Connect with us

Hi, what are you looking for?

Opini

Globalisasi Dan Akhir Tradisi?

Dari remaja-remaja zaman sekarang berpakaian ketat sampai anak-anak yang tak kenal istilah bergotong royong, globalisasi telah mengancam tradisi Indonesia akibat pengaruh besar dari Dunia Barat. Kini, banyak pemuda sudah mulai melupakan adat dan budaya Indonesia, lebih memilih mengikuti budaya yang sekarang dianggap keren dan trending. Meskipun begitu, pemerintah masih belum mengambil tindakan untuk mempersiapkan bangsa Indonesia dalam menghadapi globalisasi.

Globalisasi berpengaruh dalam semua aspek negara, baik dari ekonomi, sosial dan budaya, pariwisata, politik dan lainnya. Ini juga berlaku bagi dampak negatif globalisasi. Beberapa contohnya adalah munculnya kesenjangan sosial, penguasaan modal oleh negara asing, dan berkurangnya subsidi oleh rakyat. Namun, yang harus kita pentingkan adalah dampak globalisasi pada tradisi di Indonesia. Semakin globalisasi berkembang, semakin banyak masyarakat Indonesia yang kehilangan kesadaran akan budaya dan tradisi Indonesia.

Baca Juga ----------------------------

Meskipun masyarakat Indonesia mendapat banyak manfaat dari globalisasi, kita tak bisa mengabaikan efeknya pada anak-anak dan remaja kita. Globalisasi menyebabkan pertukaran informasi dan budaya terjadi dengan cepat sehingga memberikan pengaruh antara negara yang satu dengan yang lain. Ini menyebabkan kebudayaan barat untuk bisa menyebar cepat dan memengaruhi kebudayaan lokal di negara berkembang. Hanya di Indonesia dimana masyarakat berpikir bahwa barang dari negara asing atau barang import jauh lebih baik daripada barang local. Ini menimbulkan berkurangnya rasa cinta kepada negara dan memudarkan rasa nasionalisme.

Karena perkembangan globalisasi, menurut artikel ‘Agar Globalisasi Tidak Mengubah Tradisi Masyarakat Indonesia’, banyak masyarakat kehilangan sifat kekeluargaan dan gotong royong, hilangnya nilai-nilai budaya, kehilangan kepercayaan diri, dan banyak pemuda-pemuda jaman sekarang yang terpengaruh dengan dampak globalisasi tersebut yaitu banyak pemuda-pemuda di jaman sekarang yang terpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya yang mengikuti gaya berpakaian, gaya rambut, dan gaya hidup kebarat-baratan salah satunya gaya berpakaian para remaja yang menggunakan pakaian mini dan ketat telah menjadi trend di lingkungan anak muda.

Banyak tren pakaian yang ada di luar negeri itu menyimpang moral dan etika busana Indonesia, yang pakaian adatnya tertutup dan konservatif. Dengan adanya pengaruh globalisasi, adat busana Indonesia sedikit demi sedikit mulai dilupakan oleh masyarakat, terutama dikalangan remaja dan anak – anak muda. Anak – anak zaman sekarang lebih memilih untuk berpakaian ketat dan terbuka untuk memperlihatkan garis tubuh atau bahkan menampakan bagian anggota tubuh.

Bangsa Indonesia terdiri atas banyak suku, tradisi dan budaya, namun kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang lebih memilih menonton film Hollywood atau drama Korea. Saya sendiri dan teman-teman saya lebih suka menonton film-film impor. Saat ini banyak anak-anak muda kurang mengenal kesenian tradisional seperti karawitan, gamelan, dan juga wayang baik itu wayang kulit, wayang orang maupun wayang golek, mereka (anak muda) lebih senang dengan kesenian dan tradisi luar yang tidak jelas benar dari mana asalnya, kata Sri Handayani, S.Pd, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Sabtu, menurut artikel ‘Anak Muda Ogah Melirik Seni Tradisional’. Mengapa? Karena budaya barat dan modernisasi merupakan konsumsi anak-anak pada zaman sekarang. Dari kecil biasanya kita diberi tahu bahwa barang import lebih berkualitas bagus dibandingkan barang local. Ini mengakibatkan terbentuknya pola pemikiran bahwa budaya negara lain selalu lebih baik daripada budaya kita sendiri.

Ketika ditanya pendapatnya oleh Presiden Joko Widodo terhadap komunitas kreatif di Indonesian Convention Exhibition, selaku pelaku ekonomi kreatif atas nama Luky Kuswandi menjawab bahwa peminat film di Indonesia masih kurang dan kualitas image berkurang karena kemampuan dari sumber daya manusianya. Seperti dengan hal lain, warga Indonesia menganggap barang impor selalu lebih baik dibandingkan barang lokal, dan itu juga termasuk dalam dunia hiburan. Saya dulu juga menganggap bahwa film Indonesia pasti kalah akan film impor dalam segi cerita, sinematografi, SFX dan lainnya. Sehingga jika diajak nonton film lokal, sering kali saya menolak. Akhir-akhir ini, Indonesia sudah banyak berkembang dalam dunia film dan hiburan, tetapi sayangnya masih banyak anak dan remaja yang memiliki pola pikiran bahwa barang produksi lokal berkualitas rendah.

Di Amerika Serikat, masyarakat mereka memiliki sikap individualisme, yaitu satu filsafat yang memiliki pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggung jawab dan kebebasan sendiri. Dalam kata lain, mereka lebih mementingkan kehendak pribadi. Hal yang sama tak bisa dikatakan untuk Indonesia. Budaya Indonesia adalah kebersamaan, seperti yang dicontohkan pada salah satu ciri khas bangsa Indonesia yaitu bergotong-royong. Bagaimanapun pengaruh globalisasi yang mampu melahirkan gaya hidup baru yang seharusnya menjadikan masyarakat Indonesia tidak menghilangkan ciri khas kepribadiannya. Yang dulunya suka ramah dan sopan, sekarang masyarakat Indonesia, lebihnya masyarakat kota, bersifat egois dan tak peduli kepada orang lain.

