KOMPAK: Foto bersama usai pelaksanaan apel pagi Gerakan Aman Sehat Resik dan Indah (ASRI), di Alun-Alun Merdeka. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal Zakaria Ali, memimpin apel Gerakan Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jumat (10/7/2026), sekaligus meminta pemerintah daerah menerjemahkan gerakan tersebut, menjadi tindakan nyata. Mulai penanganan sampah hingga penertiban PKL secara humanis.
Apelnya bisa selesai dalam hitungan jam. Sampahnya tidak.
Indonesia menghadapi sekitar 50 juta ton sampah setiap tahun. Karena itu, Gerakan Aman, Sehat, Resik, dan Indah atau ASRI diminta tidak berhenti sebagai seremoni. Tidak cukup hanya apel, menanam pohon, lalu pulang.
Pesan itu disampaikan Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal Zakaria Ali, saat memimpin sekaligus membuka apel Gerakan ASRI di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jumat (10/7/2026).
“Kami berharap kepada daerah, bukan sekadar acara seremonial, tapi melanjutkan dengan komitmen nyata. Salah satunya ikut menekan angka sampah nasional 50 juta ton per tahun. Kita tekan penanganannya dari hulu sampai hilir,” kata Safrizal.
Apel pagi tersebut turut dihadiri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Di sela kegiatan, Safrizal didampingi Wahyu menyerahkan secara simbolis manfaat BPJS Ketenagakerjaan kepada ahli waris anggota Satlinmas.
Ada pula bantuan dua gerobak sampah listrik jenis Gerlis Samson 250 dari Adyawinsa Group.
Setelah apel, kegiatan berlanjut dengan penanaman bibit pohon dan aksi bersih-bersih di kawasan Alun-Alun Merdeka.

REBOISASI: Dirjen Bina Adwil Kemendagri, Safrizal Zakaria Ali, menanam bibit pohon di Alun-Alun Merdeka bersama Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat acara Gerakan ASRI, Jumat (10/07/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Bagi Safrizal, makna Gerakan ASRI lebih luas daripada sekadar menjaga kebersihan. Lingkungan harus tertib, rapi, indah, aman, sejuk, dan sehat. Yang lebih penting: ada kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Ia mencontohkan petugas pemadam kebakaran. Tugas mereka tidak lagi semata-mata memadamkan api. Banyak permintaan bantuan masyarakat yang akhirnya ditangani petugas damkar.
“Petugas damkar mampu tampil solutif di masyarakat. Mereka bisa meringankan beban masyarakat. Kami pun berharap Satpol PP, yang notabene bagian dari Satlinmas, bisa mencontohnya,” ujar Safrizal.
Safrizal juga meminta setiap capaian positif pemerintah disosialisasikan secara luas kepada masyarakat. Sebaliknya, jika ditemukan pelayanan atau tindakan aparatur sipil negara, termasuk Satpol PP, yang tidak semestinya, masyarakat diminta melaporkannya agar dapat dilakukan perbaikan internal.
Gerakan ASRI, menurutnya, harus membawa dampak langsung. Termasuk ketika petugas melakukan penertiban terhadap pedagang kaki lima.
“Berikan edukasi dan lakukan dengan humanis ketika dilakukan penertiban kepada PKL,” tegasnya.
Perhatian juga diarahkan pada wajah kota. Lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan indah tidak bisa dipisahkan dari penataan ruang publik. Termasuk pemasangan reklame.
Safrizal tidak ingin reklame tumbuh semrawut. Seluruhnya harus ditata secara rapi dan sesuai peruntukannya.

PENGHARGAAN: Dirjen Bina Adwil Kemendagri, Safrizal Ali didampingi Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyerahkan penghargaan kepada kader peduli lingkungan di acara gerakan ASRI. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Malang sebagai tuan rumah Gerakan ASRI serentak. Menurutnya, menciptakan kota yang aman dan nyaman bukan hanya pekerjaan pemerintah.
“Kebersamaan Gerakan ASRI serentak ini semoga menjadi motivasi dan kolaborasi dalam bersinergi. Perlindungan masyarakat yang aman dan nyaman tentunya bukan menjadi tanggung jawab pemerintah semata,” kata Wahyu.
Partisipasi masyarakat dan berbagai elemen kota, lanjutnya, menjadi bagian penting untuk mewujudkan kehidupan perkotaan yang lebih baik.
“Pada akhirnya, kami bersama semua elemen masyarakat bisa menghadirkan kehidupan perkotaan dengan berkolaborasi dan berkelanjutan mencapai kota yang mbois berkelas,” pungkasnya.
Gerakan ASRI di Malang pun selesai dengan apel, penyerahan bantuan, menanam pohon, dan bersih-bersih.
Tantangan sebenarnya justru dimulai setelah itu: apakah tetap ASRI ketika tidak ada apel dan kamera. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




