MALANG POST – Komitmen menghadirkan layanan publik yang ramah bagi semua kalangan kembali ditegaskan Pemkot Batu. Bersama Rumah Inklusi Kota Batu, pemkot meluncurkan Posyandu Inklusi, layanan kesehatan terpadu khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Peluncuran layanan tersebut dilakukan langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman, di Omah Berkah Rangkul, sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Hari Autisme Sedunia.
Peluncuran Posyandu Inklusi ini menjadi langkah baru dalam memperluas layanan kesehatan yang lebih ramah, inklusif dan mudah diakses bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus di Kota Batu.
Wali Kota Nurochman menegaskan, bahwa pembangunan daerah tidak hanya dilihat dari pembangunan fisik semata. Namun juga dari sejauh mana pemerintah memberikan perhatian kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
“Pemerintah harus hadir untuk semuanya. Anak-anak hebat ini memiliki potensi besar yang harus kita dukung bersama. Karena itu layanan kesehatan, pendidikan hingga ruang pengembangan diri harus terus kita perluas,” ujar Cak Nur sapaan Nurochman, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, kehadiran Posyandu Inklusi menjadi salah satu bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, serta meraih masa depan terbaik.
Melalui posyandu tersebut, anak-anak berkebutuhan khusus akan mendapatkan layanan pemantauan tumbuh kembang, konsultasi kesehatan, hingga pendampingan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan mereka.

LUNCURKAN: Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat peluncuran posyandu inklusi di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut Cak Nur juga menyampaikan dukungan pemerintah terhadap pendidikan generasi inklusi melalui program beasiswa 1000 sarjana yang tengah disiapkan Pemkot Batu.
“Melalui program tersebut, mahasiswa berprestasi dari kalangan inklusi akan mendapatkan bantuan pembiayaan uang kuliah tunggal (UKT) hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi,” tambahnya.
Program tersebut diharapkan dapat membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak dari kelompok inklusi. Sehingga memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Selain fokus pada penerima manfaat, pemerintah juga mendorong penguatan kapasitas para pendamping, relawan, serta tenaga pengajar di Rumah Inklusi. Salah satu skema yang didorong adalah Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Melalui skema tersebut, pengalaman para pendamping dalam kegiatan sosial dan pendidikan dapat diakui sebagai kredit akademik di perguruan tinggi.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kualitas pendampingan bagi anak-anak berkebutuhan khusus sekaligus membangun ekosistem pelayanan inklusi yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Pemerintah Kota Batu optimistis kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, dunia usaha, serta masyarakat dapat terus memperkuat upaya mewujudkan Kota Batu sebagai kota ramah anak dan inklusif.
“Dengan hadirnya Posyandu Inklusi, kami berharap tidak ada lagi anak yang tertinggal dalam mendapatkan layanan kesehatan dan pendampingan tumbuh kembang secara optimal,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




