RESMI: Fajar Dewantara dan Ketua KUD Dadi Jaya, Nurianto, secara simbolis membuka selubung penutup papan nama, dalam seremoni inaugurasi closed-barn. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – PT Nestlé Indonesia di KUD Dadi Jaya Pasuruan, meresmikan teknologi kandang tertutup (closed-barn system) serta menyerahkan 90 ekor sapi perah impor, untuk tiga KUD di Pasuruan dan Kabupaten Malang, sebagai langkah strategis memodernisasi peternakan susu nasional dan menjaga kelestarian lingkungan pegunungan di Jawa.
Angka ini sungguh bikin geleng-geleng kepala: 80 persen. Ya, sebanyak 80 persen kebutuhan susu nasional kita, masih harus bergantung pada impor.
Setiap tahun, Indonesia butuh lebih dari 5 juta ton susu. Kalau dihitung rerata, rakyat kita yang berjumlah 288,3 juta jiwa ini cuma kebagian 16,7 kilogram susu per orang dalam setahun. Tahu artinya? Kalau dibagi harian, tiap orang cuma dapat jatah satu sendok makan per hari. Alias 5 sampai 6 miligram saja.
Kondisi ini makin genting ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) bergulir. Kebutuhan susu nasional langsung melonjak drastis, bisa menembus 6 juta ton.
MBG saja butuh 4,8 miliar kemasan susu per tahun. Padahal kemampuan produksi dalam negeri yang ada sekarang baru menyanggupi 2,3 miliar kemasan.
Masalahnya lagi: 20 persen susu lokal kita itu, mayoritas—sekitar 60 persennya—dihasilkan dari dataran tinggi Jawa Timur. Mulai dari Pasuruan hingga Pujon.
Di sinilah masalah ekologis besar mengintai.
Sapi-sapi perah unggulan itu didatangkan dari negara beriklim sedang (temperate) atau subtropis. Sapi bule itu tidak tahan panas. Makanya, peternak kita selalu membawa mereka naik ke wilayah pegunungan yang bersuhu dingin.
Dampaknya buruk bagi daya dukung pulau Jawa. Tutupan hutan di Jawa kini menyusut, tinggal 19 hingga 23 persen. Jawa yang idealnya ditumpangi 109 juta jiwa, kini dijejali 157 juta manusia. Kalau gunung-gunung di Jawa terus dibebani oleh ribuan ekor sapi perah, tata air makin rusak dan limbahnya mencemari sumber daya alam yang tersisa.

DISKUSI: Wamenko Pangan, Hanif Faisol saat berbincang dengan Fajar Dewantara. Disaksikan Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, saat berada di closed-barn milik KUD Dadi Jaya Purwosari. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Lalu, bagaimana solusinya? Apakah sapi harus tetap dipelihara di gunung?
Jawabannya ada di KUD Dadi Jaya, Purwodadi, Kabupaten Malang-Pasuruan. Hari itu digelar seremoni inaugurasi closed-barn system (sistem kandang tertutup) sekaligus penyerahan 90 ekor sapi perah impor.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, secara terbuka angkat topi atas langkah terobosan dari PT Nestlé Indonesia ini.
“Dari 80-an industri, salah satunya Nestlé yang punya industri tapi memikirkan dengan cermat kondisi hulu atau petaninya. Yang lain kadang tidak punya petani binaan, kita cuma dijadikan pasar,” tegas Hanif usai memantau inovasi tersebut.
Konsep closed-barn ini mirip dengan sistem close house pada peternakan ayam potong modern.
Dengan rekayasa iklim (mikroklimat) di dalam kandang tertutup, suhu udara bisa diatur agar tetap sejuk. Hasilnya ajaib: sapi-sapi impor asal daerah dingin bisa hidup nyaman dan produktif di dataran rendah.
“Saya sangat berharap riset ini diintensifkan. Jadi sapi-sapi perah ini kelak bisa hidup di Bojonegoro, bisa hidup di Surabaya.”
“Daerah pegunungan fokus untuk menjaga tata air, sedangkan daerah bawah jadi pusat produksi,” papar Hanif.
Pemerintah pun berencana membawa model closed-barn buatan Nestlé ini menjadi rujukan nasional.
Bagi Nestlé, langkah ini adalah kelanjutan dari napas panjang kemitraan mereka di Jawa Timur sejak setengah abad lalu.
Director of Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia, Fajar Dewantara, menceritakan kembali sejarah manis itu. Kemitraan Nestlé dengan peternak rakyat di Jawa Timur dimulai sejak tahun 1975.
“Waktu itu dimulai dari penyerahan susu segar dalam skala yang sangat kecil, hanya 160 liter per hari,” kenang Fajar.
Kini, dari angka 160 liter itu, kemitraan membengkak melayani belasan ribu peternak rakyat. Bahkan peternak binaan Nestlé saat ini sudah memasuki generasi kedua dan ketiga.
Melalui tim khusus yang bernama Milk Procurement and Dairy Development (MPDD)—tim lapangan bernyalas jins dan berkaos putih yang saban hari berada di kandang—Nestlé mendampingi koperasi, memberikan akses teknologi, hingga menyerahkan bantuan sapi unggulan.
“Bagi kami, kemitraan ini bukan hanya bicara tentang susu segar dan produktivitas. Kemitraan ini tentang bagaimana kita bertumbuh bersama dan membawa makna nyata bagi Indonesia,” ujar Fajar Dewantara.
Susu nasional memang masih mengimpor 80 persen. Tapi dari kandang tertutup di Pasuruan ini, sebuah sintesis baru sedang dirajut: menyelamatkan lingkungan gunung Jawa, sekaligus mendongkrak produksi susu dalam negeri dari dataran rendah. (Ra Indrata)