Menurut artikel ‘Mewabahnya Sikap Individualisme Pada Masyarakat Indonesia dan Mengatasinya’, beberapa sikap yang menggambarkan sikap individualisme adalah kurangnya komunikasi antar satu orang dengan individu lainnya yang ada disekitarnya, kurangnya kepedulian terhadap kepentingan orang lain yang ada di sekitarnya, dan Minimnya interaksi dengan orang lain, seperti tetangga disekitar rumah, rekan kerja yang biasanya paling sering bertemu dan bertatap muka.

Di hadapan era globalisasi, kita harus mencari cara untuk menetapkan sikap nasionalisme masyarakat Indonesia agar bisa menjaga kesatuan NKRI. Pada zaman sekarang, kebanyakan anak-anak masyarakat Indonesia diberi tahu bahwa barang dan ajaran luar negeri lebih bagus dari pada di dalam Indonesia. Memiliki pandangan positif dan optimis pada bangsa dan negara merupakan sikap nasionalisme yang bisa ditanamkan pada anak sejak dini.

Sebagai warga negara Indonesia, anak-anak harus diperkenalkan kepada beraneka ragam budaya dan sejarah Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia kaya akan adat istiadat dan warisan budayanya.  Dengan memperkenalkan budaya, anak akan semakin mengenal Indonesia dan sikap nasionalisme nya akan bertumbuh. Yang sama bisa dikatakan bagi sejarah Indonesia. Anak-anak bisa diceritakan mengenai kisah para pahlawan Indonesia yang mengorbankan dirinya demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan mengajarkan mereka sejarah bangsa Indonesia, anak akan belajar untuk mencintai tanah air sendiri dan mengembangkan sikap nasionalisme.

Pemerintah berencana untuk memajukan strategi membawa kebudayaan dan kesenian Indonesia ke dalam sekolah-sekolah untuk memperlihatkan sikap nasionalisme mereka. Strategi tersebut masih dalam proses perangkuman sehingga belum diterapkan. Menurut Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, aksi harus diambil agar budaya asli Indonesia tak luntur.

Salah satu cara bisa dipraktikan pada sehari-hari adalah dengan menggunakan produk negeri. Dari dulu cara pemikiran kita selalu produk impor berkualitas tinggi, sehingga ketika terdapat barang baru yang diproduksi di Indonesia, kita langsung anggap barang tersebut tidak berkualitas. Pemikiran tersebut salah, sebab zaman sekarang banyak produk Indonesia yang sudah canggih, dan bahkan mendunia. Mau dari makanan, baju, hingga perawatan muka, sekarang Indonesia tak kalah kualitas dibanding produk dari luar negeri. Dengan menganjurkan anak-anak untuk menggunakan produk lokal, pemikiran anak akan pelan-pelan berubah menjadi pemikiran yang bersikap nasionalisme.

Menurut saya, hal yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah adalah pariwisata Indonesia. Indonesia terbuat atas ribu-ribuan pulau yang masing-masing memiliki budaya dan tradisi sendiri. Banyak orang yang memikirkan untuk berlibur pergi ke Hawaii atau Maldives. Tapi apakah kalian tahu bahwa di Indonesia ada beberapa tempat yang pemandangannya tak kalah dengan Amerika? Kita memiliki Raja Ampat dan Pulau Derawan, dua destinasi yang akan memberi pengunjung kesan Maldives atau Hawaii. Dengan mengunjung tempat-tempat seperti ini, kita akan melihat keindahan Indonesia dan meningkatkan rasa nasionalisme kami.

Penulis : Kimberly Phwa (Surabaya)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

Malang Raya

Malang Post – Polres Malang menggelar pemilihan Duta Lalu Lintas 2021 di Gedung Satpas Polres Malang, Jum’at (24/9/2021). Kapolres Malang AKBP R Bagoes Wibisono bersama...

headline

Malang Post – Anggota Komisi I DPR RI dapil Malang Raya, Kresna Dewanata Phrosakh menanggapi persoalan tersebut. Menurutnya,Jika dinilai dari sisi historis Kabupaten Malang...

headline

Malang Post — Tersangka pembunuh Ratna Darumi (56) warga Jl Emprit Mas, RT 04/RW 10, Kelurahan/Kecamatan  Sukun, Kota Malang telah ditetapkan Polresta Malang Kota. Pelaku...

Malang Raya

Malang Post – Dalam upaya mencegah penyebaran virus Covid-19kegiatan vaksinasi terus gencar dilaksanakan di wilayah Kota Malang. Terkait upaya tersebut Pemerintah Daerah melaksanakan Vaksinasi...

Malang Raya

Malang Post – Wakil Walikota Malang, Ir H Sofyan  Edy  Jarwoko, memberi apresiasi pada FKUB Kota Malang yang menggelar dialog umat beragama di Hotel Tugu...

Malang Raya

Malang Post – Guna kelancaran kegiatan Vaksinasi di wilayah Kota Makang, TNI/POLRI dan Tim Satgas Covid-19 Kota Malang melaksanakan pengamanan dan pemantauan jalannya vaksinasi...

Malang Raya

Malang Post – Dialog kerukunan diselenggarakan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Malang di Hotel Tugu Kota Malang, Sabtu (25/9/2021). KH Taufik Kusuma, Ketua...

Malang Raya

Malang Post – Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) meraih penghargaan Kategori Tourism & Creative Campaign Award 2021 dalam acara...