Connect with us

Hi, what are you looking for?

News

Anwar Sudarmadi Sudah 30 Tahun Jadi Singo Edan

Anwar Sudarmadi. (dmp)

Malang – Boleh jadi maskot Arema dengan performance Singo Edan, yang dibawakan Anwar Sudarmadi, adalah yang tertua. Dari 17 maskot tim-tim kontestan Liga 1 2020. Baik saat ditampilkan di Stadion Gajayana Kota Malang, maupun di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Pria yang akrab disapa, Pakde Singo tersebut, sudah memerankan sosok maskot Singo Edan, sejak Arema berkompetisi pada akhir era Galatama (XI) 1990/1992 silam. Dan terus berlangsung hingga Liga 1 2020 ini.

Baca Juga ----------------------------

Praktis sudah 30 tahun, pria kelahiran Malang, 2 September 1956 tersebut, seakan tak tergantikan. Sangat familiar di kalangan publik sepak bola Malang Raya. Terutama di komunitas Aremania dan Aremanita. Bahkan tak tergantikan dibanding pemain dan pelatih, yang silih berganti keluar-masuk sejak 1990 hingga saat ini.  

Meski dalam tiga musim terakhir, mulai bermunculan tiga maskot Singo Edan pendatang baru. Namun publik sepak bola Malang, lebih familiar dengan sosok Anwar Sudarmadi.

Sosoknya yang tinggi dengan fisik gempal, juga selalu murah senyum. Baik ke pendukung lawan maupun utamanya Aremania. Itu menjadi salah satu ciri khasnya. Maklum Anwar sebelumnya adalah mantan gelandang serang tim sepak bola lokal Malang, PS RSM (Rukun Santosa Muda Malang) era tahun 1980-1983.

‘’Model kostum dan topeng Singo Edan ini, sudah ada sejak tahun 1990. Dalam 30 tahun, saya sudah ganti lima kali. Walaupun lima kali diganti, tapi model dan tampilannya tetap sama, seperti awal dibuat 1990. Saya sendiri yang membuat dengan bahan-bahan seadanya,’’ tutur Anwar Sudarmadi, saat bertutur kepada DI’s Way Malang Post, kemarin.

‘’Untuk topeng kepala Singa ini, beratnya 1,5 kilogram. Memang dalam tiga musim terakhir sejak 2018, ada tiga maskot Singo Edan pendatang baru. Tapi saya tetap pede dengan diri sendiri dan tampilan maskot ini. Bedanya saya selalu memasang lambang burung Garuda Pancasila dan bendera Merah Putih. Saya kagum dan selalu mendukung NKRI selamanya,’’ tuturnya.

Buru-buru pria penggemar bakso dan es degan itu menggarisbawahi. Sejak tahun 1990 hingga saat ini di Liga 1 2020, setiap akan bertugas membawakan maskot Singo Edan, dia selalu membeli tiket, seperti layaknya penonton yang lain. Untuk bisa masuk ke Stadion Gajayana Malang atau Stadion Kanujuruhan, Kepanjen.

Dia tak hanya hilir mudik dengan performa mascot Singo Edan, dari settle band sektor barat stadion, utara, timur dan selatan. Namun juga ikut berjibaku, menenangkan penonton jika terjadi keributan atau kerusuhan. Termasuk mengimbau tak melempar benda-benda yang diharamkan regulasi manual liga.  

‘’30 tahun dan ratusan pertandingan Arema di Malang, tidak pernah sekalipun secara cuma-cuma saya masuk area dalam stadion. Baik saat Arema bermain di Stadion Gajayana mauupun Stadion Kanjuruhan. Tidak ada istilah gratisan bagi saya,’’ tegasnya.

‘’Peran maskot Singo Edan ini, saya lakukan tulus sebagai bentuk cinta Arema. Tanpa bayaran. Ya sudah 30 tahun. Sudah berapa pemain dan pelatih yang saya kenal, sampai lupa. Selama 30 tahun itu pula, sebelum pertandingan saya selalu foto bareng tim,’’ tegas Pakde Singo.

Anwar Sudarmadi juga mengakui, membutuhkan perjuangan tidak ringan untuk berangkat dari kediamannya ke stadion. Terlebih sejak Arema berkandang di Stadion Kanjuruhan tahun 2005 lalu.

Untuk usianya yang sudah tak muda lagi, jarak 30 kilometer dari kediamannya di Jalan Candi, Blok 2 RT 9 RW 2 Klaseman, Kelurahan Karangbesuki Kecamatan Sukun Kota Malang, ke Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, tidaklah mudah. Namun rasa cinta dan kebanggaannya pada tim, mengalahkan rasa letih.

‘’Tahun 1990 hingga 2004, Arema masih berkandang di Stadion Gajayana. Masih dekat dari rumah. Hanya lima kilometer. Tapi sejak 2005 sampai saat ini, kandang Arema pindah ke Stadion Kanjuruhan, di Kepanjen, Kabupaten Malang.’’

‘’Ya jauh juga naik sepeda motor 30 kilometer untuk usia saya, yang tidak lagi muda. Tapi saya tidak peduli itu. Termasuk ketika cuaca di dalam stadion panas atau hujan. Saya tetap berdiri di lintasan lari. Tapi kalau tidak ada pertadingan, ya saya kembali kerja. Kebetulan membuka bengkel sendiri dan tempat cuci sepeda motor,’’ tegas pengidola Bung Karno itu. (act/rdt)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

Malang Raya

Malang Post – Dalam rangka menyambut peringatan HUT TNI ke-76 Tahun 2021, Korem 083/Bdj beserta Kodim 0833/Kota Malang secara serentak melaksanakan Bakti sosial berupa...

headline

Malang Post- Soal kasus rombongan “Gowes”  Walikota Malang, Sutiaji dan jajaran OPD ke Pantai Kondang Merak, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang Minggu (19/9) lalu, memang sudah...

Malang Raya

Malang Post – Bupati Malang Drs HM Sanusi MM pernah menjanjikan akan memberikan dana ekstra kepada 378 Desa dan Kelurahan di Kabupaten Malang sebanyak...

Malang Raya

Malang Post – Stiker Presiden RI Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo serta tulisan ajakan memakai masker terpampang jelas di mobil dinas milik...

News

Malang Post — Kabar duka dari Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, Kamis (23/9/2021) sore. Seorang mahasiswa semester akhir, tewas akibat mengalami kecelakaan di Bululawang....

Pendidikan

Malang Post — Dinas Pendidikan Kabupaten Malang melalui Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat menggelar training of trainer (TOT) bagi guru PAUD.  Temanya:...

Malang Raya

Malang Post — Angin kencang, Kamis (23/9/2021) jelang petang menghempas wilayah Desa Sumbersuko, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Satu rumah rusak berat sementara 5 lebih lainnya...

Pendidikan

Malang Post — Pengabdian kepada masyarakat, bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan seluruh dosen di Indonesia. Termasuk dosen Universitas Negeri Malang melalui Lembaga...