DI LANUD: Presiden Prabowo bersama para menteri saat berada di area panen raya tebu di Lanud Abd Rachman Saleh. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Presiden RI Prabowo Subianto, memimpin langsung Panen Raya Tebu TNI di kawasan perkebunan tebu Lanud Abdulrachman Saleh, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pada Jumat (17/7/2026) siang, sebagai bagian dari gerakan nasional untuk mempercepat swasembada pangan dan energi secara mandiri.
Presiden Prabowo Subianto berdiri di tengah hamparan hijau tebu kawasan Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Jumat (17/7/2026) siang. Orasinya meledak-ledak. Khas jenderal. Penuh dengan semangat berdikari.
Presiden datang untuk satu urusan besar: memimpin Panen Raya Tebu TNI.
Bagi Prabowo, ketahanan pangan bukan lagi sekadar tugas rutin Kementerian Pertanian. Itu sudah jadi gerakan nasional. Gerakan hidup mati bangsa. Di Pakis, Presiden memamerkan kekompakan itu. Ada TNI, ada Polri, ada masyarakat. Semua membaur di sawah.
“TNI dan Polri itu anak kandung rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan mereka. Kita harus bahu-membahu dengan langkah nyata,” tegas Prabowo di hadapan ratusan pasang mata warga Malang.
Presiden sadar, mengejar swasembada itu melelahkan. Sampai-sampai Prabowo melontarkan candaan segar. Dia bercerita soal para menteri dan pejabat tinggi yang belakangan ini ambruk dan masuk rumah sakit karena kerja keras mengejar target.
Di lokasi panen, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sempat membisikkan data yang bikin geleng-geleng kepala. Sudah 12 tahun perkebunan tebu kita tidak pernah diremajakan. Mati suri. Pemerintah kini mengambil langkah ekstrem: meremajakan 100 ribu hektar tebu per tahun. Target awalnya rampung empat tahun.
“Tapi Mentan bisik-bisik ke saya, sanggup dua tahun. Saya bilang bagus, asal jangan masuk rumah sakit lagi,” kelakar Prabowo disambut tawa hadirin.
Bagi Prabowo, urusan pangan dan energi ini tidak bisa ditawar. Dia tidak mau Indonesia menjadi bangsa yang santai. Apalagi terus-menerus bergantung pada kasihan bangsa lain lewat jalur impor. Sejarah ratusan tahun kekayaan alam kita dikeruk bangsa asing harus disudahi.
Sikap tegas itu juga diarahkan ke dalam negeri. Presiden memberi peringatan keras kepada para birokrat dan pejabat BUMN yang digaji dengan uang rakyat, tapi masih nekat bermain ilegal. Penertiban besar-besaran sedang berjalan. Mulai dari tambang ilegal, kebun ilegal, hingga permainan dagang yang merugikan masyarakat.
“Saya tidak akan ragu. Tidak ada toleransi bagi mereka yang mencuri uang rakyat,” cetusnya disambut tepuk tangan riuh.
Di tengah situasi dunia yang sedang karut-marut karena perang, Prabowo membawa kabar baik dari Malang. Kondisi ekonomi kita diklaim masih sangat bagus. Bahkan per Juli ini, Indonesia resmi mencetak sejarah menjadi negara nomor satu di dunia yang menghasilkan B50—solar dari kelapa sawit.
“Kita tidak impor solar lagi. Lebih baik uang itu beredar di dalam negeri sendiri,” pungkasnya.
Dari ladang tebu di Pakis, pesan itu bergaung kencang. Indonesia sedang bangkit dengan kekuatannya sendiri. (Ra Indrata)




