DIALOG: Bupati Malang, Sanusi, ketika berbincang dengan nakes di UPT Puskesmas Singosari, dalam program Sambang Puskesmas. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM Sanusi, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Malang, Hj. Anis Zaida Sanusi, resmi menggebrak sektor pelayanan publik dengan melaksanakan program “Sambang Puskesmas” secara maraton, di dua fasilitas kesehatan sekaligus. Yakni UPT Puskesmas Singosari dan Puskesmas Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jumat (29/5/2026) pagi. Aksi turun lapangan yang didampingi langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo, ini sengaja dilakukan untuk memelototi sistem loket pendaftaran, ruang pemeriksaan pasien, hingga kecepatan distribusi farmasi guna memastikan masyarakat di wilayah utara mendapatkan hak layanan medis dasar yang cepat, tanggap, dan bebas dari jerat antrean panjang birokrasi.
Urusan pelayanan kesehatan di tingkat bawah itu sensitif. Taruhannya adalah rasa aman dan kenyamanan warga yang sedang ringkih fisiknya. Orang kalau sudah datang ke puskesmas, badannya pasti sedang tidak enak. Kepalanya pusing, atau badannya demam.
Bayangkan jika dalam kondisi menderita seperti itu, mereka masih harus diuji kesabarannya. Berdiri berjam-jam mengantre selembar kertas nomor loket. Lalu duduk berjejalan di ruang tunggu yang pengap, hanya untuk menunggu giliran dipanggil ke meja dokter atau menebus obat di bagian farmasi.
Nasi bisa menjadi bubur. Orang sakit bisa bertambah parah sakitnya, hanya karena sistem administrasi yang lambat dan berbelit-belit.
Logika kemanusiaan inilah yang mendasari langkah kaki Bupati Malang, HM Sanusi, bergerak cepat menjelang akhir pekan ini. Jumat pagi, saat matahari baru saja merekah di langit Singosari, kendaraan dinas orang nomor satu di Kabupaten Malang itu sudah merapat.
Tidak tanggung-tanggung, Sanusi langsung melibas dua titik koordinat puskesmas dalam satu rute kilat. Titik pertama yang disasarnya adalah UPT Puskesmas Singosari, yang berada di area perkotaan padat. Usai membalik lembar catatan di sana, dia langsung tancap gas menggeser kemudi menuju Puskesmas Ardimulyo.
Langkah Sanusi ini tak ubahnya seorang dirigen, yang ingin memastikan semua instrumen musiknya berbunyi dengan nada yang selaras dan merdu. Di tiap sudut ruangan, mulai dari meja pendaftaran yang menjadi gerbang utama, ruang periksa dokter, hingga rak-rak obat di bilik farmasi, diperiksanya dengan saksama.

SERIUS: Di Puskesmas Ardimulyo Singosari, Bupati Sanusi, banyak mendengarkan informasi terkait pelayanan kesehatan. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Matanya jeli melihat alur pergerakan pasien. Jajaran elite Dinas Kesehatan yang mendampinginya pun dibuat sibuk mencatat arahan spontan sang bupati.
“Puskesmas itu adalah garda terdepan, ujung tombak wajah pelayanan Pemerintah Kabupaten Malang di mata rakyat. Sifatnya mutlak: pelayanan kesehatan harus mengedepankan kecepatan, ketepatan, dan keramahan yang tulus.”
“Jangan sampai ada lagi pemandangan warga yang sedang sakit justru terlantar terlalu lama hanya untuk menunggu giliran dilayani. Semua harus bergerak cepat, tanggap, dan humanis,” tegas Bupati Sanusi bertenaga di sela dialognya dengan para kepala puskesmas, Jumat (29/5/2026).
Sanusi sadar betul: kenyamanan ruang tunggu dan kecerdasan sistem digitalisasi antrean adalah kunci utama memotong kejenuhan pasien. Di kedua lokasi tersebut, politisi senior ini menyempatkan diri duduk di kursi tunggu. Berbaur. Mengajak mengobrol ibu-ibu dan lansia yang sedang memegang kartu berobat.
Dia ingin mendengar langsung testimoni murni dari mulut rakyatnya sendiri tanpa ada sekat kepalsuan laporan asal bapak senang (ABS) dari bawahannya. Masukan berharga mengenai pembenahan infrastruktur fisik dan kenyamanan lingkungan puskesmas langsung ditampungnya saat itu juga.
Namun, menyemprot bawahan tanpa memberikan energi penguat tentu bukan gaya kepemimpinan yang bijak.
Usai memelototi kekurangan sarana prasarana, Sanusi berbalik memberikan suntikan motivasi bagi para dokter, bidan, perawat, hingga staf administrasi di garis depan pertahanan kesehatan Singosari tersebut.
“Saya tahu beban kerja di Singosari ini tinggi karena jumlah penduduknya padat. Saya sangat mengapresiasi tinggi dedikasi dan peluh keringat para tenaga medis yang selama ini menjadi benteng pertama kesehatan warga.”
“Jaga terus profesionalisme ini, layani masyarakat dengan sepenuh hati sebagai bentuk ibadah pengabdian kita kepada negara,” tutur Sanusi lembut, menyejukkan hati para nakes.
Anda sudah tahu: jargon pemerataan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas di Kabupaten Malang yang wilayahnya sangat luas ini tidak akan pernah selesai jika pimpinannya hanya betah duduk bersandar di balik meja empuk Balai Kota Kepanjen.
Siasat maraton lewat program “Sambang Puskesmas” ini menjadi pembuktian bahwa Pemkab Malang di tahun 2026 ingin menghadirkan negara secara fisik di tengah denyut nadi warganya.
Ketika sarana fisik puskesmas dibenahi secara bertahap, sistem aplikasi antrean dimodernisasi agar lebih efisien, dan keramahan para medis terjaga, di situlah hak dasar kesehatan rakyat sedang dimuliakan dengan nyata.
Singosari hari ini telah mendapatkan garansi keseriusan itu langsung dari komitmen lisan bupatinya; kini tinggal kita tagih konsistensi para nakes di lapangan untuk menyajikan layanan premium bagi masyarakat kecil tanpa pandang bulu. (PKP/Ra Indrata)




