Apoteker Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), apt. Nisa Permatasari Wiyono, S.Farm. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Penggunaan suplemen pemacu pembakaran lemak (fat burner), kerap dianggap sebagai sarana instan untuk menurunkan berat badan tanpa perlu mengubah pola makan. Namun, Apoteker Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), apt. Nisa Permatasari Wiyono, S.Farm., menegaskan bahwa anggapan tersebut merupakan bentuk kekeliruan persepsi. Fat burner pada dasarnya hanya berfungsi sebagai pendukung (booster), sementara faktor penentu utama penurunan lemak tubuh (fat loss) tetap bergantung pada konsistensi penerapan defisit kalori dan pola hidup sehat.
Suplemen fat burner hingga kini masih menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari oleh masyarakat yang mendambakan penurunan berat badan secara praktis. Namun, tidak sedikit konsumen yang merasa kecewa karena tidak kunjung mendapatkan perubahan bentuk tubuh meskipun telah mengonsumsinya secara rutin setiap hari.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik, apakah fat burner benar-benar efektif untuk memangkas cadangan lemak tubuh?
Apoteker Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), apt. Nisa Permatasari Wiyono, S.Farm., menjelaskan bahwa anggapan fat burner mampu membakar lemak secara cepat tanpa adanya perubahan gaya hidup merupakan persepsi yang kurang tepat dalam ilmu farmasi dan gizi.
Faktanya, suplemen tersebut hanya berfungsi sebagai pendukung program penurunan lemak (fat loss), bukan faktor tunggal yang menentukan keberhasilannya. Kunci utama dalam mengurangi lemak tubuh tetap berada pada kondisi defisit kalori, yakni situasi ketika jumlah kalori yang dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan dengan energi yang dibakar oleh tubuh.
“Fat burner bukanlah obat ajaib. Suplemen ini hanya membantu mengoptimalkan proses pembakaran lemak apabila seseorang sudah menjalankan prinsip defisit kalori, yang dibarengi dengan menjaga pola makan, berolahraga secara teratur, serta memiliki waktu istirahat yang cukup,” ujar Nisa.
Dalam kondisi defisit kalori, tubuh secara alami akan membakar cadangan lemak untuk diubah menjadi sumber energi. Selama proses tersebut berjalan, munculnya rasa lapar merupakan reaksi biologis yang wajar karena tubuh menerima asupan energi yang lebih sedikit dari biasanya.
Sayangnya, ketidakmampuan mengendalikan rasa lapar sering kali menjadi penyebab utama kegagalan program diet. Banyak orang akhirnya mengonsumsi makanan secara berlebihan sehingga kondisi defisit kalori gagal tercapai. Akibatnya, penggunaan suplemen fat burner tidak memberikan hasil yang signifikan.
Bahkan sebaliknya, seseorang yang konsisten menerapkan defisit kalori tetap mampu menurunkan kadar lemak tubuh secara bertahap meskipun tanpa mengonsumsi fat burner sama sekali.
Meski demikian, apt. Nisa tidak menampik bahwa beberapa produk fat burner berkualitas memang diformulasikan dengan bahan aktif yang berfungsi membantu percepatan metabolisme, antara lain:
- Kafein: Berfungsi sebagai stimulan sistem saraf pusat untuk meningkatkan pengeluaran energi, fokus, dan laju metabolisme harian.
- Green Tea Extract: Mengandung senyawa epigallocatechin gallate (EGCG) yang membantu merangsang proses termogenesis agar pembakaran kalori lebih optimal.
- L-Carnitine: Senyawa asam amino yang berperan mengangkut asam lemak bebas ke dalam mitokondria sel untuk diubah menjadi energi.
- Green Coffee Bean Extract: Mengandung asam klorogenat yang diyakini membantu menekan penyerapan karbohidrat serta menjaga kestabilan kadar gula darah.
- Yohimbe: Senyawa alami yang berpotensi meningkatkan pelepasan asam lemak sehingga lebih mudah dimanfaatkan tubuh saat beraktivitas fisik.
- Vitamin B Kompleks (B6 dan B12): Membantu mengoptimalkan proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein menjadi pasokan energi harian.
Kendati memiliki rupa-rupa kandungan bermanfaat, efektivitas seluruh bahan aktif tersebut tetap bergantung pada pola hidup yang dijalankan oleh penggunanya. Tidak ada satu pun jenis suplemen yang dapat menggantikan fungsi vital dari pengaturan pola makan seimbang dan olahraga teratur.
“Keberhasilan program fat loss tidak ditentukan oleh suplemen yang diminum, melainkan oleh konsistensi dalam menjalankan defisit kalori, olahraga terstruktur, kecukupan nutrisi, serta kualitas tidur harian,” tegas Nisa.
Edukasi yang diberikan Klinik Pratama UM ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin 3 (Good Health and Well-being). Langkah ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kesehatan masyarakat melalui literasi gizi yang benar, pencegahan risiko obesitas, serta penerapan strategi pengelolaan berat badan yang aman berdasarkan bukti ilmiah (evidence-based). (*/M. Abd. Rachman Rozzi / Januar Triwahyudi)




