MALANG POST – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), menggelar International Guest Lecture, dengan menghadirkan pakar dari Johns Hopkins University School of Medicine Amerika Serikat, Che Matthew Harris, MD, MS, FACP, pada Rabu (8/7/2026). Di hadapan ratusan mahasiswa kedokteran, Harris menegaskan bahwa prasyarat menjadi dokter sukses di kancah global, tidak lagi cukup hanya dengan mengandalkan keterampilan klinis, melainkan wajib ditopang oleh penguasaan strategi komunikasi dan keaktifan membangun jejaring profesional (networking) sejak di bangku kuliah.
Menjadi dokter sukses di kancah global tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan klinis yang mumpuni, tetapi juga memerlukan strategi pengembangan karier melalui jejaring profesional yang kuat.
Penegasan ini disampaikan langsung oleh pakar dari Johns Hopkins University School of Medicine, Amerika Serikat, Che Matthew Harris, MD, MS, FACP, dalam International Guest Lecture Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) yang dihadiri ratusan mahasiswa pada Rabu (8/7/2026).
Dalam pemaparannya, Harris menyoroti bahwa mahasiswa kedokteran harus mulai menyadari perbedaan fundamental antara peran pendidik, mentor, dan sponsor demi menunjang eskalasi karier medis mereka di masa depan.

“Bimbingan, pelatihan, dan sponsor adalah hal-hal yang akan Anda lihat saat Anda melanjutkan karier di bidang kedokteran. Pada akhirnya, Anda akan menjadi seorang mentee yang menerima masukan serta sumber daya untuk mencapai tujuan karier. Di saat yang sama, Anda juga akan mengajarkan generasi dokter berikutnya agar mereka bisa sukses dan berkembang,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa seorang mentor akan selalu mendampingi pertumbuhan profesional dalam jangka panjang serta memberikan umpan balik yang jujur. Sementara itu, pendidik lebih berfokus pada pelatihan keterampilan medis yang bersifat teknis dalam jangka waktu yang lebih pendek.
“Seorang mentor ingin melihat pertumbuhan profesional Anda berkembang seiring berjalannya waktu, ini adalah hubungan jangka panjang. Di sisi lain, pendidik adalah seseorang yang berada dalam hubungan jangka pendek, yang hadir untuk membantu Anda mengembangkan keterampilan klinis tertentu,” paparnya.
Selain kedua peran tersebut, Harris juga menjelaskan tingkatan tertinggi yakni dukungan dari sponsor, yang merupakan tokoh di posisi strategis untuk mengadvokasi dan merekomendasikan seorang dokter pada peran kepemimpinan atau proyek riset. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan mendapatkan relasi prestisius ini sangat bergantung pada proaktivitas, inisiatif, dan cara mahasiswa membawa diri saat berdiskusi.

“Ingatlah sebagai mentee, Anda berada di kursi pengemudi untuk kesuksesan Anda sendiri. Tidak ada yang bisa melakukannya tanpa Anda. Anda harus menetapkan kesepakatan dengan mentor, siapkan agenda yang padat, dan datanglah dengan membawa solusi, bukan sekadar masalah,” tambahnya.
Di samping bimbingan dari senior, Harris juga mendorong mahasiswa untuk membiasakan sistem bimbingan teman sebaya (peer-mentoring) untuk saling bertukar ide dan menjaga akuntabilitas dalam mencapai target akademik sehari-hari.
Pesan krusial dari kuliah tamu ini adalah bahwa kepakaran medis akan jauh lebih berdampak jika didukung oleh kemampuan komunikasi yang efektif dan ekosistem interaksi sosial yang solid. Mahasiswa kedokteran diharapkan tidak hanya cerdas di dalam ruang kelas, melainkan juga proaktif membangun jejaring dan memegang kendali penuh atas tujuan karier profesionalnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




