DISKUSI: General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi bersama jajaran pelatih, dalam satu kesempatan. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC memberikan respons cepat dan tegas, menyikapi hasil minor dalam laga krusial bertajuk Derby Jawa Timur melawan Persebaya Surabaya.
Bertanding di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Selasa (28/4/2026) malam, skuad Singo Edan kalah telak 0-4 (0-0). Sebuah hasil yang memicu kekecewaan mendalam bagi manajemen maupun suporter setia, Aremania.
Agregat kekalahan itu, menjadi yang terbesar sejak Liga 1 musim 2018 lalu, saat bertemu Persebaya usai skuad Bajul Ijo kembali ke kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Sekaligus memperpanjang rekor tak pernah menang lawan Persebaya, sejak Liga 1 musim 2019 lalu.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan, kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Melainkan menjadi “alarm keras” bagi internal tim.
Manajer asal Bogol ini menyatakan, jajaran manajemen tidak menutup mata atas performa tim yang dinilai jauh dari harapan, pada laga dengan tensi tinggi tersebut. Evaluasi besar-besaran pun langsung dicanangkan, demi menyelamatkan gengsi klub di sisa kompetisi Super League musim 2025/2026.
Komitmen Manajemen dan Tuntutan Profesionalisme
Pria yang akrab disapa Inal ini menegaskan, manajemen berada di barisan yang sama dengan Aremania dalam merasakan kepedihan kekalahan derby. Oleh karena itu, ia menuntut tanggung jawab nyata dari seluruh jajaran pelatih dan pemain.
Menurutnya, profesionalisme harus dibuktikan di atas lapangan. Terutama saat menghadapi laga-laga besar yang mempertaruhkan harga diri klub.
“Kami sangat memahami kekecewaan Aremania. Harapan besar semula ada pada laga derby ini. Terlebih setelah tim menunjukkan tren positif saat melawan Persib Bandung sebelumnya. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain,” ujar Inal kepada awak media pada Rabu (29/4/2026).
Inal menambahkan, tidak ada lagi ruang bagi hasil yang tidak maksimal di sisa musim. Manajemen telah menginstruksikan secara tegas kepada tim agar empat laga tersisa wajib dikonversi menjadi poin maksimal.
Hal ini menjadi syarat mutlak, jika para pemain ingin menunjukkan bahwa mereka layak mengenakan jersei Singo Edan di masa depan.
Kendala Fisik dan Masalah Non-Teknis
Secara objektif, manajemen mencatat beberapa faktor yang memengaruhi performa Alfarizi dan kawan-kawan. Salah satu sorotan utama adalah masalah stamina.
Jadwal Super League yang sangat padat memaksa Arema FC melakoni dua laga big match beruntun melawan Persib dan Persebaya dalam waktu singkat. Kondisi ini diakui sangat menguras fisik para pemain.
Selain faktor teknis, Inal juga menyoroti kendala non-teknis berupa ketidakpastian venue pertandingan. Sebelum laga diputuskan digelar di Gianyar, sempat terjadi dinamika terkait lokasi pertandingan yang berubah-ubah. Hal ini dianggap memecah konsentrasi support system klub serta memengaruhi kesiapan mental dan logistik tim secara keseluruhan.
“Kami berharap hal ini menjadi catatan bagi operator liga ke depannya. Terutama terkait rest period atau jeda istirahat yang ideal bagi tim yang melakoni laga dengan tensi tinggi. Selain itu, kepastian lokasi pertandingan derby sangat krusial bagi kesiapan mental pemain,” papar Inal secara mendalam.
Permohonan Maaf dan Pesan untuk Aremania
Mewakili manajemen Arema FC, Inal menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada Aremania dan seluruh pencinta sepak bola di Malang Raya. Ia mengapresiasi kedewasaan suporter dalam menyikapi hasil ini. Meskipun kecewa, Aremania dinilai tetap mampu menyampaikan kritik secara konstruktif dan menjaga kondusivitas wilayah.
“Kami berterima kasih kepada Aremania yang luar biasa, dalam memberikan dukungan serta tetap respect dengan menyampaikan evaluasi secara elegan. Kami mengajak semua pihak untuk melihat hasil ini murni sebagai persoalan teknis sepak bola yang harus segera diperbaiki,” tambahnya.
Menutup keterangannya, manajemen mengimbau agar kekalahan ini tidak digoreng menjadi isu-isu provokatif yang dapat merugikan keharmonisan tim dan suporter.
Fokus utama klub saat ini adalah introspeksi total, perbaikan kualitas permainan, dan bangkit di laga berikutnya demi menjaga nama besar Arema FC di kancah sepak bola nasional.
Sisa kompetisi akan menjadi panggung pembuktian apakah Singo Edan mampu kembali mengaum atau justru terus terpuruk dalam bayang-bayang kegagalan. (Ra Indrata)




