MALANG POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mengintensifkan upaya mitigasi ancaman banjir bandang dari kawasan hulu. Sebagai langkah preventif, BPBD menyisir dan membersihkan 109 titik rawan penyumbatan di sepanjang alur sungai hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Mitigasi yang berlangsung sejak Juni hingga tuntas pada 12 Agustus 2026 tersebut berfokus pada pemetaan titik rawan sekaligus pembersihan material kayu, rumpun bambu, dan longsoran yang berpotensi menyumbat aliran air hingga membentuk bendung alam saat hujan deras.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, mengatakan bahwa penyisiran dilakukan sebagai langkah antisipasi dini menghadapi musim penghujan.
“Dari rangkaian kegiatan yang kita mulai sejak Juni dan selesai 12 Agustus kemarin, tim berhasil mengidentifikasi dan membersihkan 109 titik rawan,” terangnya, Minggu (23/8/2026).

SUSUR SUNGAI: BPBD Kota Batu bersama tim gabungan saat melakukan susur sungai, mengantisipasi banjir bandang saat musim hujan tiba nanti. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sebaran 109 Titik Rawan di Enam Kawasan Sungai
Sebanyak 109 titik rawan yang dipetakan oleh tim gabungan tersebar di enam kawasan alur sungai hulu:
- Sumber Darmi (17 Titik): Ditemukan 16 titik kayu tumbang dan satu titik longsor. Kawasan ini memiliki catatan kebencanaan karena sebelumnya pernah diterjang banjir bandang hingga memutus pipa jaringan air bersih milik Perumdam Among Tirto.
- Sungai Krecek (27 Titik): Terdiri atas 18 kayu melintang, satu rumpun bambu, tiga titik longsor, serta tujuh aliran sungai baru.
- Glagahwangi (26 Titik): Meliputi delapan kayu tumbang, 10 rumpun bambu, satu titik longsor, enam aliran baru, serta tumpukan sampah pertanian.
- Sumber Brantas Pohon 8 (10 Titik): Terdiri atas 10 titik rawan, dengan empat di antaranya merupakan titik aliran yang terdampak longsoran.
- Coban Petung dan Pusung Lading (56 Titik): Masing-masing kawasan ditemukan 28 titik rawan penyumbatan. Material tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi menghambat laju air ketika debit sungai meningkat.
Pembelajaran dari Tragedi Bulukerto 2021

Gatot menegaskan bahwa pembersihan di kawasan hulu merupakan upaya preventif sekaligus pembelajaran penting dari tragedi banjir bandang di Bulukerto pada November 2021 lalu.
Kala itu, material kayu dari kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2019 terbawa aliran hujan. Material kayu mati dan tumbang tersebut menumpuk hingga membentuk bendung alam di kawasan Pusung Lading. Saat hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan hulu, bendung alam jebol dan mengalirkan air bah bercampur lumpur serta kayu ke permukiman warga.
“Mitigasi ini sifatnya menyeluruh. Pohon-pohon yang melintang kita potong-potong agar tidak menghalangi arus air, lalu disisihkan ke pinggiran sungai,” lanjut Gatot.
Menurutnya, pembersihan di kawasan hulu sangat vital untuk memperkecil risiko terbentuknya bendung alam kembali. Material seperti kayu tumbang, bambu, longsoran, hingga sampah pertanian merupakan pemicu utama penyumbatan saat terbawa arus deras.
Dengan rampungnya penyisiran 109 titik tersebut, BPBD Kota Batu berharap potensi hambatan aliran sungai dapat ditekan sebelum memasuki periode hujan berintensitas tinggi. Mitigasi di kawasan hulu pun terus menjadi perhatian utama untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi di Kota Batu. (Ananto Wibowo)




