MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), terus memperkuat komitmen pencetakan SDM unggul di sektor agrifood global, melalui penguatan Program Studi Bisnis Industri Perunggasan. Langkah strategis ini dimatangkan dalam diskusi bersama Staf Ahli Wamen Diktisaintek, Dr. Gufron Amirullah, M.Pd., dan Direktur Bina Talenta Ditjen Diktisaintek Prof. Dr. rer. pol. Heri Kuswanto, M.Si., di Kampus UMM, Kamis (23/7/2026).
Ketahanan pangan kini tidak lagi dipandang semata sebagai isu sektor pertanian, melainkan telah menjadi agenda strategis yang menentukan stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan daya saing suatu negara.
Di tengah pertumbuhan populasi dunia, perubahan iklim, transformasi teknologi, serta dinamika rantai pasok global, kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola bisnis pangan secara inovatif menjadi semakin mendesak.
Dalam konteks tersebut, pendidikan vokasi dituntut bertransformasi secara masif. Vokasi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga melahirkan talenta yang mampu memimpin transformasi industri pangan dari hulu hingga hilir.
Sektor perunggasan menjadi salah satu pilar dengan posisi sangat strategis dalam ekosistem pangan global. Selain menghasilkan komoditas protein yang dikonsumsi masyarakat setiap hari, sektor ini membentuk mata rantai ekonomi yang amat luas.
Rantai tersebut mencakup industri pembibitan, formulasi pakan, kesehatan hewan, produksi, pengolahan pangan, logistik, pemasaran, ekspor, hingga pengembangan teknologi dan inovasi berbasis data. Kompleksitas tersebut menjadikan bisnis industri perunggasan memiliki prospek karier dan kewirausahaan yang terus berkembang pesat di tingkat nasional maupun internasional.

DI JAKARTA: Diskusi pengembangan Program Studi Bisnis Industri Perunggasan Universitas Muhammadiyah Malang bersama Dr. Gufron Amirullah, M.Pd., Staf Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi serta Prof. Dr. rer. pol. Heri Kuswanto, M.Si., Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan. (Foto: Istimewa)
Perspektif strategis tersebut mengemuka dalam diskusi pengembangan Program Studi Bisnis Industri Perunggasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Dr. Gufron Amirullah, M.Pd. (Staf Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) serta Prof. Dr. rer. pol. Heri Kuswanto, M.Si. (Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan).
Diskusi yang digelar di Kampus UMM tersebut turut dihadiri oleh Ketua Program Studi Wahid Muhammad Shodiq beserta jajaran dosen, Festy Putri Ramadhani dan Rafwan Afandi. Pertemuan ini membahas berbagai langkah taktis dalam memperkuat pendidikan vokasi agar semakin adaptif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi global.
Salah satu fokus utama yang berkembang dalam forum tersebut adalah pentingnya membangun positioning dan branding program studi vokasi secara lebih kuat. Di era ketika generasi muda memiliki beragam pilihan karier, program studi tidak cukup hanya menawarkan kurikulum yang baik.
Seperti yang telah dijalankan oleh Vokasi Agribisnis Unggas UMM, pendidikan vokasi perlu menghadirkan identitas yang jelas, menunjukkan keunggulan kompetensi, serta membangun ekosistem pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata melalui kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, asosiasi profesi, dan mitra internasional.
Selain penguatan kurikulum berbasis industri, diskusi menyoroti pentingnya pengembangan sertifikasi kompetensi berstandar nasional maupun internasional, peningkatan kapasitas dosen, serta perluasan jejaring strategis yang mampu membuka akses mahasiswa terhadap best practices industri global.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, kepemimpinan, jiwa kewirausahaan, serta kesiapan untuk berkompetisi dalam ekosistem agrifood dunia.
Bagi Program Studi Bisnis Industri Perunggasan UMM, penguatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam membangun pendidikan vokasi berorientasi masa depan.
Fokus pembelajaran tidak hanya diarahkan pada aspek produksi budi daya, melainkan pada pengembangan strategi bisnis, inovasi, keberlanjutan, manajemen rantai pasok (supply chain), perdagangan internasional, dan penciptaan nilai tambah di seluruh rantai industri perunggasan.
Dengan pendekatan terpadu tersebut, mahasiswa dipersiapkan menjadi talenta unggul yang mampu membaca peluang pasar, membangun kolaborasi lintas sektor, serta menghadirkan solusi konkret bagi tantangan pangan yang kian kompleks.
Transformasi pendidikan vokasi pada akhirnya bukan sebatas mencetak lulusan yang siap bekerja. Lebih dari itu, pendidikan vokasi diharapkan lahir sebagai pencetak generasi yang siap memimpin perubahan, memperkuat daya saing industri nasional, serta berkontribusi nyata dalam mewujudkan sistem pangan yang tangguh, inovatif, dan berkelanjutan di tingkat global. (M. Abd. Rachman Rozzi / Januar Triwahyudi)




