Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust, M.M. (dua dari kiri) saat memberikan materi di acara KELASIUM yang digelar oleh Perpustakaan UM. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Menepis pandangan usang di era AI, Pustakawan UM Teguh Yudi Cahyono tegaskan peran pustakawan modern kian vital, sebagai kurator informasi kredibel dan penjaga mutu ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara manusia memperoleh informasi. Kini, jawaban atas berbagai pertanyaan hanya berjarak beberapa detik melalui mesin pencari atau aplikasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Di tengah kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: Apakah peran pustakawan masih relevan di era modern?
Menjawab hal itu, Pustakawan Universitas Negeri Malang (UM) Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust., M.M. menegaskan bahwa jawabannya bukan sekadar masih relevan, melainkan justru semakin penting. Sebab, yang berubah bukan kebutuhan terhadap pustakawan, melainkan bentuk perannya.
Sayangnya, hingga hari ini masih banyak pihak memandang pustakawan sebatas penjaga rak buku atau petugas peminjaman koleksi. Pandangan seperti ini sudah tidak lagi sesuai dengan realitas. Perpustakaan modern telah bertransformasi menjadi pusat pengetahuan, sementara pustakawan dituntut menjadi penghubung antara manusia dan informasi yang benar, kredibel, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Teguh menyoroti perubahan besar dalam ekosistem informasi saat ini. “Di era ketika siapa pun dapat memproduksi informasi, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan sumber bacaan, melainkan banjir informasi yang sulit dibedakan antara fakta, opini, dan disinformasi,” tegas Teguh, Jumat (7/8/2026).
Teknologi memang mampu menyajikan jutaan hasil pencarian dalam hitungan detik, tetapi tidak selalu menjamin kualitas informasi tersebut. Di sinilah pustakawan memiliki posisi strategis sebagai kurator informasi.
Perguruan tinggi menjadi contoh nyata bagaimana peran tersebut semakin dibutuhkan. Mahasiswa, dosen, hingga peneliti membutuhkan pendamping dalam menelusuri literatur ilmiah, mengelola referensi, memahami etika akademik, hingga menghindari jurnal predator (predatory journal). Semua itu bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas ilmu pengetahuan.
Ironisnya, kontribusi pustakawan sering kali tidak terlihat. Keberhasilan publikasi ilmiah kerap hanya dikaitkan dengan penulisnya. Padahal, di balik proses tersebut terdapat peran pustakawan yang memastikan validitas sumber dan ketepatan pengelolaan referensi.
“Pustakawan bekerja di balik layar, tetapi dampaknya sangat nyata terhadap mutu pendidikan dan penelitian,” ujarnya.
Era kecerdasan buatan juga memunculkan tantangan baru. Sebagian pihak menganggap AI akan menggantikan profesi pustakawan. Namun, Teguh menilai anggapan tersebut terlalu sederhana.
“AI memang mampu mempercepat pencarian informasi, tetapi belum mampu menggantikan penilaian kritis, pertimbangan etis, maupun kemampuan memahami konteks akademik secara utuh,” tambahnya.
Oleh karena itu, pustakawan justru perlu hadir untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap bertanggung jawab.
Transformasi peran pustakawan tentu tidak dapat berjalan sendiri. Perguruan tinggi perlu memandang perpustakaan sebagai investasi strategis, bukan sekadar unit pendukung. Di sisi lain, pustakawan juga dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi, mulai dari literasi data, pengelolaan informasi digital, hingga kemampuan komunikasi.
Di tengah derasnya arus digital, Teguh menegaskan pentingnya perubahan paradigma ini. Pustakawan bukan lagi sekadar penjaga koleksi, melainkan penjaga kualitas pengetahuan.
Pada akhirnya, modernitas tidak mengurangi arti penting pustakawan. Justru semakin maju teknologi, semakin besar kebutuhan akan profesi yang mampu memastikan informasi digunakan secara benar.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap profesi ini. Pustakawan harus tampil sebagai mitra pembelajaran, pendamping riset, penggerak literasi digital, sekaligus agen perubahan yang memperkuat daya saing perguruan tinggi. Ketika pengetahuan menjadi fondasi kemajuan bangsa, pustakawan adalah salah satu pilar yang memastikan fondasi itu tetap kokoh. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




