MALANG POST – Dinas Pendidikan Kota Batu bersama Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batu, resmi meluncurkan gerakan penguatan karakter bertajuk Festival Idul Adha “Operasi Anak Sholeh” bagi seluruh siswa sekolah di Kota Batu, Minggu (24/5/2026). Gerakan edukatif yang diinisiasi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, ini sengaja digulirkan menjelang tibanya Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, guna membentuk fondasi moral, spiritual, serta melatih kedisiplinan dan empati sosial anak-anak sejak usia dini melalui pendekatan aktivitas harian yang menyenangkan di lingkungan keluarga.
Membentuk karakter anak zaman sekarang itu susahnya minta ampun. Tantangannya berat. Ada gawai di tangan mereka yang siap mengalihkan fokus kapan saja.
Kalau hanya mengandalkan hafalan teks di kelas, hasilnya sering kali menguap begitu bel pulang sekolah berbunyi. Pendidikan moral butuh praktik nyata. Butuh ekosistem yang hidup.
Itulah mengapa Dinas Pendidikan Kota Batu membuat terobosan menarik. Namanya agak mentereng, mirip istilah militer: “Operasi Anak Sholeh”.
Namun, Anda jangan membayangkan operasi ini menggunakan senjata atau razia di jalan raya. Ini adalah operasi mental. Operasi hati.
Sasarannya adalah anak-anak sekolah di Kota Wisata Batu agar momentum Idul Adha tidak lewat begitu saja sebagai ritual sembelih hewan kurban tahunan.

DINDIK: Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, membedah langsung logika di balik program ini.
“Tujuannya jelas, mengajak anak-anak menjadi pribadi yang saleh melalui kegiatan nyata selama dua hari berturut-turut sebelum Idul Adha,” ujar Alfi Nurhidayat, Minggu (24/5/2026).
Alfi sadar betul. Sekolah bukan ruang tunggal untuk mendidik anak. Rumah adalah hulu yang sebenarnya. Keterlibatan orang tua adalah kunci mati.
Maka, festival ini didesain masuk ke dalam ruang-ruang domestik rumah tangga. Pendekatannya sederhana tapi menukik langsung ke kebiasaan sehari-hari.
Mulai dari belajar taat pada bapak-ibu, disiplin beribadah, hingga melatih keikhlasan.
Menu utamanya adalah sebuah misi bertajuk: “2 Hari Surga”.
Mengapa disebut berburu surga? Karena anak-anak ditantang untuk menjalankan ibadah Puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah dan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah nanti.
Ini merujuk langsung pada hadis sahih riwayat Muslim, tentang keutamaan puasa sunah tersebut yang mampu menghapus dosa setahun lalu dan setahun ke depan.
Agar anak-anak tidak merasa terbebani saat menahan lapar dan haus, panitia menyisipkan puluhan tantangan harian yang seru.
Aturannya dikemas dalam akronim yang mudah diingat: “OPERASI”.
Nilainya padat. Mulai dari Optimis dalam Ibadah, Patuh kepada Orang Tua, Empati dan Berbagi, Rajin Sholat dan Puasa, Amanah dan Jujur, Sabar dalam Ujian, hingga Ikhlas karena Allah.
Praktiknya di lapangan dibuat sekreatif mungkin. Anak-anak ditantang mengikuti program dua hari tanpa marah.
Mereka juga diajak membuat celengan kurban mandiri, hingga menulis surat cinta yang menyentuh hati untuk orang tua mereka dengan tema: Aku Ingin Menjadi Nabi Ismail Kecil.

Lewat surat cinta itu, anak-anak diajak menyelami kembali kisah legendaris ketaatan mutlak Nabi Ibrahim dan keikhlasan total Nabi Ismail.
Bagi Alfi, kolaborasi antara dinas pendidikan dan Kemenag ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Kota Batu.
Daerah ini tidak boleh hanya melahirkan anak-anak yang pintar secara akademis tapi miskin akhlak.
“Semua yang berkaitan dengan penguatan karakter siswa akan terus kami geber demi pendidikan Kota Batu yang lebih baik. Kami ingin anak-anak kita tumbuh pintar otaknya, tapi juga mulia akhlaknya,” tegas pria yang dikenal visioner dalam menata program sekolah ini.
Manajemen Disdik tidak melupakan faktor psikologis anak: mereka suka diapresiasi.
Bagi anak-anak yang sukses menyelesaikan seluruh misi “OPERASI” ini hingga tuntas, selembar piagam penghargaan resmi yang ditandatangani langsung oleh Kepala Disdik dan Kepala Kemenag Kota Batu sudah disiapkan.
Sebuah kebanggaan yang bisa dipajang di ruang tamu rumah.
Pendaftaran gerakan ini sudah dibuka secara daring melalui tautan resmi https://forms.gle/9xcaSTPyZPBGwmC7.
Mengubah karakter generasi muda memang tidak bisa instan, tapi memulainya dari meja makan dan sajadah di rumah selama dua hari, adalah langkah awal yang sangat berharga untuk masa depan bumi Arema yang lebih religius. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




