DUEL: Leo Guntara dan Gabriel Silva, saat berlatih di Malang, untuk persiapan turun di Piala Presiden 2026. Arema FC akan berlaga di Bandung mulai 25 Juli mendatang. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih Arema FC Marcos Santos, kembali memimpin sesi latihan di Malang pada Sabtu (18/7/2026), untuk menghadapi Piala Presiden 2026, di tengah pembatasan regulasi panitia, yang hanya mengizinkan kuota maksimal 35 orang per tim, termasuk ofisial menuju Bandung.
Marcos Santos akhirnya kembali ke Bumi Arema. Sabtu (18/7/2026) kemarin. Pelatih asal Brasil itu langsung meniup peluit, memimpin sesi latihan Singo Edan. Kedatangannya melengkapi pekan ketiga persiapan tim.
Arema FC kini sedang bersiap menghadapi dua agenda besar sekaligus: Piala Presiden 2026 dan kompetisi kasta tertinggi Super League 2026/2027.
Memasuki musim keduanya di Malang, Marcos tampak sangat antusias. Baginya, kembali ke Indonesia dan bertemu Aremania, bukan sekadar urusan profesional kerja. Ada motivasi besar yang menyala. Dia ingin melanjutkan fondasi yang sudah dibangun susah payah sejak musim lalu.
“Sangat menyenangkan bisa kembali ke Malang. Saya berharap semua orang bisa melihat Arema FC yang lebih kuat, lebih solid, dan lebih berkomitmen musim ini. Kita adalah tim besar yang setiap tahunnya wajib melangkah lebih baik,” ujar Marcos Santos dengan nada optimis.
Modal untuk terbang tinggi musim ini dirasa lebih matang. Komunikasi intens antara dirinya dan manajemen sejak akhir musim lalu membuahkan hasil manis.
Marcos mengaku sangat puas dengan komposisi skuad yang berhasil dibangun bersama para petinggi klub. Di matanya, ruang ganti Arema kini diisi oleh para pemain profesional yang punya komitmen tinggi untuk bertarung demi logo di dada.
Target pribadi Marcos pun tidak pernah bergeser satu sentimeter pun. Klub sebesar Arema FC, menurutnya, habitat aslinya adalah di papan atas. Bukan di papan tengah, apalagi bawah.
Turnamen pramusim Piala Presiden 2026 yang sudah di depan mata akan menjadi laboratorium pertamanya. Turnamen ini akan dimaksimalkannya untuk mempercepat adaptasi para pemain baru sekaligus menyatukan chemistry tim sebelum kompetisi resmi bergulir.
Namun, ujian pertama justru datang dari meja panitia penyelenggara. Rencana besar Arema FC mendadak terbentur tembok regulasi.
Awalnya, tim pelatih berniat memboyong seluruh kekuatan penuh ke Bandung untuk melakoni fase Grup A. Mereka dijadwalkan bentrok melawan Persib Bandung, Tampines Rovers, dan DPMM FC di Stadion Si Jalal Harupat. Apa daya, aturan terbaru memaksa manajemen memutar otak dan mencoret banyak nama dari manifest penerbangan.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, membeberkan batasan ketat tersebut. Kuota rombongan dibatasi sangat ketat oleh panitia.
“Kita tidak bisa membawa semua pemain ke Bandung. Regulasi menetapkan maksimal hanya 35 orang per tim. Celakanya, kuota 35 orang itu bukan cuma untuk pemain, tapi sudah termasuk jajaran pelatih dan seluruh ofisial tim,” ungkap Yusrinal.
Hitung-hitungannya menjadi rumit. Saat ini, Arema FC memiliki total 34 pemain yang dikontrak untuk Super League 2026/2027. Rinciannya: 23 pemain lokal dan 11 pemain asing. Jika seluruh pemain dibawa, kuota 35 orang jelas langsung habis, dan tim tidak akan punya pelatih, dokter, maupun kitman di pinggir lapangan. Mustahil.
Konsekuensinya telak. Manajemen terpaksa menyerahkan tugas tidak populer ini kepada Marcos Santos. Tim pelatih harus menyeleksi ketat siapa saja yang berhak masuk rombongan ke Bandung.
Jika merujuk pada aturan pertandingan, satu laga hanya butuh 11 pemain inti dan 10 pemain cadangan. Artinya, akan ada sekitar 13 pemain Arema FC yang terpaksa ditinggal di Malang dan hanya bisa menonton perjuangan rekannya lewat layar kaca.
“Mau tidak mau harus seperti itu. Kita harus memilih yang terbaik. Keputusan penuh ada di tangan Coach Marcos untuk menyesuaikan kuota dari panpel,” pungkas Yusrinal.
Bagi Marcos, ini adalah tantangan taktik sekaligus mental pertama musim ini. Memilih 21 atau 22 pemain terbaik dari 34 talenta yang ada tentu bukan perkara mudah. Dari Malang, seleksi alam Singo Edan resmi dimulai. (Ra Indrata)




