibat rendahnya kesadaran deteksi dini.
Melihat kondisi darurat tersebut, ISCC yang beranggotakan 200 peneliti multidisiplin berfokus menggarap potensi biodiversitas Indonesia. Kekayaan bahan alam lokal diracik menjadi senyawa anti-kanker.
Guna menekan ledakan kasus kanker, ISCC membeberkan tiga langkah preventif sederhana bagi warga.
Pertama, membatasi konsumsi gula tinggi. Asupan gula berlebih wajib dikurangi—termasuk buah manis seperti mangga, melon, dan semangka—karena sel kanker tumbuh subur dari gula.
Kedua, meningkatkan asupan antioksidan. Warga diimbau mengonsumsi buah rendah gula seperti apel, stroberi, dan buah bit untuk memutus radikal bebas.
Ketiga, memanfaatkan bahan alam lokal. Riset tanaman herbal seperti ekstrak kunyit dan kulit manggis perlu dioptimalkan sebagai agen pencegah kanker.
Lewat publikasi pada Journal of Cancer Chemoprevention (Sinta 1), ISCC dan UMM optimistis sanggup mendorong aksi nyata pencegahan kanker sekaligus meringankan beban keuangan negara. (M. Abd. Rachman Rozzi)




