MALANG POST – Setelah menuntaskan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) selama hampir sepuluh bulan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), lima mahasiswa internasional penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), resmi memasuki tahapan baru melalui Program Imersi. Kegiatan transisi akademik yang rampung digelar secara bertahap pada awal Juli 2026 ini, dirancang sebagai jembatan orientasi lingkungan kampus dan sistem perkuliahan sebelum mereka memulai studi reguler pada jenjang magister serta doktoral di fakultas tujuan masing-masing.
Setelah menyelesaikan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) selama hampir satu tahun di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), lima mahasiswa internasional penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) kini memasuki tahapan baru melalui program imersi.
Kegiatan ini menjadi jembatan krusial bagi para mahasiswa asing untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik di fakultas tujuan masing-masing sebelum memulai perkuliahan reguler pada semester mendatang.
Program imersi merupakan bagian dari proses transisi mahasiswa KNB dari pembelajaran bahasa menuju adaptasi kehidupan akademik di bidang keilmuan yang akan mereka tekuni. Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa didampingi oleh dosen dan tutor FIB UB untuk beradaptasi dengan atmosfer kampus, memahami sistem administrasi akademik, serta mengenali berbagai fasilitas pendukung pembelajaran.
Lima mahasiswa KNB yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai negara berkembang dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam. Mereka adalah Jean Pierre Karekezi dari Rwanda yang akan menempuh studi Magister Teknik Pengairan; Yahaya Lawan dari Nigeria pada Program Magister Statistika; Ilda Fatima Soares dari Timor Leste di Program Magister Kebidanan; Kombo Ali Kombo dari Tanzania yang melanjutkan studi Doktor Kimia; serta Tlamelo Emily Nkole dari Botswana pada Program Magister Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan dan Pembangunan.

Pelaksanaan program imersi ini dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan jadwal luang dari masing-masing mahasiswa. Tlamelo Emily Nkole mengikuti kegiatan pada 25 Juni 2026, Ilda Fatima Soares pada 23 Juni 2026, dan Yahaya Lawan pada 30 Juni 2026. Sementara itu, Jean Pierre Karekezi melaksanakannya pada 3 Juli 2026, serta Kombo Ali Kombo mengikuti rangkaian kegiatan pada 2–3 Juli 2026 yang diisi dengan agenda kunjungan fakultas, seminar orientasi, serta pengenalan laboratorium kimia sebagai persiapan memasuki program doktoralnya.
Berbeda dengan kegiatan perkuliahan formal, program imersi lebih menitikberatkan pada orientasi lapangan. Para mahasiswa diajak berkeliling wilayah fakultas tujuan untuk mengenal lokasi-lokasi penting seperti ruang kelas, ruang ketua program studi, laboratorium spesifik, perpustakaan, kantin, musala, toilet, hingga fasilitas penunjang kemahasiswaan lainnya. Karena pelaksanaan berlangsung saat masa libur semester perkuliahan, pengenalan difokuskan melalui tur kampus dan orientasi lingkungan sebagai bekal awal.
Selain orientasi fisik lingkungan fakultas, kegiatan ini juga menjadi momen penting serah terima mahasiswa dari pihak FIB UB kepada fakultas tujuan masing-masing. Proses ini menandai selesainya masa pembinaan intensif bahasa Indonesia di bawah pengelolaan Program BIPA FIB UB, sekaligus dimulainya fase baru mereka sebagai mahasiswa reguler Universitas Brawijaya.
Pendampingan koordinasi tersebut dilakukan bersama Fadli Robbianto Basuki, S.E., dari bagian International Academic Affairs (IAA) UB, sehingga proses adaptasi birokrasi akademik dapat berlangsung dengan lebih lancar.
Selama kegiatan imersi, mahasiswa didampingi oleh tiga tutor Program BIPA, yaitu Ghaitsa Zahira Shoffa, Akhmad Rafli, dan Maulana Fardan Alhamdi. Pendampingan akademik juga melibatkan jajaran dosen ahli, yakni Faridah Suciyatmi, M.Pd., Febi Ariani Saragih, M.Pd., serta Dr. Nia Budiana, M.Pd., yang selama ini berperan aktif dalam proses pengajaran bahasa Indonesia bagi para mahasiswa KNB tersebut.
Program imersi ini sekaligus menjadi penutup dari seluruh rangkaian pembelajaran BIPA yang telah dijalani mahasiswa KNB selama kurang lebih sepuluh bulan di FIB UB. Selama masa studi tersebut, mereka tidak hanya mempelajari tata bahasa Indonesia di dalam kelas, tetapi juga diperkenalkan dengan khazanah budaya Nusantara melalui berbagai kegiatan luar ruang (outdoor).
Di antaranya meliputi kunjungan ke situs sejarah kelokalan, pusat kebudayaan daerah, partisipasi kegiatan keagamaan Ramadan, hingga wisata edukatif ke Gunung Bromo. Seluruh pengalaman empiris tersebut dirancang untuk membangun kompetensi berbahasa sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding) sebelum mereka menempuh studi akademik lanjut. (*/M. Abd. Rachman Rozzi / Januar Triwahyudi)




