Connect with us

Hi, what are you looking for?

Dahlan Iskan

Kantong Plastik

Oleh: Dahlan Iskan

Topik seminar di Zoom ini awalnya soal marketing. Yang mengadakan memang MarkPlus. Tapi, karena pembicaranya saya, Hermawan Kartajaya, bos MarkPlus, minta topiknya diubah: pengalaman saya menjadi pasien Covid-19. Ini jadwal lama. Sebelum saya kena Covid. Tiap hari MarkPlus bertanya: apakah saya masih bisa memenuhi jadwal itu. Akhirnya bisa: dari kamar rumah sakit ini. Rupanya beberapa peserta zoominar juga baru sembuh dari Covid-19. Seperti Dino Patti Djalal, mantan Wamenlu dan Dubes RI di AS itu. Maka, banyak pertanyaan justru di sekitar Covid-19. Untung ada dr Fathema Djan Rachmat di forum itu. Saya minta beliau saja yang menjawab. Terutama yang sangat teknis-medis.

Baca Juga ----------------------------

Enam tahun saya tidak bertemu dr Fathema. Begitu sering, dulu, saya rapat dengan beliau. Sampai saya hafal teori-teori manajemen rumah sakit hasil pemikirannyi. Salah satunya: ”Rumah sakit itu baru efisien kalau jumlah tempat tidurnya paling sedikit 1.000.”

Dokter Fathema (alumnus Universitas Indonesia) sekarang sudah menjadi Dirut holding rumah sakit BUMN. Dengan total kapasitas 6.000 kamar. Ada juga yang menyinggung soal alat tes Covid yang ditemukan Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, itu. Yang saya tulis di Disway dua hari lalu. Konon ada masalah besar: teknis peniupannya sulit. Yakni, ketika orang harus meniupkan udara ke dalam kantong plastik. Banyak yang gagal.


dr Fathema Djan Rachmat

Saya pun melakukan klarifikasi ke penemu alat itu: Prof Dr Kuwat Triyana. Benarkah demikian. Saya telanjur berharap banyak: GeNose yang ditemukan Prof Kuwat itu bisa menyelesaikan banyak hal di bidang testing Covid-19.

”Kasus gagal tiup itu terjadi ketika uji coba masih di tingkat awal,” ujar Prof Kuwat kemarin. ”Itu terjadi di bulan Oktober-November 2020,” tambahnya. Waktu itu, katanya, yang digunakan adalah kantong plastik biasa. Orang meniupkan udara ke kantong itu. Lalu, plastiknya di-pluntir, diikat. Ketika udara itu dimasukkan ke alat GeNose, tidak bisa dibaca lagi. Itu sudah diperbaiki. Sudah ada pemasok kantong plastik yang memenuhi syarat. Kantong plastik yang standar medis. Bukan standar makanan. Sudah dilengkapi kunci penutup

Penyempurnaan tidak hanya di kantong plastik. Juga di prosedur tes. Alat itu ternyata baru bisa bekerja kalau ditempatkan di lingkungan yang tepat. Yakni, yang udara sekitarnya bersih. ”Di teras atau di bawah tenda adalah yang terbaik,” ujar Prof Kuwat. ”Jangan di ruangan yang berdekatan dengan bahan-bahan kimia,” tambahnya.

Maka, belakangan Prof Kuwat menambahkan sensor di alat itu. Begitu sensornya hijau, berarti udara sekitarnya ideal untuk GeNose. Ada lagi: GeNose baru bisa berfungsi setelah 30 menit di-”on”-kan. Untuk menunggu suhu di dalam alat itu mencapai 300 derajat Celsius. Kalau dinyalakan langsung dipakai, hasilnya tidak akurat.

”Tiga hal itu sudah kami koreksi,” ujar Prof Kuwat. Sudah ideal, katanya. nilah tes Covid cara baru: pakai udara dari mulut. Dalam tiga menit ketahuan hasilnya. ”Pertamina sudah memesan 500 unit,” ujar Prof Kuwat. Pertamina memang sudah menggunakan GeNose. Lima buah. Di Pertamina Logistik di Sunter, Jakarta. Di situ tiap hari Pertamina harus mengetes 400 orang. Yakni, mereka yang datang dan pergi ke anjungan sumur minyak di lepas pantai. Dengan GeNose itu tidak masalah lagi. Apalagi, biayanya begitu murah: sekitar Rp 35.000/orang.

Ternyata UGM sendiri yang akan memproduksi GeNose. UGM memang punya perusahaan komersial. Untuk memproduksi temuan-temuan universitas itu. Khusus GeNose tersebut, yang memproduksi adalah PT Swayasa Prakarsa, 100 persen sahamnya milik UGM. Masih ada PT-PT lain di UGM. Untuk mengomersialkan penemuan yang lain lagi. Direktur Swayasa Prakarsa adalah alumnus fakultas farmasi 1991: Bondan Ardiningtyas. Putri Wonosobo. Saya pernah rapat dengan Bu Bondan enam tahun lalu. Di Jakarta. Juga di Jogja.

Selain GeNose, Bu Bondan juga akan memproduksi ventilator ICU. Juga temuan UGM sendiri. ”Sekarang masih tahap uji coba klinis,” ujar Bu Bondan kemarin. Saya lega mendapat penjelasan itu. GeNose harus berhasil. Ia akan jadi game changer penanganan Covid-19 di Indonesia. Saya jadi ingat Tiongkok. Di sana penemu mendapat saham di perusahaan yang memproduksi penemuan seperti itu. Setidaknya 5 persen. Prof Kuwat hanya tertawa lebar ketika saya tanya soal itu. Saya memang hanya bertanya. Saya juga sudah tahu jawabnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

headline

Malang Post — Beredar video penghadangan anggota Polri yang menjaga jalur masuk pantai di Malang Selatan. Video berdurasi 23 detik dengan penampakan rombongan diduga dari...

headline

Malang Post — Terkait viralnya video rombongan gowes yang diduga pejabat Pemkot Malang di berbagai medsos, karena masuk lokasi wisata pantai Malang Selatan, sebenarnya...

News

Malang Post – Kakek Samin (70) yang hilang di hutan Cungkup, tercatat pernah hilang dan pulang dalam kondisi sehat tahun 2020. Kali ini harapan besar...

Kesehatan

Malang Post – Kehadiran tikus rumah jelas sangat mengganggu. Tidak hanya bisa merusak barang-barang dan mengotori rumah, hama ini juga berpotensi menjadi agen penyebar...

headline

Malang Post – Dalam rangka percepatan Herd Immunity, Universitas Negeri Malang (UM) kembali sukseskan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 jenis Sinovac dosis pertama dan kedua yang ditujukan...

Pendidikan

Malang Post — SMAN 1 Sumberpucung berkomitmen mendukung pemerintah menangani pandemi Covid-19 yang belum mereda. Salah satunya melalui program vaksinasi remaja. Menggandeng Puskesmas Sumberpucung, vaksinasi dosis...

Ekobis

Malangpost – Kegiatan transfer uang antar bank merupakan salah satu jenis transaksi yang sering dilakukan oleh nasabah bank. Dalam kegiatan perbankan yang satu ini,...

Malang Raya

Malang Post – Hutan Kota Malabar menjadi pusat kegiatan aksi bersih-bersih yang diinisiasi jajaran Kodim 0833 dalam hal ini Koramil Klojen pemangku wilayah. Tidak...