Wakil Rektor V UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, SE., M.SI., AK. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Suasana Ramadan di Universitas Brawijaya (UB) kembali dipupuk melalui kultum tujuh menit bakda Zuhur yang rutin digelar sebagai bagian dari pembinaan spiritual bagi sivitas kampus.
Kali ini, tausyiah berlangsung di Masjid Fatahillah, Rektorat Lantai 5 UB, Senin (2/3/2026) dengan narasumber Wakil Rektor V UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, SE., M.SI., AK. Kegiatan ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta sejumlah jamaah kampus lainnya.
Tema yang diangkat Prof. Unti dalam kultum kali ini adalah puasa sebagai alat untuk meningkatkan kontrol diri dan integritas. Ia menegaskan bahwa materi yang disampaikan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan refleksi pribadi untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.
“Pertama tentu yang saya sampaikan itu mengingatkan diri saya sendiri untuk selalu menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik,” ujar beliau di hadapan jamaah yang khidmat.
Dalam kesempatan itu, Prof. Unti mengajak para peserta untuk tidak sekadar merayakan keberadaan bulan Ramadan sebagai rutinitas tahunan, namun menilai kualitas puasa yang telah dilalui selama bertahun-tahun.
Ia membagikan perjalanan panjang hidupnya yang telah menjalani puasa sejak usia kanak-kanak, sambil bertanya, peningkatannya apa sekarang?
Konteks analogi puasa dengan jenjang pendidikan menjadi bagian yang menarik. Seperti halnya kelas yang naik level seiring waktu, puasa pun didorong untuk menghadirkan peningkatan kualitas diri.
Refleksi ini, menurutnya, menjadi krusial agar puasa tidak hanya menjadi tradisi tahunan, melainkan mekanisme pembentukan karakter yang berkelanjutan.
Inti ajaran puasa menurut Prof. Unti tidak sebatas menahan lapar dan haus. Pada lapisan lebih dalam, puasa menuntut kemampuan untuk tidak menyakiti orang lain dan tidak menimbulkan kesulitan bagi sesama tanpa alasan yang jelas.
Dalam konteks pekerjaan maupun kepemimpinan, ia menekankan pentingnya menahan diri dari penyalahgunaan kewenangan dan godaan materi.
Menurutnya, tidak mengambil hak orang lain adalah wujud nyata pengendalian diri yang perlu terus diasah. Ia juga menyinggung sejumlah kasus hukum pejabat yang terjerat akibat gagal mengendalikan diri dari godaan materi.
“Kunci utama puasa adalah ibadah personal antara hamba dan Tuhan,” tuturnya. Meski seseorang bisa saja melanggar puasa tanpa diketahui orang lain, sadar bahwa Allah Maha Melihat menjadi benteng utama menjaga kejujuran.
“Meskipun tidak dilihat orang dan tidak ada yang mencaci, kita tidak makan karena takut kepada Allah. Di situ ada kesadaran bahwa Allah melihat kita,” jelasnya, menegaskan bahwa kesadaran ilahiyah ini lah yang melahirkan integritas sejati yang tak tergantung pada pengawasan eksternal.
Lebih lanjut, Prof. Unti menekankan bahwa puasa membentuk ihsan — kesadaran untuk selalu merasa diawasi Tuhan dalam setiap tindakan. Nilai ihsan dinilai sebagai dorongan kuat untuk menjauhi perilaku menyimpang, sehingga karakter sivitas akademika UB dapat tumbuh seimbang antara kata dan perbuatan.
Menutup tausyiahnya, beliau menyinggung situasi bangsa yang dinilai sedang menghadapi krisis integritas. Menurutnya, masih banyak perilaku yang tidak selaras antara ucapan dan tindakan.
Ramadan, katanya, adalah momentum bagi seluruh sivitas akademika UB untuk melakukan perbaikan diri dan memperkuat kejujuran dalam setiap langkah hidup.
“Hendaknya usai menjalankan Ramadan ini kita selalu berusaha menjaga diri untuk selalu jujur, meski kejujuran itu tidak selalu dilihat dan diapresiasi oleh orang lain,” pungkasnya.
Kegiatan kultum tujuh menit bakda Zuhur ini menjadi salah satu wadah bagi UB untuk terus menumbuhkan semangat spiritualitas di lingkungan kampus, sekaligus menjadi refleksi kolektif tentang bagaimana puasa bisa menjadi pendorong nyata bagi integritas pribadi dan organisasi. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




