FOTO BERSAMA : Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., bersama petinggi FKH UB dan tamu undangan, Senin (25/5/2026). (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
MALANG POST – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) kembali menggelar pengabdian masyarakat berupa pemeriksaan hewan kurban dalam rangka Hari Raya Idul Adha 2026.
Sebanyak 960 mahasiswa dan 41 dosen diterjunkan ke berbagai wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Bali.
Pelepasan Tim Pemeriksaan Hewan Kurban digelar di lingkungan FKH UB Desa Kalisongo, Senin (25/5/2026) dengan kehadiran Rektor Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc beserta jajaran dan dekan serta dinas dinas terkait sebagai tamu utama.
Ketua Pengabdian Masyarakat Pemeriksaan Hewan Kurban FKH UB 2026, drh. Yulinar Risky Karaman menjelaskan, tahun ini FKH UB menurunkan sekitar 960 mahasiswa dan 41 dosen yang akan bertugas di berbagai daerah.
Selain Malang Raya, tim juga diterjunkan ke sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Adapun mahasiswa yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali merupakan mereka yang tengah menjalani pendidikan di luar kampus.
Dalam pelaksanaannya, petugas melakukan dua jenis pemeriksaan, yaitu antemortem dan postmortem.
Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum hewan disembelih. Tujuannya untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat, tidak cacat, memiliki usia yang cukup, dan memenuhi syarat sebagai hewan kurban. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan sehari sebelum penyembelihan atau pada pagi hari di hari yang sama.
Sementara itu, pemeriksaan postmortem dilakukan setelah hewan disembelih. Petugas akan memeriksa hampir seluruh organ tubuh hewan. Meski secara teori semua organ harus diperiksa, dalam praktik di lapangan, fokus pemeriksaan diberikan pada beberapa organ utama.
“Mahasiswa akan memeriksa apakah ditemukan abnormalitas, apakah daging layak dimakan, dan apakah organ tertentu perlu dibuang karena tidak layak konsumsi,” ujar Yulinar.

Dari kanan ke kiri, Rektor UB, dekan FHK UB dan Ketua Pengabdian Masyarakat Pemeriksaan Hewan Kurban FKH UB 2026 (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus kesehatan kerap ditemukan pada hewan kurban. Yang paling sering adalah cacing hati, terutama pada sapi. Selain itu, masih ditemukan kasus Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi.
“Tujuan akhir dari pemeriksaan ini adalah memastikan daging sembelihan layak dikonsumsi. Sebelumnya, kami juga memastikan apakah hewan tersebut layak disembelih atau tidak,” tegasnya.
Dalam hal teknis pelaksanaan, terdapat perbedaan antarwilayah. Di Kota Malang, petugas menerapkan sistem jemput bola dengan berkeliling bersama petugas dinas ke 10 hingga 15 masjid atau lebih, tergantung kecamatan dan kelurahan. Kabupaten Malang juga menerapkan sistem serupa.
Kota Batu, Sidoarjo, dan beberapa daerah lain, petugas hanya ditempatkan di satu atau dua lokasi saja, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih intensif dan detail. Tandasnya.
Sementara itu, Dekan FKH UB drh. Dyah Ayu Oktavianie AP., M.Biotech., AP.Vet, mengatakan. Bahwa dengan penerjunan petugas pemeriksa kesehatan hewan dan daging kurban ini, menjadi bukti bahwa UB melalui FKH turut serta untuk dapat memberikan dampak positif dan berdampak untuk masyarakat sekitar.
Apalagi untuk saat ini, FKH UB memiliki sekitar 900 mahasiswa aktif, terdiri dari mahasiswa sarjana dan Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH), yang turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
“Mahasiswa yang ada di berbagai wilayah tetap kami wajibkan membantu pemeriksaan dengan berkoordinasi dengan dinas setempat. Jadi pengawasan tidak hanya di Jawa Timur,” katanya.
Karena menurutnya tantangan di bidang kesehatan hewan masih terjadi, “Disinilah peran dokter hewan. Maka kita antisipasi penularan penyakit pada hewan dengan melaksanakan serangkaian kegiatan workshop hingga menerjunkan relawan,” tutur Dyah.
Rektor UB. Prof. Widodo, keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam pemeriksaan hewan kurban menjadi bentuk nyata manfaat perguruan tinggi bagi masyarakat.
Widodo menilai, pelaksanaan Idul Adha merupakan perayaan bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk perguruan tinggi.
“FKH UB juga punya tugas menjaga masyarakat dari penyakit yang menular dari hewan ke manusia, sekaligus memastikan mutu hewan kurban dan kesejahteraan hewan juga diperhatikan,”
“Ketika kegiatan ini dilakukan dengan baik dan persiapan yang matang, bisa menjadi bentuk pengabdian terbesar untuk nasional,” katanya. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




