MALANG POST – Aroma kedelai rebus masih mengepul dari rumah-rumah produksi di Desa Beji, Kecamatan Junrejo. Aktivitas para perajin tempe tetap berjalan seperti biasa. Namun, di balik geliat industri rumahan tersebut, ada beban yang kian berat, yakni harga bahan baku yang terus melonjak.
Desa Beji memang sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil tempe di Kota Batu. Setiap hari, puluhan perajin memproduksi tempe untuk memenuhi kebutuhan pasar di berbagai wilayah Malang Raya.
Kepala Desa Beji, Deny Cahyono, mengatakan bahwa kenaikan harga kedelai impor menjadi persoalan utama yang dihadapi para perajin saat ini. “Sebelumnya harga kedelai masih berkisar Rp9 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram. Sekarang sudah mencapai sekitar Rp12 ribu per kilogram,” ujarnya, Minggu (12/7/2026).
Menurut Deny, para perajin di Beji masih bergantung penuh pada kedelai impor. Selain karena pasokan kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan, kualitasnya juga dinilai kurang cocok untuk produksi tempe. Setiap hari, kebutuhan kedelai untuk industri tahu dan tempe di Desa Beji tidak kurang dari enam ton. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang bergantung pada sektor ini.
“Bahan bakunya memang impor, sehingga sangat dipengaruhi nilai tukar dolar. Kalau dolar naik, harga kedelai ikut naik. Sementara kedelai lokal belum bisa memenuhi kebutuhan dan kualitasnya juga kurang bagus untuk tempe,” jelasnya.
Besarnya kebutuhan bahan baku itu juga berarti banyak warga yang menggantungkan hidup dari industri tempe. Mulai dari pekerja pengupasan, perebusan, fermentasi, pengemasan, hingga distribusi, semuanya menjadi mata rantai ekonomi yang terus bergerak setiap hari. Namun, kenaikan harga kedelai membuat biaya produksi membengkak. Para perajin akhirnya terpaksa menaikkan harga jual agar usaha tetap bertahan.

PENGOLAHAN: Salah satu pengrajin tempe di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu saat melakukan proses produksi tempe di tengah meroketnya harga kedelai. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Deny mencontohkan, satu kotak tempe yang diproduksi dari satu kilogram kedelai kini dijual Rp30 ribu, padahal sebelumnya hanya Rp20 ribu. “Harganya jelas naik. Dulu satu alir atau satu kotak sekitar Rp20 ribu, sekarang sudah Rp30 ribu,” katanya.
Kenaikan harga tersebut tidak sepenuhnya meningkatkan keuntungan perajin. Sebab, berbagai komponen biaya produksi juga ikut naik, mulai dari harga bahan bakar, gas elpiji, biaya transportasi, hingga kemasan.
“Sampai sekarang belum ada penurunan harga. Apalagi kenaikan BBM non-subsidi juga ikut memengaruhi biaya produksi tempe,” imbuh Deny yang juga berprofesi sebagai produsen tempe.
Meski demikian, permintaan pasar terhadap tempe Beji relatif stabil. Tempe masih menjadi salah satu sumber protein favorit masyarakat dan telah menjadi lauk sehari-hari bagi banyak keluarga. Produk tempe dari Desa Beji selama ini dipasarkan ke berbagai daerah di Malang Raya, mulai dari Pasar Among Tani Kota Batu, Pasar Karangploso, Pasar Blimbing, Pasar Gadang, hingga wilayah Pujon, Ngantang, dan Kasembon.
“Permintaan saya kira masih stabil. Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi pekerjaan sehari-hari warga. Konsumsi tempe juga sangat tinggi dan sudah menjadi makanan pokok masyarakat,” ujarnya.
Tidak hanya tempe segar, produk turunannya seperti keripik tempe juga ikut terdampak. Harga keripik tempe kini naik dari Rp60 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram. “Kenaikan ini terpaksa dilakukan karena harga minyak goreng dan bahan pendukung lainnya juga naik,” tambahnya.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, para perajin tetap berupaya bertahan. Beragam inovasi mulai dilakukan, mulai dari menciptakan varian rasa baru hingga memperbaiki kemasan agar produk tempe dan keripik tempe Beji tetap mampu bersaing di pasaran. Bagi warga Beji, industri tempe bukan sekadar usaha rumahan, melainkan denyut ekonomi desa yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Ini sudah menjadi napas warga Beji. Kami berharap ada solusi jangka panjang, terutama terkait stabilitas harga kedelai dan dukungan bagi perajin kecil,” pungkasnya. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




