MALANG POST – Pemkot Batu mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi bencana iklim pada 2026. Salah satunya dengan memperkuat sinergi lintas sektor untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, kekeringan ekstrem, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto menegaskan, langkah mitigasi daerah harus selaras dengan kebijakan pemerintah provinsi maupun pusat. Sehingga respons penanganan di lapangan lebih cepat dan terkoordinasi.
“Menghadapi fenomena tersebut, salah satu fokus utama adalah menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat, serta memperkuat kesiapan menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan di kawasan rawan,” tutur Heli, Senin (13/4/2026).
Ia menegaskan, tantangan perubahan iklim tidak bisa ditangani secara parsial. Diperlukan sistem koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, provinsi, hingga pemerintah kabupaten/kota agar langkah mitigasi berjalan efektif.
“Kesiapsiagaan harus dilakukan sejak dini melalui kolaborasi lintas sektor. Mulai dari penguatan mitigasi, kesiapan infrastruktur pendukung, hingga peningkatan kesadaran masyarakat dalam menghadapi potensi bencana,” ujarnya.
Sejumlah langkah taktis mulai disiapkan. Diantaranya pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan satuan tugas penanggulangan bencana di lapangan, hingga kesiapan sarana distribusi air bersih.

PEMADAMAN: Personel BPBD Kota Batu saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan beberapa tahun lalu, menjelang kemarau panjang mitigasi bencana alam tersebut terus diperkuat. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Selain itu, perangkat daerah juga diminta memastikan kesiapan peralatan pendukung, termasuk armada distribusi air bersih dan perlengkapan pemadam kebakaran hutan, agar dapat segera digunakan ketika terjadi kondisi darurat.
Langkah antisipatif ini dilakukan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim kemarau 2026 berpotensi lebih panjang dan kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Data BMKG mencatat hingga akhir Maret 2026 sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026.
BMKG juga memantau potensi berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini. Fenomena iklim global tersebut ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur di atas kondisi normal.
Dampaknya dapat memicu pergeseran pola awan hujan ke arah timur sehingga menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah Indonesia, yang berpotensi memicu kekeringan panjang dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Meski demikian, hingga akhir Maret 2026 kondisi El Niño–Southern Oscillation (ENSO) maupun Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan adanya peluang ENSO berkembang menuju fase El Niño pada semester kedua 2026.
Karena itu, Pemkot Batu memilih mengambil langkah mitigasi lebih awal agar potensi dampak kekeringan maupun bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas sosial, ekonomi dan ketahanan lingkungan di daerah. (Ananto Wibowo)




