Korosi adalah proses berkarat atau rusaknya logam akibat reaksi dengan lingkungan sekitarnya. Masalah ini sering muncul di berbagai sektor industri dan infrastruktur karena dapat menurunkan kekuatan komponen dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.
Salah satu contohnya dapat dilihat pada jembatan yang terbuat dari baja ASTM A36. Meskipun jenis baja ini dikenal kuat dan murah, ketahanannya terhadap karat masih rendah. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya inovasi material yang tidak hanya kuat, tetapi juga tahan lama dan ramah lingkungan.
Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, yang mendorong pembangunan berkelanjutan melalui teknologi baru. Salah satu inovasi yang menjanjikan adalah pelapis pintar berbasis mikrokapsul minyak biji rami, yang mampu “menyembuhkan” kerusakan kecil secara mandiri tanpa perlu perbaikan manusia.

Gambar 1. Struktur Jembatan Berkarat (sumber: Sam Steele, 2024)
Meskipun berbagai metode perlindungan seperti pengecatan, penggunaan inhibitor, dan perlindungan katodik telah diterapkan untuk mengatasi korosi pada infrastruktur baja, efektivitasnya masih terbatas. Cat pelindung mudah rusak akibat goresan dan paparan lingkungan yang ekstrem, sedangkan inhibitor kimia kerap kehilangan kestabilannya dan menimbulkan potensi pencemaran.
Di sisi lain, perlindungan katodik menuntut biaya instalasi dan perawatan yang tinggi, sehingga sulit diterapkan secara luas pada infrastruktur publik seperti jembatan. Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan teknologi antara kebutuhan infrastruktur yang tangguh dan solusi perlindungan yang efisien serta berkelanjutan.
Oleh karena itu, diperlukan inovasi material pelapis yang tidak hanya mampu bertahan terhadap kerusakan, tetapi juga dapat memperbaiki diri secara mandiri demi mewujudkan pembangunan industri dan infrastruktur yang berkelanjutan sesuai semangat SDG 9.

Gambar 2. Minyak Biji Rami
Penggunaan pelapis pintar berbasis mikrokapsul minyak biji rami memiliki potensi besar untuk membantu tercapainya SDG 9, terutama dalam menciptakan infrastruktur yang kuat dan industri yang berkelanjutan. Teknologi ini dapat memperpanjang umur jembatan dan bangunan baja hingga bertahun-tahun lebih lama, sehingga biaya perawatan bisa ditekan dan penggunaan bahan baru dapat dikurangi.
Dampaknya bukan hanya pada efisiensi, tetapi juga pada lingkungan karena emisi karbon menjadi lebih rendah. Selain itu, bahan dasarnya berasal dari tumbuhan, sehingga lebih aman dan mudah diterapkan di berbagai negara, termasuk negara berkembang.
Menurut Andhika “Jika mikrokapsul minyak biji rami ini dikembangkan bersama oleh peneliti, industri, dan pemerintah, teknologi ini bisa menjadi langkah nyata menuju masa depan industri yang ramah lingkungan dan ekonomi yang berputar secara berkelanjutan.”
Inovasi pelapis self-healing berbasis mikrokapsul minyak biji rami membuktikan bahwa solusi berkelanjutan dapat lahir dari pemanfaatan sumber daya alam yang sederhana namun cerdas. Ke depan, sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci untuk mempercepat penerapan teknologi ini pada berbagai infrastruktur vital. Lebih dari sekadar perlindungan material, inovasi ini mencerminkan arah baru dunia industri menuju efisiensi, keberlanjutan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Melalui inovasi seperti ini, kita tidak hanya memperkuat baja, tetapi juga memperkokoh fondasi peradaban yang berkelanjutan. (Andika Ahsan Abdallah)




