Connect with us

Hi, what are you looking for?

headline

Diklat UKM Pagar Nusa, Giat Fisik 10 Jam di Rundown

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Jeifson Sitorus. (ist)

Malang – Masih abu-abu. Ini gambaran apa penyebab kematian dua mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saat mengikuti Diklat UKM Pagar Nusa pekan kemarin. 

Pasalnya, keluarga kedua mahasiswa yang meninggal, tak berkenan dilakukan otopsi. Lebih memilih langsung membawa pulang jenazah ke daerahnya masing-masing. 

Baca Juga ----------------------------

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Jeifson Sitorus menjelaskan: sebenarnya pihaknya telah meminta izin kepada keluarga untuk dilakukan otopsi. Terutama keluarga Miftah Rizki Pratama (MRP) yang dari Bandung. Permintaan itu disampaikan saat ia bertemu keluarga korban di RS Karsa Husada Kota Batu. 

“Namun, saat pihak keluarga datang, mereka tak berkenan dilakukan otopsi. Bahkan membuat surat pernyataan untuk tidak dilakukan otopsi,” jelasnya kepada Di’s Way Malang Post, Senin (8/3). 

Meski begitu, di dalam surat pernyataan itu tertulis: jika kemudian diduga terdapat tindak pidana, bersedia dilakukan otopsi. “Artinya, apabila dalam proses penyidikan kami menemukan tindak pidana. Meski jenazah sudah dimakamkan, akan dilakukan bongkar makam,” ujarnya. 

Mengenai indikasi kekerasan pada dua mahasiswa itu, pihaknya masih melakukan pendalaman. “Tergantung nanti hasil penyidikan kita seperti apa. Jika dalam penyidikan menemukan fakta-fakta tindakan pidana, sudah pasti akan dilakukan otopsi,” jelasnya. 

Jeifson menjelaskan, dari depan Predator Fun Park, peserta menempuh perjalanan ke Coban Rais. Disitu korban sempat wudhu dan sholat Ashar. Namun, untuk korban yang dibawa ke Puskesmas Karangploso, sebelum wudhu sudah pingsan. 

Saat itu, warga dan panitia melarikan ke Puskesmas Karang Ploso. Ketika tiba di puskesmas, korban Faishal Lathiful Fahri (FLF) asal Lamongan. Sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Kemudian dijemput keluarga dan dibawa pulang ke Lamongan. 

Maka, untuk korban ini, pihaknya belum bisa melakukan upaya hukum. Karena harus memastikan identitasnya. Penyidik Polres Batu sudah berangkat ke Lamongan. Untuk meminta keterangan keluarga korban. “Untuk korban dari Bandung, kami bertemu keluarganya di RS Karsa Husada. Sayangnya, pihak keluarga tidak bersedia diotopsi. Jenazah sudah dibawa ke Bandung,” ujar Jeifson. 

Setelah pihaknya mengetahui ada korban meninggal, langsung memastikan kegiatan sudah dihentikan. Kegiatan dimulai Jumat dan selesai Minggu. “Namun saya tegaskan, kegiatan ini sama sekali tidak memiliki izin. Baik dari pihak Coban Rais, dari Kampus, maupun dari pihak kepolisian,” ujarnya. 

Pihaknya menerima laporan,  kejadiannya sekitar pukul 15.00. Setelah itu, minta kegiatan dihentikan. Petugas membagi peserta di dua tempat yang berbeda. 

Kata Jeifson, dua korban itu, waktu kejadiannya tak terlalu jauh. Berawal korban asal Lamongan. Dia terjatuh sebelum wudhu. Setelah itu, panitia mengumpulkan peserta untuk jongkok. Nah ketika panitia menyuruh jongkok, korban kedua dari Bandung terjatuh. Segera dibawa ke RS Karsa Husada Kota Batu. 

“Terkait ada aktivitas fisik berat atau tidak, kami masih melakukan pendalaman. Seperti apa SOP yang dilakukan dalam kegiatan tersebut,” ujar Jeifson. 

Pihaknya akan meminta keterangan dari pihak terkait. Tujuannya, untuk mengetahui apakah alur pelaksanaan yang dilakukan oleh para mahasiswa ini, sudah sesuai standar atau tidak. 

Hingga saat ini (kemarin.red) pihaknya juga masih menunggu laporan pihak medis. Apa penyebab kematian kedua korban. Karena tindakan pertama yang melakukan pihak Puskesmas dan RS Karsa Husada. “Hingga saat ini, hasil rekam medis, secara resmi belum disampaikan ke penyidik,” terang Jeifson. 

Saat ini, pihaknya telah mengamankan sejumlah barang bukti. Seperti, dokumentasi kegiatan, beberapa handphone peserta dan panitia. 

“Nanti akan kita lihat melalui dokumen yang kita amankan ini. Perbuatan-perbuatan riil seperti apa yang dilakukan. Namun untuk sementara waktu ini, kami masih belum bisa menyampaikan,” katanya. 

Untuk mengetahui apakah ada unsur pidana dalam hal ini, pihaknya masih melakukan pendalaman. Namun, berdasarkan rundown acara yang ia lihat, acara itu jika ditujukan untuk manusia normal, sulit untuk diikuti. Karena kegiatan fisiknya, ada yang mencapai 10 jam. (ant/jan)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

Malang Raya

Malang Post – Koramil 0833/ 02 Kedungkandang bersama Muspika menggelar operasi yustisi untuk menegakkan protokol kesehatan covid-19. Ini juga sekaligus melaksanakan PPKM level 2...

Malang Raya

Malang Post – Dandim 0833 Kota Malang Letkol Arm Ferdian Primadhona berupaya terus menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh sebagai imunitas terhadap penyakit dan virus....

Malang Raya

Malang Post — Berbagai macam cara dilakukan Pemkot Batu untuk melakukan percepatan vaksinasi kepada lansia. Terbaru Pemkot Batu bersama Batu Love Garden (Baloga) Jatim Park...

Malang Raya

Malang Post — Semakin melandainya angka kasus positif dan kematian akibat Covid-19, membuat kapasitas Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Saiful...

Malang Raya

Malang Post — Target pendapatan daerah Kota Batu mengalami penurunan sebesar Rp 99,8 miliar. Penurunan target tersebut terungkap saat pembahasan perubahan APBD 2021. Dengan begitu...

ShowBiz

Malang Post — Grup band rock asal Malang, d’Kross, akan berkolaborasi dengan pedangdut terkenal, Clara Gopa (Duo Semangka).  Ini menjawab rasa penasaran para d’Krosser (fans...

headline

Malang Post — Bianglala di Alun-alun Kota Batu mulai berputar kembali, Jumat (22/10/2021) tepat pukul 13.00 WIB. Setelah mati suri selama tiga bulan karena penerapan...

Malang Raya

Malang Post — Tepat pada Jumat (22/10/2021) adalah Hari Santri Nasional. Pandemi Covid-19 belum usai, tapi peran santri di Indonesia sangat besar untuk memajukan Indonesia....