MALANG POST – Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), resmi memperketat kewaspadaan dan memperluas pengawasan sanitasi lingkungan di sejumlah fasilitas publik, seperti hotel, restoran, hingga destinasi wisata, guna mengantisipasi potensi penyebaran ancaman maut Hantavirus, Minggu (24/5/2026). Langkah preventif yang dikomandoi oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin ini, digencarkan sebagai benteng pertahanan, untuk menjaga iklim pariwisata tetap aman di tengah tingginya mobilitas jutaan wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu.
Tikus. Di mana ada manusia, di situ hampir pasti ada tikus. Apalagi di tempat-tempat yang perputaran makanannya tinggi seperti hotel, restoran, dan tempat wisata.
Selama ini kita hanya tahu tikus itu menjengkelkan karena suka merusak barang. Paling banter, kita takut pada penyakit kencing tikus alias leptospirosis.
Namun, ada ancaman lain yang jauh lebih mengerikan. Namanya: Hantavirus.
Penyakit zoonosis—artinya menular dari hewan ke manusia—ini tidak bisa diajak kompromi. Jangan sekali-kali dianggap remeh. Jika terlambat dideteksi, virus maut ini bisa menyerang organ vital manusia tanpa ampun.
Mengapa Hantavirus begitu ditakuti?
Dokter Icang Sarrazin membedah langsung bahayanya. Penularannya tidak butuh gigitan langsung dari si tikus liar. Cukup lewat udara.
Urine, air liur, hingga kotoran tikus yang mengering di tempat lembap akan berubah menjadi partikel debu mikroskopis. Begitu debu itu beterbangan di area tertutup dan terhirup oleh hidung Anda, di situlah petaka dimulai.
“Kalau sudah berat, virus ini bisa merusak paru-paru dan fungsi ginjal manusia. Itu yang sangat berbahaya karena memicu gangguan pernapasan serius,” ujar dr. Icang Sarrazin, kemarin.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr Icang Sarrazin. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kota Batu adalah jantungnya pariwisata Jawa Timur. Hotel-hotelnya selalu rami. Restorannya padat setiap akhir pekan.
Kondisi inilah yang membuat Dinkes tidak mau kecolongan. Mereka tidak mau menunggu sampai ada jatuh korban baru sibuk melacak.
Pengawasan kebersihan kini diperluas. Sasaran utamanya: gudang penyimpanan bahan makanan hotel dan restoran, serta sudut-sudut destinasi wisata berwujud ruang tertutup.
Para pengusaha akomodasi nonformal hingga hotel berbintang dikirimi surat peringatan.
Standar sanitasi wajib dinaikkan. Tempat penyimpanan barang tidak boleh lagi dibiarkan berdebu, pengap, dan menjadi sarang empuk bagi koloni tikus liar.
Hingga hari ini, Anda boleh bernapas lega: belum ditemukan satu pun kasus Hantavirus di Kota Batu. Nol kasus.
Meski begitu, dr. Icang menolak bersantai. Manajemen penanganan darurat sudah disiapkan sejak dini. Sedikitnya lima puskesmas dan enam rumah sakit rujukan di seluruh penjuru Kota Batu, sudah disiagakan penuh untuk menghadapi kemungkinan munculnya pasien bergejala mirip suspek.
Masyarakat dan para pelancong pun diimbau mulai mengenali tanda-tanda awalnya. Gejalanya sekilas mirip flu biasa, tapi serangannya mendadak.
“Kalau Anda mengalami demam tinggi secara mendadak, disertai nyeri otot, sendi, tubuh lemas, batuk, hingga sesak napas, jangan ditunda. Segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat agar cepat ditangani,” imbau Icang.
Jurus pencegahannya sebenarnya murah. Sederhana sekali. Kuncinya ada pada Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Warga diminta rajin membersihkan rumah, menutup celah-celah kecil di dinding yang bisa menjadi pintu masuk tikus, dan memakai masker pelindung saat membersihkan gudang yang lama tidak dibuka.
Masker adalah filter terbaik agar debu yang tercemar kotoran tikus tidak terhirup masuk ke paru-paru.
“Kalau berada di tempat berdebu atau kawasan yang padat orang, sebaiknya pakai masker. Itu proteksi mandiri yang sangat efektif,” tambahnya.
Menjaga Kota Batu tetap bersih dan sehat adalah investasi mahal bagi keberlangsungan ekonomi daerah.
Wisatawan harus pulang membawa kenangan indah dan tubuh yang bugar, bukan membawa oleh-oleh virus dari tikus liar yang bersembunyi di sudut kamar penginapan. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




