MALANG POST – Jajaran personel Polres Malang bersama Polsek rayon Lawang dan Bhayangkari Cabang Malang, menggelar aksi sosial bakti religi dengan membersihkan tempat ibadah di Vihara Pondok Meta, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jumat (19/6/2026) kemarin. Agenda taktis lapangan yang dipimpin langsung Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, tersebut dilaksanakan dalam rangka menyemarakkan Hari Bhayangkara ke-80, sekaligus menjadi instrumen nyata kepolisian untuk memperkuat semangat toleransi antarumat beragama dan merawat harmoni sosial di tengah masyarakat.
Ulang tahun instansi itu paling mudah dirayakan dengan pesta. Seremonial. Potong tumpeng di dalam gedung yang sejuk, lalu selesai. Tapi Polres Malang tampaknya memilih jalan yang berbeda untuk menyambut Hari Bhayangkara ke-80 tahun ini. Mereka memilih keluar kantor. Membawa sapu, kain pel, dan cangkul.
Tujuannya mulia: membersihkan tempat ibadah. Istilah kerennya bakti religi.
Jumat kemarin, giliran wilayah utara Kabupaten Malang yang disasar. Tepatnya di Vihara Pondok Meta. Sebuah tempat ibadah umat Buddha yang tenang di Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang.
Pasukan yang dikerahkan tidak main-main. Rombongan dipimpin langsung oleh Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi. Sang komandan memboyong para pejabat utama, personel Polsek rayon Lawang, hingga ibu-ibu Bhayangkari Cabang Malang. Begitu tiba di lokasi, pakaian dinas langsung menyesuaikan dengan ritme kerja bakti.

Semua bergerak serentak. Bergotong royong tanpa sekat. Ada yang menyapu halaman luar yang luas, mengelap kaca, membersihkan ruang utama peribadatan, hingga merapikan lingkungan sekitar vihara. Suasananya cair. Penuh kebersamaan.
Bagi Taat Resdi, membawa personel kepolisian untuk membersihkan vihara bukan sekadar urusan membuang sampah atau membuat lantai menjadi mengkilap. Ada pesan simbolis yang ingin diledakkan ke publik: merawat kerukunan.
Polri ingin menegaskan komitmennya bahwa mereka adalah pelindung bagi seluruh lapisan masyarakat. Tanpa memandang latar belakang suku, tanpa membedakan golongan, dan tegak lurus menghormati perbedaan agama.
“Bakti religi ini merupakan wujud kehadiran Polri untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kami ingin momentum Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga diisi dengan kegiatan sosial yang mempererat persaudaraan,” urai Taat Resdi, Jumat (19/6/2026).
Logika Kapolres tepat. Toleransi itu tidak bisa hanya diajarkan lewat teks pidato atau baliho besar di pinggir jalan. Toleransi harus dipraktikkan melalui tindakan nyata yang bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Pemilihan tempat ibadah dari berbagai agama secara bergantian sebagai lokasi bakti religi menjadi bukti otentik komitmen tersebut. Polisi ingin hadir sebagai penyejuk di tengah keberagaman Kabupaten Malang yang rawan digesek isu miring.
Melalui keringat bersama di Vihara Pondok Meta, Taat Resdi berharap sinergi antara korps baju cokelat dan warga sipil makin kokoh. Fondasi kemitraan yang kuat diproyeksikan mampu menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Bumi Arema agar tetap aman, damai, dan kondusif.
Aksi di Lawang ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Bahwa di usia yang sudah matang—80 tahun—Polri dituntut untuk terus tumbuh, mengabdi, dan menyatu dengan napas kehidupan rakyatnya.
“Kami berharap kegiatan sederhana seperti ini dapat menjadi pengingat bahwa menjaga kerukunan dan kepedulian terhadap sesama adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Taat Resdi.
Sapu dan kain pel kini sudah disimpan kembali ke dalam bagasi mobil patroli. Area Vihara Pondok Meta sudah bersih, rapi, dan makin asri. Dari sudut Lawang kemarin siang, polisi tidak sedang memamerkan kekuasaan, melainkan sedang menunjukkan bagaimana cara terbaik menjaga kesucian rumah ibadah sekaligus merawat indahnya harmoni persatuan. (HmsResma/Ra Indrata)




